Hai Milenial ! Ini Tiga Langkah Mudah Dukung Pasar Rakyat

 


“17 November 2018, hari terburuk sepanjang usia.

Ibu meninggalkan Kami sekeluarga dalam tangis tanpa jeda.

Hari itu segala hal tentang hidup berubah seketika.”

Ibu adalah nyawa keluarga, sehingga semenjak kepergian beliau hidup Kami jadi berbeda. Sebagai anak sulung, tugas domestik menjadi tanggung jawabku. Memasak dan membersihkan rumah tak memberatkan, kecuali berbelanja ke pasar. Pengalaman buruk masa kecil “tak sengaja” kencing di celana saat menemani Ibu belanja meninggalkan trauma. Selain itu, pasar tradisional yang kini lebih dikenal pasar rakyat juga lekat dengan karakter kumuh dan bau. Itu menjadi alasan tambahan mengapa Aku enggan berbelanja ke pasar.

Wajah Baru Pasar Rakyat, Tak Lagi Kumuh dan Bau...

Mau tak mau Aku harus tetap ke pasar. Kali pertama ke Pasar Tanjung yang merupakan ikon kota Jember, Aku terkejut karena potret lama pasar yang bau dan kumuh tak lagi kutemui. Pasar kini megah dengan infrastruktur memadai, pedagang berjejer rapi menyesuaikan jenis dagangan.



Merespon pandemi, pasar kini dilengkapi fasilitas mencuci tangan yang tersedia di beberapa titik strategis. Hal ini tentunya menambah kenyamanan berbelanja di tengah virus yang kian masif.


Dari masa ke masa, pasar rakyat selalu memenangkan hati para ibu. Alasannya yaitu tawar-menawar, hanya di pasar rakyat Kita bisa leluasa melakukan negosiasi harga. Sayangnya tak semua orang berhasil mendapatkan harga miring. Menurut beberapa sumber, jika ingin memenangkan hati pedagang gunakan bahasa yang sama. Jika penjual berbahasa Jawa, maka gunakanlah bahasa yang jawa, begitu pula jika Bahasa Madura dan lainnya. Dengan jurus itu pedagang akan menganggap Kita saudara sehingga menyetujui harga yang ditawarkan.

Sebagai catatan, tawarlah dengan harga yang wajar ya sahabat !


Adanya standarisasi membuat suasana berbelanja di swalayan tampak seragam. Berbeda sekali dengan pasar rakyat yang kaya keberagaman. Dari aspek bahasa, Kita akan menemukan beragam bahasa daerah yang menjadi simfoni tersendiri. Selain itu, penjual satu dengan penjual lainnya yang berasal dari berbagai suku merepresentasi keberagaman Ibu Pertiwi. Kita tak hanya menjumpai suku lokal, namun juga beberapa perantau dari luar pulau.

Kebanyakan dari Kita mungkin pernah meragukan kelengkapan pasar rakyat. Padahal pengalaman membuktikan pasar mampu mengakomodir kebutuhan pangan dan sandang konsumen. Berbagai jenis sayuran modern seperti paprika, selada, dan bawang bombay tersedia lengkap dengan harga bersaing. Pasar rakyat juga satu-satunya yang masih menyediakan sayuran yang mulai langka, seperti Kenikir, Kecombrang, Jantung Pisang, Selada Air, sampai Pakis Sayur.

Bagiku, pasar rakyat tempat terbaik bernostalgia kenangan masa kecil. Di sana Kita dapat menemukan aneka jajanan tempo dulu. Misalnya Klepon, Putu Ayu, Kue Cucur, dan masih banyak lagi. Alasan lain yang bikin betah berlama-lama belanja di pasar rakyat adalah suasana akrab yang dibangun. Hubungan pembeli dan penjual di pasar rakyat bisa sedemikian dekat. Bahkan bagi sebagian orang, pasar rakyat adalah ruang untuk bercerita dan berkeluh kesah.

Pasar Rakyat di Tengah Pusaran Perubahan

Arundhati Roy menulis, pandemi yang saat ini Kita hadapi adalah sebuah portal, pintu gerbang antara dunia lama dan dunia baru. Dunia baru yang sedang dan akan Kita hadapi jelas berbeda. Kini digitalisasi menjadi kunci untuk tetap bertahan di tengah pusaran perubahan.

Pertanyaannya, siapkah pasar rakyat Kita ?

Fakta di lapangan menunjukkan masih sedikit pedagang pasar yang benar-benar menguasai teknologi. Meskipun sudah banyak yang mengantongi ponsel pintar,tapi hanya sebatas penggunaan dasar untuk berkomunikasi. Padahal kemampuan berdagang online kini menjadi kebutuhan. Hal ini disayangkan karena Pasar Rakyat sangat potensial dengan keberagaman dan keunikannya.

Masalah ini bukan hanya tugas pemerintah, ini tanggung jawab bersama...

Harapan selalu ada, bersama Festival Pasar Rakyat sudah saatnya pasar rakyat Bangkit Bersama Sahabat. FPR merupakan sebuah gerakan sosial Adira Finance yang bertujuan mendukung pasar rakyat sebagai ruang publik kreatif melalui pemberdayaan, sosialisasi, kesenian dan budaya.  


Pasar rakyat tak hanya menjalankan peran ekonomi seperti menyerap tenaga kerja, tonggak perekonomian UMKM, namun lebih jauh sebagai etalase kekayaan daerah, karakter kota, destinasi wisata unik dan kamus hidup kuliner Indonesia.”



Pertama, kontribusi yang dapat Kita lakukan sederhana yaitu dengan dengan berbelanja ke pasar rakyat terdekat. Kedua, mari secara serentak menggunakan platform yang Kita miliki untuk mempromosikan pasar rakyat. Ketiga, sebagai Milenial Kita banyak terlibat dalam berbagai organisasi. Jika selama ini pedagang pasar jarang tersentuh anak muda, sudah saatnya social project yang dijalankan menyasar pasar rakyat dengan kegiatan yang berfokus pada pendampingan berdagang online. Ketiga kontribusi tersebut sangat berarti bagi keberlanjutan pasar rakyat yang memegang segudang peran bagi negeri.

Aku sudah mendukung pasar rakyat, Bagaimana dengan Sahabat Milenial ?

#AdiraFinanceID

#BangkitBersamaSahabat

#FestivalPasarRakyat


 

 

 

 

Kampus Tempat Kita Menimba Pengetahuan, Bukan Kawasan Kekerasan Seksual

Bagiku menjadi seorang perempuan adalah sebuah perjalanan, dan melangkah menuju kampus impian adalah bagian perjalanan yang paling menentukan. Kala itu, Aku merayakan perubahan status menjadi mahasiswa dengan menyusun segenap mimpi dan harapan. Sayangnya euforia tak berlangsung lama, rangkaian kegiatan orientasi menjelma menjadi mimpi buruk bagi para mahasiswa baru, tak terkecuali diriku.

Sebagai pribadi yang vokal berpendapat, wajar jika namaku masuk dalam daftar khusus. Sehingga ketika jurit malam tiba, Aku menjadi santapan empuk para senior kampus. Salah satu kejadian yang masih terekam jelas adalah saat dimana Aku dikerumuni senior laki-laki. Mereka mengintimidasi dengan menanyakan banyak hal yang tak ada hubungannya dengan visi dan misi orientasi. Ada juga yang sengaja mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga menyisakan jarak kurang dari lima sentimeter. Sungguh terlalu.

Malam masih panjang, Aku juga menyaksikan bagaimana beberapa mahasiswi lainnya diberi hukuman dengan menari-nari di depan para senior. Jujur ada dorongan kuat untuk protes dan memberontak, namun nyaliku tak cukup. Terlebih lagi, saat itu Aku kesulitan dalam mengindentifikasi apakah perilaku tersebut termasuk kekerasan berbasis gender atau bukan karena minimnya pengetahuan.

Beruntung sekali diriku karena berkesempatan mengikuti Webinar Cerdas Berkarakter Kemendikbud dengan tema “Kampus Merdeka dari Kekerasan Berbasis Gender”. Dari sana pemahamanku mengenai kekerasan perlahan terang. 

Sangat disayangkan karena kampus sebagai institusi pendidikan ternyata rentan akan kasus Kekerasan Berbasis Gender (KGB) dimana berdasarkan data berada di urutan ketiga setelah jalanan dan transportasi umum. Komnas Perempuan menuturkan terdapat 174 kasus kekerasan di kampus pada 2019.  Kampus sebagai naungan civitas academica sudah semestinya bersih dari tindak kekerasan. Berikut perbaikan yang sangat mungkin dilakukan oleh berbagai pihak terkait (mahasiswa, dosen, karyawan dan pimpinan kampus).  

1.    Tingkatkan Pengawasan di Lokasi Rawan Kekerasan

Jika selama ini kamera pengawas atau CCTV hanya diletakkan di lokasi strategis seperti kantor pimpinan kampus, atau lobi sudah saatnya diperluas ke titik-titik rawan kekerasan. seperti lorong, lahan parkir dan pojok kamar mandi untuk mengurai kemungkinan terjadinya hal-hal yang tak diinginkan.

2.    Hotline dan Pojok Aduan Kekerasan Berbasis Gender

Beberapa korban kekerasaan seksual di sekitar kampus menuturkan kesulitan untuk melaporkan pelaku setelah kejadian karena belum ada wadah yang mudah mereka akses. Bercermin pada lonjakan data kekerasan, maka sudah sepatutnya kampus menyediakan Hotline (yang dapat dihubungi pada jam rawan) dan pojok aduan di dalam kampus yang terintegrasi dengan pihak keamanan 

3.    Edukasi KGB sebagai Mata Kuliah Umum Mahasiswa Baru

Data berbicara bahwa mahasiswa merupakan korban potensial dari tindak Kekerasan Berbasis Gender (KGB). Membekali mereka dengan edukasi dalam hal mengidentifikasi bentuk-bentuk kekerasan hingga mekanisme pelaporan menjadi sangat penting yang dapat disisipkan sebagai mata kuliah umum bagi mahasiswa baru. Dengan begitu, diharapkan mahasiswa memiliki kesadaran dan keberanian bersuara jika mengalami kekerasan atau ketika menyaksikan perilaku tersebut di sekitar mereka utamanya di lingkungan kampus.

            Terakhir, Aku sependapat dengan Ibu Alimatul Qibtiyah, Komisioner Komnas Perempuan yang mengatakan bahwa semangat yang perlu dibangun adalah memberikan efek jera kepada pelaku bukan hanya memenjarakan, sehingga tujuannya adalah menciptakan lingkungan kampus yang bebas dari Kekerasan Berbasis Gender karena semua orang berhak merasa aman dan terlindungi dimanapun mereka berada terlebih di dalam kampus sebagai institusi pendidikan.


 #CerdasBerkarakter
#BlogBerkarakter
#AksiNyataKita
#LawanKekerasanBerbasisGender
#BantuKorbanKekerasan