Standar Lelah itu Kita yang Bikin




“Kamu pernah engga sih ngerasa capek dan pingin rehat gitu ?”
Well, thaaaat question had been intimidated me so looooong. But thanks anyway.

Memang engga sedikit temen-temen yang menanyakan hal di atas, awalnya biasa aja, tapi lama-lama jujur eneg juga (piss wkwk). Maksud gue, gara-gara sering ditanyain begitu yang padahal niatnya baik banget tapi buat tipikal orang yang engga suka mendapatkan semacam social attention itu bikin engga nyaman personally hehe.

Karena balik lagi, apapun keputusan dan hal-hal yang berkaitan sama hidup yang paling tau dan kenal diri gue ya gue, selama masih melakukan hal-hal yang menurut kalian itu bikin capek berarti itu masih under capability banget. Dan rasanya cukup menarik untuk sedikit cerita tentang standar lelah maksimal yang bisa diterima setiap orang dimana range-nya macem-macem kan.

Sebenernya gue ngga secara instan bisa jadi orang yang yaa bisa dibilang tough kayak sekarang. Prosesnya panjang banget, dan baru-baru ini gue sadar ternyata kejadian-kejadian dua tahun terakhir bener-bener berhasil ngebentuk diri gue.

2018 : Segala Kepahitan Hidup Terjadi

Subtitlenya mendramatisir banget hmmmm.

Sebenernya benci banget harus mengingat banyak hal tentang 2018 (Tuhan bukan bermaksud tidak bersyukur). Tahun 2018 adalah tahun berat, bukan karena krisis ekonomi akibat Lehman Brother ya. Alhamdulillah 2018, sambil preparing beasiswa studi lanjut, gue keterima kerja di perusahaan swasta di Kota sendiri.

Sekitar bulan Januari, Ibu terserang paru-paru basah,dirawat sekitar satu bulan di Rumah Sakit. Saat itu jadi momen yang berat banget buat keluarga, karena seorang Ibu adalah cahaya bagi kami. Sempat dinyatakan sembuh dan semua kembali normal. Selang beberapa bulan, Ibu harus sakit kembali, dan kita engga tahu secara tepat penyakitnya, medis bilang Ibu baik-baik aja, dan segala pengobatan alternatif kita usahakan bareng bareng.

Di saat-saat kritis itu, gue kudu ngantor jam 9 pagi, pulang jam lima sore, lanjut magrib untuk ngasih kursus privat, karena jujur keuangan keluarga lagi krisis, dan kami tidak ingin pengobatan Ibu terhenti.

Nenek sering menginap di rumah kami membantu merawat Ibu, namun seringkali gue juga harus bergantian nyuapin Ibu, dan memandikan beliau, mengganti popok dan sebagainya sebelum ngantor. Rasanya engga lelah sama sekali, tapi secara mental menderita banget melihat orang tua kita semakin lemah setiap harinya.

Selama kurang lebih satu tahun semua berjalan demikian, kita saling menguatkan. Bahkan di saat yang sulit itu, Ibu sering kali menggenggam tangan anaknya sambil bilang bahwa Aku selalu kuat.
Tuhan kasih hadiah beasiswa studi lanjut namun November 2018, Ibu harus pergi.

Gue engga bisa cerita lebih jauh lagi, karena jujur engga nyaman memang cerita soal keluarga, dan agama. Itu prinsip hidup yang gue jalanin. Tidak share tentang mereka di sosial media, engga akan sama sekali mengurangi value nya, karena saking berharganya I wouldn’t let anyone know.

Intinya, sekarang gue sadarr meskipun menjalani berbagai peran dengan konsekuensi sejuta tanggung jawab, itu engga sama sekali menekan atau menghambat apa-apa yang sedang gue cita-citakan.

Meskipun kudu ke pasar dan masak setiap hari, gue masih punya cukup waktu kok untuk nulis.
Meskipiun kudu setor berita setiap hari, gue masih bisa enjoy me time sambil maskeran jam 1 pagi.
Atau meskipun harus merelakan waktu untuk bekerja dengan definisi orang kebanyakan, gue masih bisa cari sumber penghasilan untuk bantuin sekolah Adek-adek gue.

Tuhan sudah menakdirkan 2018 sebegitu indah dalam hidup yang gue jalanin. Gue Cuma bisa bersyukur dan tidak menyesali apalagi protes sama yang udah dikasih. Alhamdulillah

Jadi kalau ada yang tanya capek enggak, enggak kok, jujur. Pernah berada di titik paling bawah dan jatuh sejatuh-jatuhnya di 2018 membawa gue menjadi lebih dewasa, dan bisa ambil sikap atas apa-apa yang kudu dihadapin so far.

Ingat ya, standar lelah itu Kita yang bikin, not anyone else.


Perjalanan Sebagai Perempuan Bagi Julita



Hay Everyone, It's been a loooong time ya gak nulis di blog pribadi ini. Memang dua bulan belakangan lebih banyak menulis di kolom-kolom lainnya, sorry banget. To be honest, draft "Perjalanan Sebagai Perempuan Bagi Julita" udah cukup lama tinggal di laptop, butuh keberanian untuk pada akhirnya mempublish ini ke temen-temen. Semoga menikmati cerita ini yah !

First, gue mau menyampaikan rasa syukur udah dikasih kesempatan untuk terlahir sebagai Perempuan, bahkan kalau Tuhan kasih gue kesempatan untuk kembali ke belakang dan bebas memilih identitas gue, gue akan tetep memilih menjadi diri gue yang sekarang. Menjadi perempuan adalah sebuah anugerah, gue yakin temen-temen perempuan di luar sana juga merasakan yang sama.

Menjalani hidup sebagai perempuan memang banyak tantangan yang harus dihadapi, apalagi menurut gue pribadi isu-isu kesetaraan gender masih bias sampai saat ini, Kita masih berada di fase "Politics of recognition" masih sebatas concern pada pengakuan bagi kaum-kaum wanita, sementara mungkin di negara lain udah mencapai "Politics of redistributions".

Apakah Kita tertinggal ? (Mungkin) IYA. 

Gue bukan tipikal yang bener-bener menaruh perhatian penuh dalam perjuangan atau gerakan yang mengadvokasi hak-hak perempuan. Tapi gue usahakan untuk terus mengikuti isu-isu mengenai  perempuan tentu dengan "keterbatasan" gue, karena isu perempuan, isu kaumku akan selalu seksi di mata gue. Intinya gue mau minta maaf dan berterima kasih dari hati yang paling dalam, buat temen-temen yang bahkan memberikan 24 jam waktunya untuk berada di garda terdepan menyuarakan keadilan dan kesetaraan :)

Well, balik lagi ngomongin perjalanan sebagai perempuan  realistically enggak sedikit pahit dan manisnya.  Dan ini 100% pengalaman yang pernah gue rasain.

Gue rasa setiap perempuan pasti pernah mengalami pelecehan seksual dengan berbagai tingkatan, tapi sekecil apapun itu, namanya pelecehan ya pelecehan titik, tidak ada toleransi di dalamnya. Perempuan harus sama-sama sepakat soal ini.

Waktu gue SMP, yang kalau enggak salah masih umur 13 tahun, gue pernah dilecehkan sama anak-anak cowok seumuran gue. Kejadiannya udah lama banget, tapi masih lekat banget terekam tiap detailnya. Bahkan gue sampe sekarang engga percaya kalau hal yang sangat kurang ajar itu terjadi di tengah keramaian. Saat itu gue lagi jalan di tengah kerumunan, dan ada beberapa tangan yang meremas bagian belakang badan gue. Kalau ada yang tanya elo saat itu ngelawan kan? Coy saat itu gue cuma diem, nge freeze dan bengong tapi jantung gue berdetak kenceng banget.

Dari pengalaman di atas gue jadi tau pentingnya kita buat mengedukasi tentang pelecehan seksual sejak dini. Kasus-kasus perkosaan yang korbannya anak-anak di bawah umur masih banyak kita temui. Gue saat itu cuma bisa diem karena otak gue engga ke training untuk melakukan reaksi yang seharusnya gue lakuin, yaitu ngelawan (tentu dengan beberapa catatan dan penyesuaian), dan ini penting banget buat adek-adek agar tau cara bereaksi yang tepat saat mengalami pelecehan seksual, sehingga bisa mencegah tindakan pelecehan itu terulang kembali atau berkembang lebih serius, you know what I mean kan.

Masih banyak yang bilang kalau pelecehan terjadi karena pakaian wanita yang terbuka, gue gak mau banyak cincong, boleh banget dilihat datanya bahwa pakaian engga relate sama sekali sama kemungkinan terjadinya pelecehan seksual.



Malam setelah kejadian itu, gue cuma bisa menangis dan bahkan engga cerita sama siapa-siapa, semoga kita semua bisa menciptakan lingkungan yang nyaman bagi korban pelecehan seksual, apalagi anak-anak.

Pengalaman selanjutnya, sewaktu gue duduk di bangku SMA, gue mencalonkan diri sebagai ketua umum salah satu Ekstrakurikuler, saat itu bisa dibilang 70 Persen anggota lain mendukung gue. Tapi beberapa "Senior" yang saat itu lagi memegang kepengurusan mencoba untuk meyakinkan gue kalau ada kandidat lain yang lebih proper untuk menduduki jabatan tersebut. Gue sangat sportif kalau alasannya karena may be gue kurang bisa berkomitmen, bertanggung jawab atau hal-hal lain yang berhubungan dengan kemampuan gue menjalankan organisasi, tapi alasannya lebih ditekankan karena gue cewek, yang katanya lebih emosional, whatttttt, bayangin gimana perasaan gue. Pengalaman ini lumayan ngefek beberapa tahun dalam hidup, meskipun pada akhirnya gue memegang jabatan ketua 1, saat itu gue jadi less confident, gue sedikit mengiyakan kalau dalam kenyataannya cewek tidak pantas untuk menjalankan kepemimpinan dibandingkan cowok.


Terakhir, keputusan gue untuk lanjut studi ke jenjang magister adalah tantangan yang paling berat sejauh ini. Society kerap kali mencemooh atau melabeli gue dengan "ambisius" dan terlalu kebablasan, ya bahkan untuk mengenyam pendidikan lebih gue didefinisikan sebagai wanita yang kebablasan, lucu. Engga sampai disitu, ada cap-cap lain yang menemani seperti "tidak becus ngurus rumah" yang in fact gue sudah dua tahun belakangan menggantikan tugas Alhamarhum Ibu di Rumah, dan gue lakuin semuanya dengan senang hati. Juga sedikit banyak yang mengasihani Bapak karena dikiranya gue ngabisisn duit orang tua, in fact gue sekolah dengan beasiswa full, dan bukannya sombong gue juga bertanggung jawab akan kebutuhan materil adik gue di rantau dan juga sedikit kebutuhan keluarga. Alhamdulillah sejak tahun 2013 gue udah engga pernah minta uang, dan tentunya semua ini berkat rejeki dari yang di Atas :)

Tapi di balik kepahitan di atas, gue fokus ke banyak hal positif yang ternyata Tuhan gariskan kepada gue sebagai perempuan. Tumbuh dalam keluarga yang medioker tapi sangat demokratis, gue bersyukur dari kecil Bapak dan Ibu tidak pernah menaruh mimpi-mimpinya pada anak-anaknya, gue dibebaskan untuk memilih my life path sepenuhnya tanpa membedakan sedikitpun kalau gue perempuan. Itu bener-bener kenikmatan yang engga bisa dirupiahin, Gue selalu didukung penuh selama itu positif.

Selain itu, ternyata juga banyak sekali dukungan yang datang dari kaum adam. Misalnya Pasangan gue sekarang yang selalu meyakinkan kalau gue selalu bisa meraih ini-itu selama gue usaha. Adek-adek gue yang mengijinkan mbaknya jauh dari keluarga untuk menuntut ilmu dan senantiasa memberikan doa, menggantikan gue sementara waktu menjaga Bapak di rumah, terima kasih kalian luar biasa.

Dan hal-hal sederhana seperti membaca tulisan-tulisan gue, lalu memberikan feedback untuk diskusi lebih jauh, gue seneng banget jujur, berkarya lalu dihargai itu priceless, happy sekali. Bahkan sampai gue lupa bahwa batasan-batasan yang dulu memposisikan wanita hanya di dapur dan jauh dari perannya dalam memberikan ide-ide itu pernah ada.

Gue selalu yakin kalau wanita adalah advokat bagi dirinya dan juga hak-hak kaun wanita di sekitarnya. Semoga gue selalu dikasih kesempatan untuk mendukung temen-temen cewek di sekeliling gue yang hebat-hebat. Beberapa di antaranya Ibu-ibu rumah tangga yang mendedikasikan energi untuk keluarganya gila bener-bener punya hati mulia,wanita karir yang gue tahu menghadapi masalah namun tetap tegar, dan ada juga yang membangun bisnis sehingga bisa memberdayakan wanita lain disekitarnya. Gue salut buat kalian.

Terakhir, gue cuma mau menyampaikan kalau perjalanan kita sebagai wanita panjang dan terkadang berduri, tapi selama kita selalu tulus dan engga nyerah. semua hal pahit dan manis dalam hidup cuma akan membawa kita menjadi wanita yang lebih utuh. Semangat ya :))



Serabut Kelapa, Limbah yang Kini Menjelma Sumber Devisa Negara

Ilustrasi/Sumber:groworganic.com


Bukan rahasia jika sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang memberikan kontribusi pada perdagangan internasional melalui ekspor. Selama ini primadona komoditas ekspor nasional banyak didominasi oleh produk perkebunan seperti Karet alam, Kelapa Sawit, Biji Kopi, dan Kakao. Ternyata jika ditelisik lebih dalam, masih banyak sekali produk pertanian baik perkebunan maupun non perkebunan yang memiliki potensi luar biasa sebagai komoditi penyumbang devisa.

Menurut data FAO, Indonesia merupakan salah satu produsen serabut kelapa tertinggi di dunia. Misalnya, pada tahun 2017 lalu kontribusi Indonesia mencapai 31% atau sebesar 18,98 juta ton di posisi pertama produsen serabut kelapa dunia mengalahkan Filiphina dan India dengan selisih yang cukup signifikan. Hal ini merupakan sebuah keungggulan komparatif yang harus dimanfaatkan sebagai senjata baru untuk berkiprah di pasar internasional.

Lonjakan Permintaan Serabut Kelapa di Pasar Internasional

Dilansir dari Kanal Resmi Kementrian Pertanian RI, mengungkapkan ekspor serabut kelapa atau yang dikenal dengan coco fibre, coir fiber, coir yarn, coir mats, and rugs di pasar internasional sangat prospektif untuk ditingkatkan. Hal ini seiring dengan meningkatnya permintaan produk turunan kelapa di pasar global sebagai bahan baku industri.

Data Kementrian Perdagangan menunjukkan pada periode Januari-April 2020, ekspor serabut kelapa mencapai 1,5 ribu ton senilai 8 Miliar Rupiah dengan tujuan utama Tiongkok. Kemudian diikuti oleh negara Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka dan Jerman sebagai pelanggan pasar global produk coco fibre. Fenomena ini menggeser stigma yang berkembang di masyarakat bahwa serabut kelapa dulu dianggap limbah, kini malah mampu menyumbang devisa bagi perekonomian.

Tingginya permintaan serabut kelapa di pasar global akibat perkembangan teknologi dan kesadaran konsumen untuk kembali ke bahan alami. Kini produksi karpet, jok, dashboard kendaraan, kasur, bantal mengandalkan serabut kelapa sebagai bahan baku utama. Bahkan pada beberapa negara maju serabut kelapa juga digunakan sebagai pengendali erosi.


Sertifikasi 100 ton Serabut Kelapa asal Jawa Barat 

Kementrian Pertanian (Kementan RI) melalui Badan Karantina Pertanian melakukan sertifikasi terhadap 100 ton serabut kelapa produksi asal Jawa Barat tujuan China. Total nilai ekspor serabut kelapa yang bersal dari Petani Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran ini mencapai 396 juta Rupiah.

Kepala Karantina Pertanian Tanjung Priok, Purwo Widiarto menyerahkan langsung sertifikat kesehatan tumbuhan atau Phytosanitary Certificate (PC) sebagai persyaratan protokol ekspor negara tujuan kepada PT. Nusantara Sukses Sentosa di Depo DNS Cakung, Jakarta Utara. Penyerahan ini dilaksanakan dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan penyebaran covid-19.

Produksi serabut kelapa sawit tidak boleh terhambat adanya pandemi. Hal ini senada dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang berulang kali menyampaikan kegiatan produksi pertanian terus berjalan. Mentan RI memastikan masyarakat bahwa ketersediaan pangan tetap aman selama pandemi ini berlangsung.

Hilirisasi Serabut Kelapa Ciptakan Nilai Tambah di dalam Negeri

Ilustrasi/Sumber:ukgarden.com


Melejitnya permintaan dan ekspor serabut kelapa ke pasar internasional memang sangat menggembirakan. Namun, menjadi sebuah catatan bersama bahwa teknologi hilirasi serabut kelapa sawit perlu dikembangkan segera. Peran lembaga riset dan perguruan tinggi sangat diperlukan disini.

Ke depan nilai tambah industri serabut kelapa dapat dinikmati di dalam negeri tanpa perlu bocor ke luar negeri. Cap sebagai negeri pengekspor bahan baku yang selama ini disandang Indonesia harus segera diganti dengan pengekspor produk akhir. Dengan begitu pertumbuhan ekonomi menjadi semakin pasti untuk digenggam bersama.


Ekspresikan Dirimu dengan Matte Made in Heaven Absolute New York Indonesia




Mengenal Absolute New York (ANY)

Hi Absolute Babe.

Aku yakin nama Absolute New York Indonesia sudah terkenal di dunia kosmetik. Well, Absolute New York merupakan merek produk kecantikan berkonsep modern asal New York. Menariknya, berbagai rangkaian produk dari ANY terinspirasi dari gaya hidup wanita New York yang feminin, memikat, dan menyenangkan.

Semua produk Absolute New York punya kualitas yang tidak main-main, mulai dari produk kecantikan untuk wajah, bibir, dan mata tersedia lengkap. Berbicara make up memang enggak ada habisnya, karena tren terus berkembang. Saat ini make up bukan hanya riasan yang menempel pada wajah, lebih dari itu make up bertransformasi menjadi salah satu cara wanita untuk mengekspresikan dirinya. 

Dan Lipstik adalah cara terbaikku mengekspresikan diri. 
Bagaimana denganmu Babe ?

Lipstik Matte Made in Heaven Absolute New York

Aku bersyukur banget saat Absolute New York  merilis lip produk Matte Made in Heaven. Pengen teriak ini produk yang bener-bener Aku cari selama ini.




Matte Made in Heaven tampil dengan sebuah terobosan konsep 2in1 yang menyatukan lip liner dan liquid lipstick dalam satu kemasan. Presentasi lip produk ini oke dengan packaging ramping, jadi gampang banget dibawa kemana aja. Selain itu, tube lip liner dan liquid lipstick Matte Made in Heaven ini sturdy banget jadi aman, enggak perlu resah akan tumpah di tas atau pouch kesayangan.

Penasaran dong dengan keajaiban lainnya dari Matte Made in Heaven.
Now Lets get into it !



Ingredients


First of all, sebagai wanita cerdas wajib untuk memastikan kandungan produk kecantikan yang dipilih, karena sekeren apapun produknya, kalau tidak aman buat apa ?

Setelah Aku teliti kandungan dari lip produk ini, berita baiknya adalah Matte Made in Heaven Absolute New York 100% aman. It’s free Paraben,Sulfate,Pthalate and Fragrance.



Good job Matte Made in Heaven!


The Formula and Performance



As usual my review will be originally written based on my own experience alias sesuai dengan pengalamanku sendiri.

Lipstik matte memang idaman wanita tapi penuh dilema. Surprisingly, Matte Made in Heaven memiliki tekstur yang ringan di bibir meskipun pakai dua layer tapi masih terasa oke (you know I’m really happy being surprised by good things like this). Setelah beberapa jam digunakan lipstik tidak cracking, enggak paham dengan kandungan lipstik tapi formula Matte Made in Heaven patut diacungi jempol.

Lip produk ini watery based, teksturnya creamy yang cenderung cair. Finishnya matte dan untuk sampai ke benar-benar matte membutuhkan waktu kurang lebih 1-2 menit. Tidak masalah karena seandainya mau bikin ombre lips, Aku jadi punya cukup waktu untuk blend lip creamnya di bibir.

Semua warnanya pigmented (Intense Colour). Lip produk ini punya daya tahan yang oke. Aku coba makan santan cuman ngefek fading sedikit aja di bagian tengah. Jadi  bisa dipastikan nih kalau seharian kita hanya makan dan minum yang ringan, lipstik ini stay seharian. Saat minum menggunakan sedotan tidak meninggalkan bekas alias cukup transferproof. Terakhir untuk aroma hampir nggak tercium apa-apa saat diaplikasikan ke bibir.  

Thanks to Matte Made in Heaven !

The Shades



Let’s go to the shades Babe. Matte Made in Heaven terdiri dari 7 shades, yang menurutku warnanya bener-bener favorit wanita Indonesia. Biasanya warna lipstik mirip-mirip, tapi dari ke-tujuh warna Matte Made in Heaven ini punya karakter masing-masing, unik, dan berbeda satu sama lain.  

MLIH. 01 Instinct (Dusty Rose Nude)
Lebih ke arah Pink Salmon gitu, cocok untuk pemakaian daily. Kesannya natural dan match untuk semua tone kulit.

MLIH. 02 Sly (Warm Medium Brown)
Untuk yang bosan dengan nuansa warna pink, Sly bisa jadi pilihan tepat. Warnanya orange kecoklatan, jadi bukan pure orange. Masih cocok untuk dipakai daily.

MLIH. 03 Hyped (Bright Fuchsia)
Ini pas banget untuk yang suka warna-warna mencolok. Hyped dengan warna Pink Stabilo atau Bright Fuchsia ini pas banget dipakai untuk ke acara tertentu, apalagi ke kondangan mantan eh.

MLIH. 04 Fever (True Red)
Untuk penyuka warna lip produk dengan nuansa klasik pasti akan jatuh cinta sama shades Fever, tampilan seksi ala-ala Ariel Tatum gitu babe.

MLIH. 05 Hostile (Brick Plum)
Hostile dengan warna Dark Chocolate atau Brick Plum ini terlahir buat kamu yang ingin tampilan ala-ala Grunge Make Up gitu.

MLIH. 06 Bitten (Berry Red)
Shades ini unik banget dengan warna merah darah atau Berry Red. Buat yang punya acara pesta dengan konsep Old Fashion sudah pasti akan bersinar dengan Bitten. Dijaminnnnn.

MLIH. 07 Chai (Taupe Brown)
Chai hadir dengan warna yang pucat diantara shades lainnya, dan ini pas buat Beauty Ladies yang punya kulit fair tone. Chai juga cocok banget untuk dijadikan base ombre lips, tinggal ditimpa dengan Bitten atau Hostile pasti finishnya cakep.

My Favorites!

Cakep-cakep dong warnanya, serangkaian Matte Made in Heaven udah merupakan paket komplit yang bisa diandalkan di berbagai situasi, dari daily sampai pesta dengan beragam konsep. Keren gasih pake banget. 

To be honest I’m so in love sama shade Chai (No.7) karena bikin ombre lips Aku lebih paripurna. Apalagi buat ngampus deuh cakep parah, longlast enggak perlu banyak touch up.






Overall Review 


Perlu diingat ya Babe, penilaian produk berdasarkan pengalaman dan hasil percobaan pribadi selama kurang lebih dua minggu dari pertama kali produk diterima dan diuji coba. Aku melihat dari empat kriteria yang menurutku sangat menentukan kualitas lipstik, tentu setiap orang punya standar berbeda.



Beli Produk yang Original, dimana ya?

Siapa sih yang tidak ingin memiliki Matte Made in Heaven ini dengan segala keajaibannya ? Absolute Babe bisa dengan mudah mendapatkan lip produk ini di konter resmi Absolute New York Indonesia yang sudah tersebar di beberapa kota.

Price : Harganya Rp 105.000, waktu itu lagi promo diskon 10% jadi Rp 94.500. Happynya Aku!


Matte Made in Heaven juga bisa didapatkan dengan mudah melalu pembelian online di makeupaddictindo.com
Just click https://www.makeupaddictindo.com/produk/matte-made-in-heaven/ choose and get Matte Made in Heaven as soon as possible.

Overall I Highly reccommend Matte Made in Heaven Absolute New York ini. Dengan konsep 2in1, formula dan performa yang oke, harga yang affordable serta shades yang cantik, prediksiku lip produk ini akan banyak dicari dan jadi trendsetter di tahun 2020.

So, take it now and let’s express ourself with perfect lips Babe !    

Peduli Hutan bersama Walhi dan Blogger Perempuan, Ini Keseruan Acara Forest Cuisine Blogger Gathering



Senin Malam tepatnya pada 24 Februari lalu smartphone menunjukkan sebuah notifikasi email. Wah ternyata isinya sebuah undangan untuk mengikuti Forest Cuisine Blogger Gathering yang merupakan event kolaborasi Walhi bersama dengan Blogger Perempuan. Tanpa pikir panjang Aku langsung mengkonfirmasi kehadiran, siapa sih yang dengan bodohnya melewatkan kesempatan emas untuk berkumpul bersama 30 Finalis Blogger Competition, tentunya Aku harus turut serta.

Forest Cuisine Blogger Gathering Invitation

Suasana Hangat Sejak Awal Acara

Saat yang dinanti tiba, bertempat di Almond Zucchini (29/02/20) Aku datang tepat waktu disertai semangat yang dibungkus rasa penasaran akan seperti apa acara berlangsung. Memasuki venue, Aku dan teman-teman Blogger lainnya disambut hangat dengan berbagai informasi menarik seputar WALHI dan pameran produk Walhi yang cukup mencuri perhatian. Beragam produk yang merupakan pangan dari hutan dihadirkan dengan packaging menarik dan modern. Jujur saja Aku terpana saat itu, image produk hutan yang tradisional dan kurang eye catching di dalam pikiran seketika sirna. Kerjasama Walhi dengan komunitas daerah berhasil menciptakan produk olahan dari hutan yang menarik tanpa mengikis manfaat herbal di dalamnya.


Mulai dari Sirup Pala, Garam Herbal dengan beraneka varian, Madu Hutan, Minyak Cengkeh dan masih banyak lagi. Semuanya ditampilkan dalam bentuk produk yang modern dengan kemasan menarik. Tentunya semua produk yang merupakan pangan dari hutan tersebut kaya akan manfaat. Manfaat Herbal bagi kita yang mengkonsumsi, dan manfaat ekonomi untuk turut andil membantu komunitas di daerah tetap dapat hidup secara berkelanjutan


Dipandu Teh Ocha, Kita “ber-ha-ho-hi” ria

Acara dimulai sekitar pukul 10 siang, biasanya pagi hari saat akhir pekan badan seolah tak berenergi alias mager tapi tidak untuk hari itu. Acara dipandu oleh MC kesayangan, Teh Ocha atau Kak Fransiska Soraya. Kami satu ruangan di ajak “ber-ha-ho-hi” sekaligus mengenal berbagai pangan yang berasal dari hutan. Sungguh beruntung karena tiga orang yang dapat menjawab pertanyaan tentang hutan berhak membawa merchandise dari Walhi. Setelah pembagian hadiah antusiasme peserta meningkat tajam, termasuk Aku hehehe.


Keadaan menjadi cukup emosional saat Walhi dan Blogger Perempuan mengajak para peserta untuk menyaksikan sebuah film dokumenter tentang lingkungan. Film tersebut secara representatif menggambarkan kerusakan lingkungan bumi akibat ulah manusia. Miris sekali menyaksikan fakta bahwa bumi, sebagai tempat tinggal kita satu-satunya terancam. Adakah tempat tinggal lain selain bumi yang dapat kita tinggali ?

Mata seolah dibuka, hati diajak untuk jujur, dan pikiran dibuat sadar bahwa tak ada alasan lagi untuk menunda peduli akan kondisi lingkungan, salah satunya hutan, hutan Indonesia. Karena kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi yang peduli ?

Talk Session with Walhi and Walhi Champion : Sharing is Caring


Kami tidak dibiarkan berlama-lama gelisah memikirkan nasib hutan yang terancam. Talk Session with Walhi Executive and Walhi Champion menjadi sebuah harapan untuk berbagi cerita tentang menjaga hutan bersama-sama. Hadir diantara kami Empat Srikandi hebat nusantara yang telah melakukan aksi nyata menjaga kelestarian hutan sebagai narasumber. Ada Mbak Alin atau Khalisa Khalid selaku Perwakilan Eksekutif Nasional Walhi ,  Walhi Champion yaitu Ibu Tresna Usman Kamaluddin dan Ibu Sri Hartati serta seorang Influencer, Kak Windy Iswandi dari @foodirectory.

Kita sebagai perempuan punya power untuk mempertahankan kelestarian hutan. Kita perlu aktif menyuarakan kepedulian tentang hutan. Kita perlu berbagi strategi menjaga hutan dari hal-hal sederhana yang dapat dilakukan. Sharing is Caring, Dear

Hutan Kaya akan Keberagaman bukan Monokultur


Mbak Alin membuka sesi diskusi dengan semangat yang berapi-api. Tidak bisa dibohongi bahwa sorot mata beliau menunjukkan rasa cintanya pada hutan. Mbak Alin menegaskan kembali definisi hutan yang secara awam dipahami masyarakat.

Hutan tidak sekedar memiliki atribut “hijau”, atau dengan kata lain sebuah lahan monokultur yang hijau tidak lantas disebut hutan. Hutan adalah rimba dimana keanekaragaman flora dan faunanya terjaga.”

Mbak Alin juga menambahkan bahwa hutan yang monokultur kehilangan manfaatnya sebagai apotik alam, sumber pangan, penjaga ekosistem dan iklim sehingga kita harus menjaga betul keberagaman hutan. Satu lagi pemahaman baru mengenai hutan yang Aku dapatkan dan membuat geleng-geleng kepala betapa luar biasanya hutan bagi kehidupan kita.

Kita yang Bergantung pada Hutan Bukan Sebaliknya

“Kehidupan hutan adalah kehidupan kita. Kita bergantung pada hutan. Hutan is the best healing

Berangkat dari cucu seorang petani menjadi motivasi terbesar Ibu Tresna untuk berada di garis terdepan menyelamatkan hutan bersama masyarakat Sulawesi Tenggara. Beliau banyak bercerita tentang kearifan masyarakat lokal yang dapat menjadi teladan bagi kita yang di Kota untuk ikut merasa memiliki hutan. Sayangnya dulu nasib tidak berpihak pada masyarakat lokal, sebagai pihak yang sangat dekat dengan hutan masyarakat masih memiliki keterbatasan dalam mengelola hutannya sendiri.

Kegigihan Ibu Tresna dan Masyarakat Kabupaten Kolaka akhirnya berbuah manis. Dalam waktu dekat masyarakat memperoleh haknya yang selama ini diperjuangkan. Ibu Tresna juga memberikan sebuah pesan bahwa hutan tidak pernah bergantung pada manusia, sebaliknya kitalah yang sepenuhnya bergantung pada hutan.


Air Mata Tulus Seorang Ibu untuk Hutan

 

Ada sebuah momen yang sangat emosional saat Ibu Tati, seorang Walhi Champion asal Sumatera Barat menangis haru menyaksikan kelalaian manusia dalam merawat hutan sebagai sumber kehidupan. Air mata Ibu Tati adalah ketulusan seorang Ibu untuk hutan. Kami seruangan ikut baper dan menangis dalam diam, lagi-lagi diingatkan bahwa kepedulian akan hutan harus segera dilakukan tanpa tapi.

Ibu Tati bagiku adalah lambang sebuah ketulusan sekaligus kegigihan. Sepak terjang beliau tidak setengah-setengah dalam Program Pengelolaan hutan untuk Kesejahteraan Perempuan. Bersama puluhan wanita lainnya, Ibu Tati berhasil mengembangkan produk sirup dan minuman segar olahan dari daging buah pala, pangan dari hutan yang telah banyak dikenal karena manfaatnya.

Kalau Ibu Tati rela mengerahkan segenap tenaga dan hatinya untuk hutan, bagaimana dengan kita ?

Menjelajah hutan adalah Pengalaman Berharga dalam Hidup

Mbak Windy selaku foodvlogger merasa sangat beruntung dilibatkan dalam acara ini. Beliau mengungkapkan sampai tidak bisa berkata-kata penuh haru berada diantara narasumber lainnya. Pengalamannya dalam berkunjung ke beberapa hutan di Indonesia adalah pengalaman luar biasa dalam hidup. Hidup tanpa sinyal di hutan punya keasyikan dan manfaat bagi diri. Katanya berada di hutan membuat kita merefleksikan hidup sejenak tanpa gangguan sosial media, dan itu sehat sekali.

“Yang paling Aku ingat saat di hutan yaitu semua makanan yang dimakan oleh masyarakat hutan pasti bisa kita makan. Bahkan kalau di hutan makanan yang ada di atas tanah itu aman untuk dinikmati. Misalnya Buah jatuh, Umbi dan sebagainya. Beda sekali dengan keadaan di Kota”

Cooking Demo bersama Chef William Gozali


Biasanya hanya ngiler menyaksikan masakan Chef William di You Tube. Namun kali ini, berkat Walhi dan Blogger Perempuan Aku bisa memasak bersama Chef yang luar biasa dengan memanfaatkan pangan dari hutan. Ternyata bahan pangan dari hutan tidak hanya sebatas dapat digunakan untuk kuliner tradisional saja lho. Buktinya Chef William mengajak kami semua untuk membuat menu pasta vegetarian yaitu “Fettucini Mushroom Ragout”. Luar biasa sekali.

Kami dibagi menjadi lima kelompok kecil untuk bekerjasama mereka ulang menu pasta tersebut sesuai arahan Chef William. Kehebohanpun dimulai, canda tawa, dan segala “kerempongan” menghiasi dapur. Tapi yang jelas semua yang ada di ruangan berbahagia saat itu.

Buat teman-teman yang juga ingin memasak “Fettucini Mushroom Ragout” ala Chef William tidak perlu gigit jari di rumah, berikut resep lengkapnya boleh disimak dibawah ini.




Meskipun tidak Menang Kami tetap Happy

Aku dan tim cukup deg-degan saat Chef William mencoba pasta buatan kami. Ternyata masakan kami kurang garam, gagal deh jadi juara. Tapi tidak apa-apa, selebihnya kami sangat menikmati acara memasak yang bahannya berasal dari hutan. Rasa bahagia bertambah saat Teh Ocha mengatakan bahwa masing-masing apron boleh dibawa pulang. Sebuah kenang-kenangan yang akan Aku simpan baik-baik.

Acara Boleh Berakhir, tapi Kepedulian akan Hutan tak Boleh Usai



Jujur saja sampai sekarang Aku masih heran bagaimana Walhi dan Blogger Perempuan  dapat menyatukan kami semua melalui  Forest Cuisine Gathering. Kami yang bahkan sebelumnya tidak saling kenal satu sama lain. Kami yang berasal dari latar belakang dan daerah yang sangat beragam, bahkan ada teman yang berasal dari Palu. Tapi selama acara berlangsung seketika padu, seketika menyatu satu sama lain, seolah telah lama mengenal sehingga acara sangat seru mirip seperti sebuah reuni kawan lama.

Sedih sekali karena waktu harus memisahkan kami, mau tidak mau acara harus diakhiri. Tapi Aku yakin telah tumbuh semangat kepedulian akan hutan pada masing-masing peserta acara. Walhi dan Blogger Perempuan mengajarkan kami bahwa siapapun turut ikut serta menjaga hutan.

“Kita yang berada di Kota tetap dapat menjaga hutan dari kejauhan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menjadi konsumen yang cerdas, mampu membedakan mana kebutuhan dan keinginan. Selain itu membantu ekonomi komunitas, dengan menggunakan produk yang dihasilkan komunitas lokal di daerah. Terakhir kita juga bisa berdonasi melalui Walhi untuk kepentingan hutan

Akhir tulisan, ijinkan saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada Walhi dan Blogger Perempuan atas kesempatan dan pengalaman berharga yang diberikan. Sungguh momen yang indah sebagai penutup Bulan Februari ini. Tak lupa, seluruh masyarakat lokal sekitar hutan yang turut berjuang sepenuh hati menjaga hutan Indonesia. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, dan berhak untuk diapresiasi setingi-tingginya.


Beragam Pangan tersedia di Hutan, 
Mulai dari Pala Lada hingga Rotan,
Bersama Walhi dan Blogger Perempuan, 
Mari Wujudkan Hutan berkelanjutan.

Salam Adil dan Lestari !!!

Forest Cuisine Blogger Gathering merupakan serangkaian acara dari Forest Cuisine Blogger Competition. Acara keren ini diselengarakan oleh Walhi dan Blogger Perempuan.

Informasi lebih lanjut langsung saja kunjungi website BloggerPerempuan atau Walhi.

#PulihkanIndonesia
#RimbaTerakhir
#WALHIXBPN
#HutanSumberPangan
#BlogCompetitionSeries
#PanganDariHutan
#ForestCuisineBloggerGathering

Gambar yang disertakan pada artikel merupakan dokumentasi pribadi, serta bersumber dari Media Blogger Perempuan dan WAG Forest Cuisine Blogger Gathering.