Hai Milenial ! Ini Tiga Langkah Mudah Dukung Pasar Rakyat

 


“17 November 2018, hari terburuk sepanjang usia.

Ibu meninggalkan Kami sekeluarga dalam tangis tanpa jeda.

Hari itu segala hal tentang hidup berubah seketika.”

Ibu adalah nyawa keluarga, sehingga semenjak kepergian beliau hidup Kami jadi berbeda. Sebagai anak sulung, tugas domestik menjadi tanggung jawabku. Memasak dan membersihkan rumah tak memberatkan, kecuali berbelanja ke pasar. Pengalaman buruk masa kecil “tak sengaja” kencing di celana saat menemani Ibu belanja meninggalkan trauma. Selain itu, pasar tradisional yang kini lebih dikenal pasar rakyat juga lekat dengan karakter kumuh dan bau. Itu menjadi alasan tambahan mengapa Aku enggan berbelanja ke pasar.

Wajah Baru Pasar Rakyat, Tak Lagi Kumuh dan Bau...

Mau tak mau Aku harus tetap ke pasar. Kali pertama ke Pasar Tanjung yang merupakan ikon kota Jember, Aku terkejut karena potret lama pasar yang bau dan kumuh tak lagi kutemui. Pasar kini megah dengan infrastruktur memadai, pedagang berjejer rapi menyesuaikan jenis dagangan.



Merespon pandemi, pasar kini dilengkapi fasilitas mencuci tangan yang tersedia di beberapa titik strategis. Hal ini tentunya menambah kenyamanan berbelanja di tengah virus yang kian masif.


Dari masa ke masa, pasar rakyat selalu memenangkan hati para ibu. Alasannya yaitu tawar-menawar, hanya di pasar rakyat Kita bisa leluasa melakukan negosiasi harga. Sayangnya tak semua orang berhasil mendapatkan harga miring. Menurut beberapa sumber, jika ingin memenangkan hati pedagang gunakan bahasa yang sama. Jika penjual berbahasa Jawa, maka gunakanlah bahasa yang jawa, begitu pula jika Bahasa Madura dan lainnya. Dengan jurus itu pedagang akan menganggap Kita saudara sehingga menyetujui harga yang ditawarkan.

Sebagai catatan, tawarlah dengan harga yang wajar ya sahabat !


Adanya standarisasi membuat suasana berbelanja di swalayan tampak seragam. Berbeda sekali dengan pasar rakyat yang kaya keberagaman. Dari aspek bahasa, Kita akan menemukan beragam bahasa daerah yang menjadi simfoni tersendiri. Selain itu, penjual satu dengan penjual lainnya yang berasal dari berbagai suku merepresentasi keberagaman Ibu Pertiwi. Kita tak hanya menjumpai suku lokal, namun juga beberapa perantau dari luar pulau.

Kebanyakan dari Kita mungkin pernah meragukan kelengkapan pasar rakyat. Padahal pengalaman membuktikan pasar mampu mengakomodir kebutuhan pangan dan sandang konsumen. Berbagai jenis sayuran modern seperti paprika, selada, dan bawang bombay tersedia lengkap dengan harga bersaing. Pasar rakyat juga satu-satunya yang masih menyediakan sayuran yang mulai langka, seperti Kenikir, Kecombrang, Jantung Pisang, Selada Air, sampai Pakis Sayur.

Bagiku, pasar rakyat tempat terbaik bernostalgia kenangan masa kecil. Di sana Kita dapat menemukan aneka jajanan tempo dulu. Misalnya Klepon, Putu Ayu, Kue Cucur, dan masih banyak lagi. Alasan lain yang bikin betah berlama-lama belanja di pasar rakyat adalah suasana akrab yang dibangun. Hubungan pembeli dan penjual di pasar rakyat bisa sedemikian dekat. Bahkan bagi sebagian orang, pasar rakyat adalah ruang untuk bercerita dan berkeluh kesah.

Pasar Rakyat di Tengah Pusaran Perubahan

Arundhati Roy menulis, pandemi yang saat ini Kita hadapi adalah sebuah portal, pintu gerbang antara dunia lama dan dunia baru. Dunia baru yang sedang dan akan Kita hadapi jelas berbeda. Kini digitalisasi menjadi kunci untuk tetap bertahan di tengah pusaran perubahan.

Pertanyaannya, siapkah pasar rakyat Kita ?

Fakta di lapangan menunjukkan masih sedikit pedagang pasar yang benar-benar menguasai teknologi. Meskipun sudah banyak yang mengantongi ponsel pintar,tapi hanya sebatas penggunaan dasar untuk berkomunikasi. Padahal kemampuan berdagang online kini menjadi kebutuhan. Hal ini disayangkan karena Pasar Rakyat sangat potensial dengan keberagaman dan keunikannya.

Masalah ini bukan hanya tugas pemerintah, ini tanggung jawab bersama...

Harapan selalu ada, bersama Festival Pasar Rakyat sudah saatnya pasar rakyat Bangkit Bersama Sahabat. FPR merupakan sebuah gerakan sosial Adira Finance yang bertujuan mendukung pasar rakyat sebagai ruang publik kreatif melalui pemberdayaan, sosialisasi, kesenian dan budaya.  


Pasar rakyat tak hanya menjalankan peran ekonomi seperti menyerap tenaga kerja, tonggak perekonomian UMKM, namun lebih jauh sebagai etalase kekayaan daerah, karakter kota, destinasi wisata unik dan kamus hidup kuliner Indonesia.”



Pertama, kontribusi yang dapat Kita lakukan sederhana yaitu dengan dengan berbelanja ke pasar rakyat terdekat. Kedua, mari secara serentak menggunakan platform yang Kita miliki untuk mempromosikan pasar rakyat. Ketiga, sebagai Milenial Kita banyak terlibat dalam berbagai organisasi. Jika selama ini pedagang pasar jarang tersentuh anak muda, sudah saatnya social project yang dijalankan menyasar pasar rakyat dengan kegiatan yang berfokus pada pendampingan berdagang online. Ketiga kontribusi tersebut sangat berarti bagi keberlanjutan pasar rakyat yang memegang segudang peran bagi negeri.

Aku sudah mendukung pasar rakyat, Bagaimana dengan Sahabat Milenial ?

#AdiraFinanceID

#BangkitBersamaSahabat

#FestivalPasarRakyat


 

 

 

 

Kampus Tempat Kita Menimba Pengetahuan, Bukan Kawasan Kekerasan Seksual

Bagiku menjadi seorang perempuan adalah sebuah perjalanan, dan melangkah menuju kampus impian adalah bagian perjalanan yang paling menentukan. Kala itu, Aku merayakan perubahan status menjadi mahasiswa dengan menyusun segenap mimpi dan harapan. Sayangnya euforia tak berlangsung lama, rangkaian kegiatan orientasi menjelma menjadi mimpi buruk bagi para mahasiswa baru, tak terkecuali diriku.

Sebagai pribadi yang vokal berpendapat, wajar jika namaku masuk dalam daftar khusus. Sehingga ketika jurit malam tiba, Aku menjadi santapan empuk para senior kampus. Salah satu kejadian yang masih terekam jelas adalah saat dimana Aku dikerumuni senior laki-laki. Mereka mengintimidasi dengan menanyakan banyak hal yang tak ada hubungannya dengan visi dan misi orientasi. Ada juga yang sengaja mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga menyisakan jarak kurang dari lima sentimeter. Sungguh terlalu.

Malam masih panjang, Aku juga menyaksikan bagaimana beberapa mahasiswi lainnya diberi hukuman dengan menari-nari di depan para senior. Jujur ada dorongan kuat untuk protes dan memberontak, namun nyaliku tak cukup. Terlebih lagi, saat itu Aku kesulitan dalam mengindentifikasi apakah perilaku tersebut termasuk kekerasan berbasis gender atau bukan karena minimnya pengetahuan.

Beruntung sekali diriku karena berkesempatan mengikuti Webinar Cerdas Berkarakter Kemendikbud dengan tema “Kampus Merdeka dari Kekerasan Berbasis Gender”. Dari sana pemahamanku mengenai kekerasan perlahan terang. 

Sangat disayangkan karena kampus sebagai institusi pendidikan ternyata rentan akan kasus Kekerasan Berbasis Gender (KGB) dimana berdasarkan data berada di urutan ketiga setelah jalanan dan transportasi umum. Komnas Perempuan menuturkan terdapat 174 kasus kekerasan di kampus pada 2019.  Kampus sebagai naungan civitas academica sudah semestinya bersih dari tindak kekerasan. Berikut perbaikan yang sangat mungkin dilakukan oleh berbagai pihak terkait (mahasiswa, dosen, karyawan dan pimpinan kampus).  

1.    Tingkatkan Pengawasan di Lokasi Rawan Kekerasan

Jika selama ini kamera pengawas atau CCTV hanya diletakkan di lokasi strategis seperti kantor pimpinan kampus, atau lobi sudah saatnya diperluas ke titik-titik rawan kekerasan. seperti lorong, lahan parkir dan pojok kamar mandi untuk mengurai kemungkinan terjadinya hal-hal yang tak diinginkan.

2.    Hotline dan Pojok Aduan Kekerasan Berbasis Gender

Beberapa korban kekerasaan seksual di sekitar kampus menuturkan kesulitan untuk melaporkan pelaku setelah kejadian karena belum ada wadah yang mudah mereka akses. Bercermin pada lonjakan data kekerasan, maka sudah sepatutnya kampus menyediakan Hotline (yang dapat dihubungi pada jam rawan) dan pojok aduan di dalam kampus yang terintegrasi dengan pihak keamanan 

3.    Edukasi KGB sebagai Mata Kuliah Umum Mahasiswa Baru

Data berbicara bahwa mahasiswa merupakan korban potensial dari tindak Kekerasan Berbasis Gender (KGB). Membekali mereka dengan edukasi dalam hal mengidentifikasi bentuk-bentuk kekerasan hingga mekanisme pelaporan menjadi sangat penting yang dapat disisipkan sebagai mata kuliah umum bagi mahasiswa baru. Dengan begitu, diharapkan mahasiswa memiliki kesadaran dan keberanian bersuara jika mengalami kekerasan atau ketika menyaksikan perilaku tersebut di sekitar mereka utamanya di lingkungan kampus.

            Terakhir, Aku sependapat dengan Ibu Alimatul Qibtiyah, Komisioner Komnas Perempuan yang mengatakan bahwa semangat yang perlu dibangun adalah memberikan efek jera kepada pelaku bukan hanya memenjarakan, sehingga tujuannya adalah menciptakan lingkungan kampus yang bebas dari Kekerasan Berbasis Gender karena semua orang berhak merasa aman dan terlindungi dimanapun mereka berada terlebih di dalam kampus sebagai institusi pendidikan.


 #CerdasBerkarakter
#BlogBerkarakter
#AksiNyataKita
#LawanKekerasanBerbasisGender
#BantuKorbanKekerasan

 


Lima Aksi Presiden Negara #BerForest dalam Upaya Perlindungan Hutan


Orang bilang tanah Kita lebih berharga dari intan-berlian

Tongkat kayu dan batu dilempar lalu tumbuh kehijauan

Orang bilang hutan Kita berprestasi, boleh jadi nomor satu di dunia

Maka bolehkah Kita dinobatkan jadi negeri adidaya ?

 

Hutan Kita punya peran apa saja, Hutan Kita serba bisa

Hutan Kalimantan jadi paru-paru dunia

Hutan Papua ciptakan kemandirian ekonomi warganya

Tak hanya soal pernapasan, hutan juga sumber aneka pangan

Tak sebatas habitat orang utan, namun juga sumber obat-obatan


Pertanyaannya, Jadi apa Kita tanpa Hutan ?


***

Nukilan di atas menggambarkan hutan Indonesia dengan berbagai reputasi. Hutan Kita multi peran, mulai dari penyedia oksigen bagi makhluk hidup, tempat tinggal bagi 60 juta masyarakat adat, sumber obat-obatan herbal, habitat aneka flora dan fauna hingga peredam pemanasan global. Sebenarnya terlepas dari peran hutan di atas, sudah sepatutnya Kita bangga atas hutan Indonesia karena hutan Kita berprestasi dan disegani.

Golongan Hutan (Gabungan organisasi di bidang lingkungan yang mengajak genrasi muda untuk menjaga kelestarian hutan Indonesia) menuturkan bahwa luas tutupan hutan tropis Indonesia menduduki ranking ke tiga dunia. Jumlah spesies mamalia, palmae dan burung endemiknya terbanyak. Selain itu, Hutan Kita juga merupakan pemasok 80 persen tanaman obat dunia. Luar biasa ya ?

Melihat reputasi hutan Kita, maka kemudian saya sependapat dengan Golongan Hutan yang memberikan predikat khusus kepada Ibu pertiwi sebagai #NegaraBerforest.

 

Bencana Deforestasi Merubah Segalanya

Rahwanaraja, sosok Raja Alengka yang bengis dan serakah. Negara-negara tetangganya ditaklukkan, punggawanya dibunuh, dan hartanya dirampas. Kerakusan dan kekejammnya makin menjadi. Rumah-rumah pendeta disita dan dibakar, gunung tinggi diratakan, rawa-rawa dikeringkan. Rahwana juga pernah bikin geger Khayangan untuk dapatkan Batara Tari sebagai istri. Tapi bukan Rahwana jika bisa puas, lalu Ia rampas Shinta dari pelukan Rama Wijaya.”

Itulah Rahwana, Manusia darah bengis dan serakah.

Ironisnya sosok Rahwana tidak pernah sepenuhnya mati. Tanpa Kita sadari keserakahan Rahwana hidup dalam diri Kita sebagai manusia. Keserakahan kita atas hutan yang kemudian menjelma sebagai akibat meningkatnya laju deforestasi. Seberapa gawat deforestasi menggerogoti hutan Kita ?

Golongan Hutan menggungkapkan Hutan Indonesia dalam ancaman nyata deforestasi yang terus terjadi dari waktu ke waktu. Dihimpun dari berbagai sumber terpercaya, setiap menit Kita kehilangan hutan setara dengan tiga kali luas lapangan bola atau 3,6 juta hektar selama periode 2012-2016. Jika dihitung dengan luasan Bangunan Monas, maka kita kehilangan 304 juta meter persegi (setara dengan kuranglebih 19.484 kali bangunan monas) pada periode 2010-2014.

Luasan tutupan hutan yang hilang tak sekedar angka, dibalik itu semua jutaan masyarakat adat kehilangan sumber penghidupan, terancamnya keanekaragaman flora dan fauna, hingga keseimbangan alam yang kian dipertaruhkan. 

Andai Aku jadi Presiden, Ini Lima Langkah Upaya Perlindungan Hutan Indonesia

Di tengah carut-marut deforestasi, rasanya sah-sah saja jika saya sebagai Millenial “berhalusinasi” menjadi presiden republik ini. Karena deforestasi tidak hanya melibatkan satu atau dua petak tanah, para pemain yang terlibat pun tak hanya kelas teri tapi juga kelas kakap, sehingga tak salah jika pemegang tampuk kekuasaan tertinggilah yang dapat diharapkan menjadi senjata pamungkas untuk perang melawan deforestasi, yaitu presiden.

Jadi apa saja yang akan saya lakukan sebagai Presiden Negara #BerForest ?

1. Mamperbaiki Kurikulum Pendidikan “Hutan (tak lagi) SDA yang dapat diperbaharui” serta Membangun Sinergitas dengan Pendidikan Tinggi

Saya pertama kali mengenal hutan saat duduk di bangku sekolah dasar. Melalui pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), saya diajarkan bahwa hutan adalah sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan bagaimana kemudian manusia dapat memanfaatkan hutan untuk kebutuhan hidupnya. Setelah dewasa, baru saya sadari bahwa konsep mengenai hutan yang demikian sudah tidak relevan lagi.

Pertama, bahwa hutan adalah sumber daya alam yang dapat diperbaharui menanamkan pola pikir sejak dini bahwa hutan akan terus dapat kembali ke kondisi semula atau meregenerasi dirinya sendiri. Padahal deforestasi yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara besar-besaran tidak serta-merta satu atau dua hari kemudian dapat kembali hijau dan lestari. Perlu waktu hingga puluhan tahun untuk mengembalikan kondisi hutan seperti sedia kala.

Kedua, manusia dapat memanfaatkan hutan untuk keperluan hidupnya memiliki  konsekuensi definisi yang tak berbatas. Padahal banyak sekali pemanfaatan hutan saat ini yang sudah kelewat batas. Pemahaman tersebut sangat membahayakan, apalagi jika ditanamkan berulang-ulang dari jenjang pendidikan satu ke jenjang selanjutnya.

Peran Generasi Muda melalui Mini Project Berorientasi Solusi Masalah Kehutanan 

Saya kemudian dibuat terkejut setelah berdiskusi dengan kawan lama yang merupakan lulusan dari fakultas kehutanan. Dia menuturkan salah satu pemicu mengapa masih banyak praktik eksploitatif hutan dikarenakan kurikulum pendidikan kehutanan di Indonesia masih menganggap hutan sebagai sumber daya alam sebagai komoditas ekonomi semata.

Pendidikan kehutanan yang eksploitatif tidak akan relevan dengan isu-isu kehutanan saat ini, mulai dari deforestasi (hilangnya tutupan hutan secara permanen), menurunnya kualitas hutan atau degradasi hutan, hingga perubahan iklim. Sehingga jika saya menjadi Presiden, bersama dengan Menteri Pendidikan saya akan menerapkan pendekatan multidisiplin ilmu dan memperbaharui isu perkembangan global ke dalam kurikulum.

Permasalahan hutan memang memerlukan sentuhan multidisiplin ilmu, tak hanya soal ilmu alam,namun juga ilmu sosial yang selama ini kemungkinan belum banyak dilakukan di pendidikan Indonesia. Selain itu, pendidikan utamanya di tingkat perguruan tinggi perlu aktif merespon permasalahan kehutanan dalam bentuk mini project atau case study dengan orientasi pemecahan masalah. Misalnya perencanaan pembangunan ibukota baru di Kalimantan, yang berada di kawasan hutan, memerlukan perhatian tidak hanya dari segi infrastruktur, tapi juga ahli kehutanan.

"Mini Project dapat menjadi wadah generasi muda, khususnya Mahasiswa dalam menuangkan gagasan sebagai solusi pemecahan masalah kehutanan dan saling berkolaborasi dengan keilmuan lainnya (multi disiplin)"

Cerita beberapa dosen saya mengenai bagaimana sinergitas perguruan tinggi dengan pemerintah di Jerman sangat menginspirasi. Sehingga, jika saya jadi presiden sebagai bentuk kepedulian terhadap hutan rasanya juga diperlukan sinergi dengan perguruan tinggi sebagai lembaga think tank. Bukan tidak mungkin riset yang dilakukan pendidikan tinggi di Indonesia dapat melahirkan inovasi dalam pencegahan deforestasi, degradasi lahan hingga perubahan iklim dengan cara-cara yang kebih efektif dan melibatkan multidisiplin ilmu.

Inovasi tersebut jelas membutuhkan sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah. Sektor kehutanan dapat menjadi teladan dengan menjadi pionir dalam membentuk sinergi berkelanjutan dengen perguruan tinggi. Sangat disayangkan jika inovasi yang dilahirkan anak muda namun hanya menjadi hitam di atas putih saja tanpa implementasi.  

2. Membentuk Satuan Tugas Khusus Pencegahan Kebakaran Hutan

Tentu Kita semua tidak asing lagi dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di Indonesia yang setiap hari memberikan perkembangan penyebaran virus secara regional dan nasional secara mendetail. Kemudian Saya berpikir bahwa dengan permasalahan hutan yang sedemikian pelik ada urgensi untuk membentuk Satuan Tugas Khusus serupa yaitu dalam hal Pencegahan Kebakaran Hutan dengan sumber daya pendukung yang mencukupi.

“Satuan Tugas Pencegah Kebakaran Hutan adalah bagian tak terpisahkan dari konsep Sistem Manajemen Pemadam Kebakaran Terpadu (Integrated Fire Management) yang memang keberadaannya sangat urgen saat ini.”

Tindakan Pencegahan kebakaran hutan dan lahan gambut juga dapat dilakukan oleh satgas kebakaran hutan dengan mengingatkan stakeholders pengguna lahan, bahkan di musim hujan, untuk memastikan tidak terjadi kebakaran yang dapat meluas.

Bagaimana sistem kerja Satgas ini agar capaian maksimal dalam mencegah kebarakan hutan ?

Diperlukan unit khusus (dengan jumlah orang dan keterampilan yang cukup) dalam jaringan lokal yang terintegrasi dengan sistem komando vertikal. Tak sampai disitu, annggaran khusus juga perlu disiapkan untuk mendukung kesinambungan pencegahan kebakaran hutan, misalnya dalam bentuk pendidikan masyarakat di desa-desa terpencil di dekat daerah bahaya kebakaran.

3. Memastikan Eksekusi Hukum terhadap Para Pelaku Deforestasi Illegal

Hukum bagi para pelaku atau perusahaan yang terbukti terlibat dalam kebakaran hutan adalah senjata utama. Yang perlu ditekankan adalah bagaimana eksekusi hukum tegas tanpa tedeng aling-aling, mulai dari sanksi finansial hingga hukuman di balik jeruji besi. Bagaimanapun pelaksanaan hukuman dalam bentuk sanksi finansial terhadap pelaku pembakaran hutan akan menggeser keseimbangan untung-rugi perusahaan sehingga mengarahkan perilaku mereka dari membakar ke penggunaan alat mekanik dalam membuka lahan.

Tanpa proses hukum yang serius, efek jera tidak akan pernah terwujud. Perusahaan yang terbukti bersalah harus dipastikam betul menerima eksekusi hukuman. Jika Saya menjadi presiden akan memberlakukan denda yang sangat besar hingga mampu menyebabkan kebangkrutan bagi perusahaan “nakal” sehingga mereka berpikir dua kali untuk main api terhadap hutan Kita. Karena kerusakan dan dampak yang diakibatkan dari kebakaran hutan tak ternilai dan sangat merugikan khusunya bagi masyarakat adat dan warga yang tinggal di sekitar hutan.

“Kehidupan orang-orang di sekitar hutan dan ekosistem yang mendukungnya jauh lebih berharga daripada keuntungan perusahaan-perusahaan nakal tersebut.”

4. Apresiasi Kepada Daerah yang Berhasil “Nol Deforestasi” 

Apresiasi Saya rasa juga penting sebagai upaya menjaga kesinambungan pencegahan deforestasi. Lagi pula Pemerintah memiliki dasar hukum penggunaan instrumen ekonomi untuk pengelolaan lingkungan hidup, yaitu Peraturan Pemerintah no. 46/2016. Berangkat dari dasar hukum tersebut, pemerintah secara kreatif  dapat menciptakan mekanisme Payment for Ecosystem Services atau insentif bagi mereka yang berhasil menjaga hutan.

Dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan, pemerintah dapat memberikan bonus anggaran pembangunan kepada desa atau kabupaten yang berhasil wujudkan “nol deforestasi”. Insentif seperti ini dapat juga diberikan kepada Satuan Tugas Pencegah Kebakaran Hutan karena ukuran kinerjanya adalah mencegah munculnya kebakaran. Apresiasi juga dapat diberikan dalam bentuk pemberitaan secara luas, agar dapat menginspirasi daerah lain untuk melakukan capaian yang sama atau bahkan lebih baik.

5. Melakukan Kampanye Pro-Kehutanan dengan Cara Kekinian  

Saya masih ingat betul kehebohan tatkala Presiden Jokowi mengenakan jaket bomber saat perhelatan ASEAN Gamer beberapa tahun lalu. Kemudian jaket tersebut menjadi hits di kalangan anak muda. Kejadian tersebut menunjukkan bahwa sosok pemimpin akan selalu menjadi pusat perhatian. Untuk itu, jika Saya menjadi presiden saya akan menggunakan pakaian dengan pesan-pesan pro-kehutanan yang dikemas ringan namun juga kekinian. Cara ini akan jauh lebih efektif daripada memberikan “ceramah” kepada generasi muda.

Biarkan kemudian tanpa mereka sadari, pola pikir pro-kehutanan menancap dalam hati dan sanubari. Sehingga perlahan namun pasti, anak muda akan menjadikan faktor lingkungan sebagai prioritas pertimbangan dari tindakan yang mereka ambil misalnya membeli produk ekolabel, menyuarakan opini tentang lingkungan, dan aktif mengikuti aksi jaga hutan melalui komunitas di sekitar mereka.

Deforestasi dan pembangunan rasanya sudah bagaikan saudara yang tak dapat dipisahkan. Pertanyaannya, dapatkah Indonesia membangun tanpa deforestasi ?

Tentu bisa, dengan catatan terdapat komitmen yang serius dan konsisten mencegah deforestasi dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah. Perlu Kita ingat selalu hutan tidak hanya tentang sebuah kawasan geografis, di dalamnya menyimpan berjuta pengetahuan, mewakili perjalanan sejarah hingga kaya akan unsur budaya. Hutan sudah jadi bagian dari Kita, begitu juga sebaliknya Kita adalah bagian dari hutan. Jika hutan hancur, Kitapun juga akan mengalami hal yang sama. Sebagai masyarakat khususnya anak muda #NegaraBerforest, Perlindungan Hutan Indonesia harus terus Kita wujudkan dengan segala upaya.

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog “I Love Indonesia” dengan tema “Seandainya Aku menjadi pemimpin, apa yang akan aku lakukan untuk Indonesia” yang merupakan kolaborasi antara Golongan Hutan dan Blogger Perempuan.  

#Kabarhutanku #GolonganHutan #GolHutXBPN #BlogCompetitionSeries

 

Standar Lelah itu Kita yang Bikin




“Kamu pernah engga sih ngerasa capek dan pingin rehat gitu ?”
Well, thaaaat question had been intimidated me so looooong. But thanks anyway.

Memang engga sedikit temen-temen yang menanyakan hal di atas, awalnya biasa aja, tapi lama-lama jujur eneg juga (piss wkwk). Maksud gue, gara-gara sering ditanyain begitu yang padahal niatnya baik banget tapi buat tipikal orang yang engga suka mendapatkan semacam social attention itu bikin engga nyaman personally hehe.

Karena balik lagi, apapun keputusan dan hal-hal yang berkaitan sama hidup yang paling tau dan kenal diri gue ya gue, selama masih melakukan hal-hal yang menurut kalian itu bikin capek berarti itu masih under capability banget. Dan rasanya cukup menarik untuk sedikit cerita tentang standar lelah maksimal yang bisa diterima setiap orang dimana range-nya macem-macem kan.

Sebenernya gue ngga secara instan bisa jadi orang yang yaa bisa dibilang tough kayak sekarang. Prosesnya panjang banget, dan baru-baru ini gue sadar ternyata kejadian-kejadian dua tahun terakhir bener-bener berhasil ngebentuk diri gue.

2018 : Segala Kepahitan Hidup Terjadi

Subtitlenya mendramatisir banget hmmmm.

Sebenernya benci banget harus mengingat banyak hal tentang 2018 (Tuhan bukan bermaksud tidak bersyukur). Tahun 2018 adalah tahun berat, bukan karena krisis ekonomi akibat Lehman Brother ya. Alhamdulillah 2018, sambil preparing beasiswa studi lanjut, gue keterima kerja di perusahaan swasta di Kota sendiri.

Sekitar bulan Januari, Ibu terserang paru-paru basah,dirawat sekitar satu bulan di Rumah Sakit. Saat itu jadi momen yang berat banget buat keluarga, karena seorang Ibu adalah cahaya bagi kami. Sempat dinyatakan sembuh dan semua kembali normal. Selang beberapa bulan, Ibu harus sakit kembali, dan kita engga tahu secara tepat penyakitnya, medis bilang Ibu baik-baik aja, dan segala pengobatan alternatif kita usahakan bareng bareng.

Di saat-saat kritis itu, gue kudu ngantor jam 9 pagi, pulang jam lima sore, lanjut magrib untuk ngasih kursus privat, karena jujur keuangan keluarga lagi krisis, dan kami tidak ingin pengobatan Ibu terhenti.

Nenek sering menginap di rumah kami membantu merawat Ibu, namun seringkali gue juga harus bergantian nyuapin Ibu, dan memandikan beliau, mengganti popok dan sebagainya sebelum ngantor. Rasanya engga lelah sama sekali, tapi secara mental menderita banget melihat orang tua kita semakin lemah setiap harinya.

Selama kurang lebih satu tahun semua berjalan demikian, kita saling menguatkan. Bahkan di saat yang sulit itu, Ibu sering kali menggenggam tangan anaknya sambil bilang bahwa Aku selalu kuat.
Tuhan kasih hadiah beasiswa studi lanjut namun November 2018, Ibu harus pergi.

Gue engga bisa cerita lebih jauh lagi, karena jujur engga nyaman memang cerita soal keluarga, dan agama. Itu prinsip hidup yang gue jalanin. Tidak share tentang mereka di sosial media, engga akan sama sekali mengurangi value nya, karena saking berharganya I wouldn’t let anyone know.

Intinya, sekarang gue sadarr meskipun menjalani berbagai peran dengan konsekuensi sejuta tanggung jawab, itu engga sama sekali menekan atau menghambat apa-apa yang sedang gue cita-citakan.

Meskipun kudu ke pasar dan masak setiap hari, gue masih punya cukup waktu kok untuk nulis.
Meskipiun kudu setor berita setiap hari, gue masih bisa enjoy me time sambil maskeran jam 1 pagi.
Atau meskipun harus merelakan waktu untuk bekerja dengan definisi orang kebanyakan, gue masih bisa cari sumber penghasilan untuk bantuin sekolah Adek-adek gue.

Tuhan sudah menakdirkan 2018 sebegitu indah dalam hidup yang gue jalanin. Gue Cuma bisa bersyukur dan tidak menyesali apalagi protes sama yang udah dikasih. Alhamdulillah

Jadi kalau ada yang tanya capek enggak, enggak kok, jujur. Pernah berada di titik paling bawah dan jatuh sejatuh-jatuhnya di 2018 membawa gue menjadi lebih dewasa, dan bisa ambil sikap atas apa-apa yang kudu dihadapin so far.

Ingat ya, standar lelah itu Kita yang bikin, not anyone else.


Perjalanan Sebagai Perempuan Bagi Julita



Hay Everyone, It's been a loooong time ya gak nulis di blog pribadi ini. Memang dua bulan belakangan lebih banyak menulis di kolom-kolom lainnya, sorry banget. To be honest, draft "Perjalanan Sebagai Perempuan Bagi Julita" udah cukup lama tinggal di laptop, butuh keberanian untuk pada akhirnya mempublish ini ke temen-temen. Semoga menikmati cerita ini yah !

First, gue mau menyampaikan rasa syukur udah dikasih kesempatan untuk terlahir sebagai Perempuan, bahkan kalau Tuhan kasih gue kesempatan untuk kembali ke belakang dan bebas memilih identitas gue, gue akan tetep memilih menjadi diri gue yang sekarang. Menjadi perempuan adalah sebuah anugerah, gue yakin temen-temen perempuan di luar sana juga merasakan yang sama.

Menjalani hidup sebagai perempuan memang banyak tantangan yang harus dihadapi, apalagi menurut gue pribadi isu-isu kesetaraan gender masih bias sampai saat ini, Kita masih berada di fase "Politics of recognition" masih sebatas concern pada pengakuan bagi kaum-kaum wanita, sementara mungkin di negara lain udah mencapai "Politics of redistributions".

Apakah Kita tertinggal ? (Mungkin) IYA. 

Gue bukan tipikal yang bener-bener menaruh perhatian penuh dalam perjuangan atau gerakan yang mengadvokasi hak-hak perempuan. Tapi gue usahakan untuk terus mengikuti isu-isu mengenai  perempuan tentu dengan "keterbatasan" gue, karena isu perempuan, isu kaumku akan selalu seksi di mata gue. Intinya gue mau minta maaf dan berterima kasih dari hati yang paling dalam, buat temen-temen yang bahkan memberikan 24 jam waktunya untuk berada di garda terdepan menyuarakan keadilan dan kesetaraan :)

Well, balik lagi ngomongin perjalanan sebagai perempuan  realistically enggak sedikit pahit dan manisnya.  Dan ini 100% pengalaman yang pernah gue rasain.

Gue rasa setiap perempuan pasti pernah mengalami pelecehan seksual dengan berbagai tingkatan, tapi sekecil apapun itu, namanya pelecehan ya pelecehan titik, tidak ada toleransi di dalamnya. Perempuan harus sama-sama sepakat soal ini.

Waktu gue SMP, yang kalau enggak salah masih umur 13 tahun, gue pernah dilecehkan sama anak-anak cowok seumuran gue. Kejadiannya udah lama banget, tapi masih lekat banget terekam tiap detailnya. Bahkan gue sampe sekarang engga percaya kalau hal yang sangat kurang ajar itu terjadi di tengah keramaian. Saat itu gue lagi jalan di tengah kerumunan, dan ada beberapa tangan yang meremas bagian belakang badan gue. Kalau ada yang tanya elo saat itu ngelawan kan? Coy saat itu gue cuma diem, nge freeze dan bengong tapi jantung gue berdetak kenceng banget.

Dari pengalaman di atas gue jadi tau pentingnya kita buat mengedukasi tentang pelecehan seksual sejak dini. Kasus-kasus perkosaan yang korbannya anak-anak di bawah umur masih banyak kita temui. Gue saat itu cuma bisa diem karena otak gue engga ke training untuk melakukan reaksi yang seharusnya gue lakuin, yaitu ngelawan (tentu dengan beberapa catatan dan penyesuaian), dan ini penting banget buat adek-adek agar tau cara bereaksi yang tepat saat mengalami pelecehan seksual, sehingga bisa mencegah tindakan pelecehan itu terulang kembali atau berkembang lebih serius, you know what I mean kan.

Masih banyak yang bilang kalau pelecehan terjadi karena pakaian wanita yang terbuka, gue gak mau banyak cincong, boleh banget dilihat datanya bahwa pakaian engga relate sama sekali sama kemungkinan terjadinya pelecehan seksual.



Malam setelah kejadian itu, gue cuma bisa menangis dan bahkan engga cerita sama siapa-siapa, semoga kita semua bisa menciptakan lingkungan yang nyaman bagi korban pelecehan seksual, apalagi anak-anak.

Pengalaman selanjutnya, sewaktu gue duduk di bangku SMA, gue mencalonkan diri sebagai ketua umum salah satu Ekstrakurikuler, saat itu bisa dibilang 70 Persen anggota lain mendukung gue. Tapi beberapa "Senior" yang saat itu lagi memegang kepengurusan mencoba untuk meyakinkan gue kalau ada kandidat lain yang lebih proper untuk menduduki jabatan tersebut. Gue sangat sportif kalau alasannya karena may be gue kurang bisa berkomitmen, bertanggung jawab atau hal-hal lain yang berhubungan dengan kemampuan gue menjalankan organisasi, tapi alasannya lebih ditekankan karena gue cewek, yang katanya lebih emosional, whatttttt, bayangin gimana perasaan gue. Pengalaman ini lumayan ngefek beberapa tahun dalam hidup, meskipun pada akhirnya gue memegang jabatan ketua 1, saat itu gue jadi less confident, gue sedikit mengiyakan kalau dalam kenyataannya cewek tidak pantas untuk menjalankan kepemimpinan dibandingkan cowok.


Terakhir, keputusan gue untuk lanjut studi ke jenjang magister adalah tantangan yang paling berat sejauh ini. Society kerap kali mencemooh atau melabeli gue dengan "ambisius" dan terlalu kebablasan, ya bahkan untuk mengenyam pendidikan lebih gue didefinisikan sebagai wanita yang kebablasan, lucu. Engga sampai disitu, ada cap-cap lain yang menemani seperti "tidak becus ngurus rumah" yang in fact gue sudah dua tahun belakangan menggantikan tugas Alhamarhum Ibu di Rumah, dan gue lakuin semuanya dengan senang hati. Juga sedikit banyak yang mengasihani Bapak karena dikiranya gue ngabisisn duit orang tua, in fact gue sekolah dengan beasiswa full, dan bukannya sombong gue juga bertanggung jawab akan kebutuhan materil adik gue di rantau dan juga sedikit kebutuhan keluarga. Alhamdulillah sejak tahun 2013 gue udah engga pernah minta uang, dan tentunya semua ini berkat rejeki dari yang di Atas :)

Tapi di balik kepahitan di atas, gue fokus ke banyak hal positif yang ternyata Tuhan gariskan kepada gue sebagai perempuan. Tumbuh dalam keluarga yang medioker tapi sangat demokratis, gue bersyukur dari kecil Bapak dan Ibu tidak pernah menaruh mimpi-mimpinya pada anak-anaknya, gue dibebaskan untuk memilih my life path sepenuhnya tanpa membedakan sedikitpun kalau gue perempuan. Itu bener-bener kenikmatan yang engga bisa dirupiahin, Gue selalu didukung penuh selama itu positif.

Selain itu, ternyata juga banyak sekali dukungan yang datang dari kaum adam. Misalnya Pasangan gue sekarang yang selalu meyakinkan kalau gue selalu bisa meraih ini-itu selama gue usaha. Adek-adek gue yang mengijinkan mbaknya jauh dari keluarga untuk menuntut ilmu dan senantiasa memberikan doa, menggantikan gue sementara waktu menjaga Bapak di rumah, terima kasih kalian luar biasa.

Dan hal-hal sederhana seperti membaca tulisan-tulisan gue, lalu memberikan feedback untuk diskusi lebih jauh, gue seneng banget jujur, berkarya lalu dihargai itu priceless, happy sekali. Bahkan sampai gue lupa bahwa batasan-batasan yang dulu memposisikan wanita hanya di dapur dan jauh dari perannya dalam memberikan ide-ide itu pernah ada.

Gue selalu yakin kalau wanita adalah advokat bagi dirinya dan juga hak-hak kaun wanita di sekitarnya. Semoga gue selalu dikasih kesempatan untuk mendukung temen-temen cewek di sekeliling gue yang hebat-hebat. Beberapa di antaranya Ibu-ibu rumah tangga yang mendedikasikan energi untuk keluarganya gila bener-bener punya hati mulia,wanita karir yang gue tahu menghadapi masalah namun tetap tegar, dan ada juga yang membangun bisnis sehingga bisa memberdayakan wanita lain disekitarnya. Gue salut buat kalian.

Terakhir, gue cuma mau menyampaikan kalau perjalanan kita sebagai wanita panjang dan terkadang berduri, tapi selama kita selalu tulus dan engga nyerah. semua hal pahit dan manis dalam hidup cuma akan membawa kita menjadi wanita yang lebih utuh. Semangat ya :))



Serabut Kelapa, Limbah yang Kini Menjelma Sumber Devisa Negara

Ilustrasi/Sumber:groworganic.com


Bukan rahasia jika sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang memberikan kontribusi pada perdagangan internasional melalui ekspor. Selama ini primadona komoditas ekspor nasional banyak didominasi oleh produk perkebunan seperti Karet alam, Kelapa Sawit, Biji Kopi, dan Kakao. Ternyata jika ditelisik lebih dalam, masih banyak sekali produk pertanian baik perkebunan maupun non perkebunan yang memiliki potensi luar biasa sebagai komoditi penyumbang devisa.

Menurut data FAO, Indonesia merupakan salah satu produsen serabut kelapa tertinggi di dunia. Misalnya, pada tahun 2017 lalu kontribusi Indonesia mencapai 31% atau sebesar 18,98 juta ton di posisi pertama produsen serabut kelapa dunia mengalahkan Filiphina dan India dengan selisih yang cukup signifikan. Hal ini merupakan sebuah keungggulan komparatif yang harus dimanfaatkan sebagai senjata baru untuk berkiprah di pasar internasional.

Lonjakan Permintaan Serabut Kelapa di Pasar Internasional

Dilansir dari Kanal Resmi Kementrian Pertanian RI, mengungkapkan ekspor serabut kelapa atau yang dikenal dengan coco fibre, coir fiber, coir yarn, coir mats, and rugs di pasar internasional sangat prospektif untuk ditingkatkan. Hal ini seiring dengan meningkatnya permintaan produk turunan kelapa di pasar global sebagai bahan baku industri.

Data Kementrian Perdagangan menunjukkan pada periode Januari-April 2020, ekspor serabut kelapa mencapai 1,5 ribu ton senilai 8 Miliar Rupiah dengan tujuan utama Tiongkok. Kemudian diikuti oleh negara Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka dan Jerman sebagai pelanggan pasar global produk coco fibre. Fenomena ini menggeser stigma yang berkembang di masyarakat bahwa serabut kelapa dulu dianggap limbah, kini malah mampu menyumbang devisa bagi perekonomian.

Tingginya permintaan serabut kelapa di pasar global akibat perkembangan teknologi dan kesadaran konsumen untuk kembali ke bahan alami. Kini produksi karpet, jok, dashboard kendaraan, kasur, bantal mengandalkan serabut kelapa sebagai bahan baku utama. Bahkan pada beberapa negara maju serabut kelapa juga digunakan sebagai pengendali erosi.


Sertifikasi 100 ton Serabut Kelapa asal Jawa Barat 

Kementrian Pertanian (Kementan RI) melalui Badan Karantina Pertanian melakukan sertifikasi terhadap 100 ton serabut kelapa produksi asal Jawa Barat tujuan China. Total nilai ekspor serabut kelapa yang bersal dari Petani Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran ini mencapai 396 juta Rupiah.

Kepala Karantina Pertanian Tanjung Priok, Purwo Widiarto menyerahkan langsung sertifikat kesehatan tumbuhan atau Phytosanitary Certificate (PC) sebagai persyaratan protokol ekspor negara tujuan kepada PT. Nusantara Sukses Sentosa di Depo DNS Cakung, Jakarta Utara. Penyerahan ini dilaksanakan dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan penyebaran covid-19.

Produksi serabut kelapa sawit tidak boleh terhambat adanya pandemi. Hal ini senada dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang berulang kali menyampaikan kegiatan produksi pertanian terus berjalan. Mentan RI memastikan masyarakat bahwa ketersediaan pangan tetap aman selama pandemi ini berlangsung.

Hilirisasi Serabut Kelapa Ciptakan Nilai Tambah di dalam Negeri

Ilustrasi/Sumber:ukgarden.com


Melejitnya permintaan dan ekspor serabut kelapa ke pasar internasional memang sangat menggembirakan. Namun, menjadi sebuah catatan bersama bahwa teknologi hilirasi serabut kelapa sawit perlu dikembangkan segera. Peran lembaga riset dan perguruan tinggi sangat diperlukan disini.

Ke depan nilai tambah industri serabut kelapa dapat dinikmati di dalam negeri tanpa perlu bocor ke luar negeri. Cap sebagai negeri pengekspor bahan baku yang selama ini disandang Indonesia harus segera diganti dengan pengekspor produk akhir. Dengan begitu pertumbuhan ekonomi menjadi semakin pasti untuk digenggam bersama.


Ekspresikan Dirimu dengan Matte Made in Heaven Absolute New York Indonesia




Mengenal Absolute New York (ANY)

Hi Absolute Babe.

Aku yakin nama Absolute New York Indonesia sudah terkenal di dunia kosmetik. Well, Absolute New York merupakan merek produk kecantikan berkonsep modern asal New York. Menariknya, berbagai rangkaian produk dari ANY terinspirasi dari gaya hidup wanita New York yang feminin, memikat, dan menyenangkan.

Semua produk Absolute New York punya kualitas yang tidak main-main, mulai dari produk kecantikan untuk wajah, bibir, dan mata tersedia lengkap. Berbicara make up memang enggak ada habisnya, karena tren terus berkembang. Saat ini make up bukan hanya riasan yang menempel pada wajah, lebih dari itu make up bertransformasi menjadi salah satu cara wanita untuk mengekspresikan dirinya. 

Dan Lipstik adalah cara terbaikku mengekspresikan diri. 
Bagaimana denganmu Babe ?

Lipstik Matte Made in Heaven Absolute New York

Aku bersyukur banget saat Absolute New York  merilis lip produk Matte Made in Heaven. Pengen teriak ini produk yang bener-bener Aku cari selama ini.




Matte Made in Heaven tampil dengan sebuah terobosan konsep 2in1 yang menyatukan lip liner dan liquid lipstick dalam satu kemasan. Presentasi lip produk ini oke dengan packaging ramping, jadi gampang banget dibawa kemana aja. Selain itu, tube lip liner dan liquid lipstick Matte Made in Heaven ini sturdy banget jadi aman, enggak perlu resah akan tumpah di tas atau pouch kesayangan.

Penasaran dong dengan keajaiban lainnya dari Matte Made in Heaven.
Now Lets get into it !



Ingredients


First of all, sebagai wanita cerdas wajib untuk memastikan kandungan produk kecantikan yang dipilih, karena sekeren apapun produknya, kalau tidak aman buat apa ?

Setelah Aku teliti kandungan dari lip produk ini, berita baiknya adalah Matte Made in Heaven Absolute New York 100% aman. It’s free Paraben,Sulfate,Pthalate and Fragrance.



Good job Matte Made in Heaven!


The Formula and Performance



As usual my review will be originally written based on my own experience alias sesuai dengan pengalamanku sendiri.

Lipstik matte memang idaman wanita tapi penuh dilema. Surprisingly, Matte Made in Heaven memiliki tekstur yang ringan di bibir meskipun pakai dua layer tapi masih terasa oke (you know I’m really happy being surprised by good things like this). Setelah beberapa jam digunakan lipstik tidak cracking, enggak paham dengan kandungan lipstik tapi formula Matte Made in Heaven patut diacungi jempol.

Lip produk ini watery based, teksturnya creamy yang cenderung cair. Finishnya matte dan untuk sampai ke benar-benar matte membutuhkan waktu kurang lebih 1-2 menit. Tidak masalah karena seandainya mau bikin ombre lips, Aku jadi punya cukup waktu untuk blend lip creamnya di bibir.

Semua warnanya pigmented (Intense Colour). Lip produk ini punya daya tahan yang oke. Aku coba makan santan cuman ngefek fading sedikit aja di bagian tengah. Jadi  bisa dipastikan nih kalau seharian kita hanya makan dan minum yang ringan, lipstik ini stay seharian. Saat minum menggunakan sedotan tidak meninggalkan bekas alias cukup transferproof. Terakhir untuk aroma hampir nggak tercium apa-apa saat diaplikasikan ke bibir.  

Thanks to Matte Made in Heaven !

The Shades



Let’s go to the shades Babe. Matte Made in Heaven terdiri dari 7 shades, yang menurutku warnanya bener-bener favorit wanita Indonesia. Biasanya warna lipstik mirip-mirip, tapi dari ke-tujuh warna Matte Made in Heaven ini punya karakter masing-masing, unik, dan berbeda satu sama lain.  

MLIH. 01 Instinct (Dusty Rose Nude)
Lebih ke arah Pink Salmon gitu, cocok untuk pemakaian daily. Kesannya natural dan match untuk semua tone kulit.

MLIH. 02 Sly (Warm Medium Brown)
Untuk yang bosan dengan nuansa warna pink, Sly bisa jadi pilihan tepat. Warnanya orange kecoklatan, jadi bukan pure orange. Masih cocok untuk dipakai daily.

MLIH. 03 Hyped (Bright Fuchsia)
Ini pas banget untuk yang suka warna-warna mencolok. Hyped dengan warna Pink Stabilo atau Bright Fuchsia ini pas banget dipakai untuk ke acara tertentu, apalagi ke kondangan mantan eh.

MLIH. 04 Fever (True Red)
Untuk penyuka warna lip produk dengan nuansa klasik pasti akan jatuh cinta sama shades Fever, tampilan seksi ala-ala Ariel Tatum gitu babe.

MLIH. 05 Hostile (Brick Plum)
Hostile dengan warna Dark Chocolate atau Brick Plum ini terlahir buat kamu yang ingin tampilan ala-ala Grunge Make Up gitu.

MLIH. 06 Bitten (Berry Red)
Shades ini unik banget dengan warna merah darah atau Berry Red. Buat yang punya acara pesta dengan konsep Old Fashion sudah pasti akan bersinar dengan Bitten. Dijaminnnnn.

MLIH. 07 Chai (Taupe Brown)
Chai hadir dengan warna yang pucat diantara shades lainnya, dan ini pas buat Beauty Ladies yang punya kulit fair tone. Chai juga cocok banget untuk dijadikan base ombre lips, tinggal ditimpa dengan Bitten atau Hostile pasti finishnya cakep.

My Favorites!

Cakep-cakep dong warnanya, serangkaian Matte Made in Heaven udah merupakan paket komplit yang bisa diandalkan di berbagai situasi, dari daily sampai pesta dengan beragam konsep. Keren gasih pake banget. 

To be honest I’m so in love sama shade Chai (No.7) karena bikin ombre lips Aku lebih paripurna. Apalagi buat ngampus deuh cakep parah, longlast enggak perlu banyak touch up.






Overall Review 


Perlu diingat ya Babe, penilaian produk berdasarkan pengalaman dan hasil percobaan pribadi selama kurang lebih dua minggu dari pertama kali produk diterima dan diuji coba. Aku melihat dari empat kriteria yang menurutku sangat menentukan kualitas lipstik, tentu setiap orang punya standar berbeda.



Beli Produk yang Original, dimana ya?

Siapa sih yang tidak ingin memiliki Matte Made in Heaven ini dengan segala keajaibannya ? Absolute Babe bisa dengan mudah mendapatkan lip produk ini di konter resmi Absolute New York Indonesia yang sudah tersebar di beberapa kota.

Price : Harganya Rp 105.000, waktu itu lagi promo diskon 10% jadi Rp 94.500. Happynya Aku!


Matte Made in Heaven juga bisa didapatkan dengan mudah melalu pembelian online di makeupaddictindo.com
Just click https://www.makeupaddictindo.com/produk/matte-made-in-heaven/ choose and get Matte Made in Heaven as soon as possible.

Overall I Highly reccommend Matte Made in Heaven Absolute New York ini. Dengan konsep 2in1, formula dan performa yang oke, harga yang affordable serta shades yang cantik, prediksiku lip produk ini akan banyak dicari dan jadi trendsetter di tahun 2020.

So, take it now and let’s express ourself with perfect lips Babe !