Minyak Jelantah, Dulu dibuang Kini disayang

Dokumen Pribadi

"Masak apa ya hari ini?" 

Pertanyaan tersebut sudah jadi makanan sehari-hari bersamaan dengan membuka tirai jendela di pagi hari. Sebagai Ibu rumah tangga dadakan, yang baru terjun ke tugas domestik setelah kepergian Ibu pada 2018 silam, Aku belum piawai menentukan kreasi menu harian untuk perut bapak dan adik. Beruntungnya Aku hidup di era teknologi, sehingga selalu ada pertolongan google yang siap membantu kapan saja. 

Membaca rekomendasi dari pencarian internet Aku menemukan beragam inspirasi, mulai dari tumis kangkung, oseng tahu tempe hingga ayam goreng. Aku kemudian menyadari bahwa menu harian ala emak-emak Indonesia memang tak pernah bisa lepas dari goreng-gorengan. 

Dokumen Pribadi

Bahkan jika terpaksa harus membeli sarapan atau makan malam di luar rumah, pilihannya tetap sama, mulai dari nasi goreng, pecel lele, lalapan ayam goreng, soto ayam, atau bakso. Semua menu tersebut juga tidak luput menggunakan minyak goreng.  

Dokumen Pribadi

Senada dengan hal tersebut, data Traction Energy mencatat konsumsi minyak goreng di Indonesia cukup fantastis. Misalnya, sebanyak 13 juta ton atau 16,2 juta kilo liter pada tahun 2019 lalu. Meski enggan, harus kita akui bahwa budaya mengonsumsi makanan berminyak sudah mendarah daging. Bukan begitu ?

Minyak Jelantah : Dilema Ibu Rumah Tangga 

Terlepas dari isu kesehatan, memasak makanan berminyak sehari-hari pasti menyisakan limbah berupa minyak sisa penggorengan atau yang familiar dengan sebutan minyak jelantah. Biasanya setiap rumah memiliki wadah khusus untuk menampung minyak jelantah.

Sayangnya, volume yang terus bertambah tiap hari menciptakan dilema tersendiri, harus dibuang kemana minyak sisa penggorengan tersebut. Dibuang ke sungai jelas bukanlah pilihan yang bijaksana, digunakan kembali dapat membahayakan kesehatan, sementara disimpan terus-terusan juga tidak mungkin dilakukan. 

Dokumen Pribadi

Kira-kira begitulah gambaran hubungan antara Ibu rumah tangga dan minyak jelantah, sangat dilematis bukan ?

Sebuah Online Gathering bulanan Eco Blogger Squad bersama Madani Berkelanjutan dan Traction Energy Asia membawaku menemukan solusi atas dilema yang selama ini diderita. Well, ternyata minyak jelantah yang terbuang, ternyata harus kita sayang-sayang karena ternyata memiliki manfaat yang menjanjikan. Bagaimana ceritanya, penasaran kan ? 

Minyak goreng bekas alias minyak jelantah (used cooking oil/UCO) berpeluang untuk diolah menjadi biodiesel yang dapat digunakan menjadi subtitusi minyak solar bagi mesin diesel untuk sektor transportasi maupun industri. 

Dokumen Pribadi

Usut punya usut, pemanfataan minyak jelantah untuk biodiesel bukanlah hal yang baru di dunia. Faktanya, beberapa negara lain sudah memanfaatkan minyak jelantah untuk energi yang lebih ramah lingkungan. Nah di Indonesia sendiri, Institur Pertanian Bogor telah memanfaatkan energi yang diolah dari minyak jelantah, keren banget ya ?

Secara sederhana, siklus pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel diawali dengan proses pemurnian, penyaringan, kemudian proses mencampur hasil filtrasi dengan arang aktif lalu dinetralkan. Setelah itu dilakukan transferivikasi yang menghasilkan biodiesel kasar, kemudian kembali dilakukan proses pemurnian untuk menghasilkan biodiesel. Serangkaian proses tersebut menggunakan prinsip zero process.

Potensi Manis Biodiesel dari Minyak Jelantah di Masa Depan

Meminjam data Traction Energy, pemanfaatan minyak jelantah guna biodiesel di Indonesia didukung oleh ketersediaan bahan baku. Data mencatat, sebanyak 3 juta kiloliter minyak jelantah dikumpulkan di Indonesia pada tahun 2019, dimana sebanyak 1,6 juta kilo liter berasal dari rumah tangga perkotaan besar. Hal ini mengindikasikan biodiesel dari minyak jelantah memiliki potensi yang manis di masa depan.  

Dilansir dari laman resmi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), jika minyak jelantah ini dikelola dengan baik dapat memenuhi 32% kebutuhan biodiesel nasional. Bahkan dikatakan lebih jauh, biodiesel dari minyak jelantah memiliki peluang untuk dipasarkan ke luar negeri. Selain itu, proses produksi biodiesel ini lebih hemat 35 % dibandingkan dengan biodisesel dari CPO (crude palm oil) serta mengurangi 91,7% emisi CO2 dibanding solar. Wah luar biasa ya !

Dokumen Pribadi

Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel merupakan jawaban dinanti-nanti. Solusi ini tidak hanya mengikis dilema ibu rumah tangga, namun sekaligus sumber pendapatan bagi masyarakat secara luas. Ya, selain berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan namun juga bisa cuan. Luar biasa ya ?

Aku kemudian menemukan sebuah kisah menarik nan inspiratif dari Tanah Borneo. Dilansir laman Kompas, Sardji Sarwan, seorang warga asal Tarakan Timur berhasil meraup omzet hingga 2 juta per hari dengan mengolah  mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel. Aduh bikin iri ya...

Di balik segudang kebaikan biodiesel dari Minyak jelantah, sayangnya Traction Energy Asia mencatat pemanfaatan minyak jelantah untuk biodiesel masih belum optimal. Dari sekitar 3 juta kiloliter minyak jelantah, hanya kurang dari 570 kiloliter yang dimanfaatkan sebagai biodiesel maupun untuk kebutuhan lainnya. Pemanfaatan minyak goreng bekas masih didominasi oleh penggunaan untuk tujuan daur ulang sebesar 1,95 juta ton atau setara dengan 2,43 juta kiloliter. Sedangkan, untuk ekspor sebanyak 148,38 ribu ton atau 184,09 ribu kiloliter. 

Tantangan dan Program Implementasi Biodiesel Berbasis Minyak Jelantah 

Dalam sebuah Webinar yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), diutarakan bahwa terdapat beberapa tantangan yang dihadapi dalam pemanfaatan biodiesel berbasis minyak jelantah diantaranya minyak jelantah mengandung asam lemak bebas dengan konsentrasi cukup tinggi sehingga membutuhkan katalis asam homogen dan diperlukan pengembangan teknologi yang efisien dan terjangkau. 

Lebih jauh, dijelaskan bahwa diperlukan pula pemetaan potensi bahan baku dan mekanisme pengumpulan dari restoran, hotel dan rumah tangga. Juga perlu penentuan zonapengembangan program karena sebaran lokasi dimana sumber yang tidak simetris dengan lokasi pengolahan biodiesel. Tantangan dan yang menjadi isu utama yaitu dibutuhkan mekanisme harga beli dan belum ada insentif untuk pengembangan biodiesel berbasis minyak jelantah karena saat ini berfokus insentif berbasis minyak sawit. Saat ini baru ada dua badan usaha biodiesel berbasis minyak jelantah, yaitu Alpha Global Cinergy dan PT. Bali Hijau Biodiesel.

Implementasi biodiesel berbasis minyak jelantah di Indonesia dapat dilakukan dengan beberapa program, diantaranya:

- Program mandatori biodiesel

Kontribusi biodiesel berbasis minyak jelantah sebesar 2.765 kL dari 2014-2018. Adapun produksi kemudian berhenti karena faktor keterbatasan bahan baku dan tingginya biaya produksi.

- Program pengembangan di Bali

PT. Bali Hijau Biodiesel telah mengembangkan biodiesel berbasis minyak jelantah yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar bus sekolah dan genset di beberapa hotel/resort di Bali. Kapasitas terpasang 360 liter/tahun.

- Program pengembangan di Kalimantan

Kelompok swadaya masyarakat di Tarakan Timur berhasil memproduksi biodiesel berbasis minyak jelantah dengan rat-rata produksi 180 L per hari dan dijual dengan harga Rp.11. 000/liter. Dari produksi ini mendapat keuntungan 2juta/hari.

Apa Kontribusi yang dapat Kita lakukan ? 

Well, tidak dapat dipungkiri bahwa  pengumpulan use cooking oil dari sektor rumah tangga akan sangat susah dilakukan, untuk itu peran serta kita sangat dibutuhkan. 

Kita dapat mengirimkan minyak jelantah  ke posko-posko penampungan terdekat untuk didaur ulang. Namun sebelum dikirim, Kita harus melakukan aksi 3T, yakni Tiris, Tuang, dan Tampung. Minyak jelantah yang dikirimkan sudah dalam kondisi bersih dari sisa-sisa bahan makanan. 

Mudah mudah ? Mari berkontribusi !









Nikmatnya Soto Ayu, Kuliner Kerakyatan Legendaris Khas Kota Jember

“Asalnya dari mana Mbak, bagaimana ceritanya bisa merantau hingga ke ibu kota ?”
Pertanyaan di atas kerap kali membuka percakapan bersama orang yang baru saya kenal. Sebagai warga asli Jember yang sedang menimba ilmu di Jakarta, Aku sering kesulitan menjelaskan daerah asal kepada orang lain. Sebenarnya diri ini maklum, Jember sebagai kota “menengah” yang tidak tergolong kota besar tapi juga bukan kota yang terpencil memang tidak terdengar familiar bagi sebagian besar warga kota metropolitan.

Awalnya saya mencoba menjelaskan Kota Jember dilihat dari letaknya dengan Kota Surabaya sebagai ibu kota Jawa Timur hingga destinasi wisatanya. Alih-alih menuai pemahaman, yang bertanya justru tambah bingung karena merasa asing dengan penjelasan tersebut. Hingga akhirnya Aku menemukan cara paling efektif untuk menjelaskan kota kelahiran dengan menyebut beberapa artis kenamaan tanah air yang berasal dari Jember.

“Saya dari Jember, salah satu daerah di Provinsi Jawa Timur, itulo kota kelahiran sederet penyanyi papan atas seperti Anang Hermansyah, Tiara Idol dan Dewi Persik”

Mendengar itu, mereka yang bertanya langsung mengangguk paham. Terkadang kejadian-kejadian semacam itu membuat saya sedikit emosional. Sayang sekali, padahal Jember bukan hanya kota yang handal melahirkan selebriti. Banyak sekali keistimewaan dari Kota Jember yang seharusnya bisa dijadikan identitas yang melekat. 

Misalnya, wisata Pantai Papuma yang begitu memesona, Jember Fashion Carnival (JFC) yang sudah mendunia hingga beragam kuliner legendaris kerakyatan yang kaya akan rasa. 

Berbicara kuliner kerakyatan di Kota Jember, rasanya menarik jika kita telisik lebih jauh, karena apapun yang berkaitan dengan perut memang harus dibahas tuntas. Betul begitu ? 

Soto Ayu, Kuliner Kerakyatan Legendaris Kota Jember (Dokpri)

Mana ada orang Indonesia yang tidak mengenal soto ? Kuliner nusantara yang populer dari sudut-sudut desa hingga ke mancanegara. Sebagian besar masyarakat Indonesia sudah pasti menggandrungi kuliner yang satu ini. Soto kerap kali jadi menu hidangan primadona di meja makan. 

Kuliner satu ini dengan piawai mampu memanjakan lidah di berbagai situasi, baik hujan maupun panas, baik malam atau siang. Betul tidak ? 

Kendati begitu merakyat, soto ternyata bukanlah kuliner asli Indonesia. Usut punya usut, sejarah mengungkap soto sebenarnya datang dari negeri tirai bambu. Hal ini dijelaskan oleh Ary Budiyanto dan Intan Kusuma Wardhani (2013) dalam penelitiannya yang bertajuk “Menyantap Soto Melacak Jao To Merekonstruksi (Ulang) Jejak Hibriditas Budaya Kuliner Cina dan Jawa”. 

Peneliti asal Institute for Research and Community Service Petra Christian University tersebut juga menjelaskan istilah “soto” diambil dari salah satu jenis makanan China yang dalam dialek Hokkian disebut “cau do”, “jao to”, atau “chau tu” yang berarti rempah-rempah dan jeroan.

Secara lebih jauh Denys Lombard dalam buku “Nusa Jawa 2, Silang Budaya Jaringan Asia” (1996) mengungkapkan, soto mula-mula dikenal sebagai masakan berkuah dengan potongan daging atau jeroan di pesisir pantai utara Jawa pada abad ke-19 Masehi hingga akhirnya kemudian 'diadopsi' ke seluruh penjuru nusantara.

Uniknya, setiap daerah di Indonesia memiliki kuliner soto dengan ciri khas masing-masing. Di Jawa Barat misalnya, terdapat Soto Mi Bogor, Soto Bandung, Soto Ayam Sunda, dan Soto Sapi Banten. 

Kendati berdekatan, Ibu Kota Jakarta memiliki jenis sotonya sendiri, yaitu Soto Betawi yang khas dengan santan kental dan kerupuk warna-warni. Lain pula dengan Jawa Tengah, di sini kita bisa menemukanSoto Kudus, Soto Purbalingga, Soto Sokaraja, Soto Wonogiri, dan Soto Pekalongan. 

Beberapa daerah di Jawa Timur juga memiliki aneka ragam soto, mulai dari Soto Madura, Soto Lamongan dan Soto Sulung Surabaya. Bagaimana dengan soto di luar Pulau Jawa ? Jangan salah, soto di beberapa daerah luar Pulau Jawa juga tak kalah beragam, seperti Soto Banjar, Soto Padang, Soto Manado, Soto Makassar, hingga Soto Sasak khas Lombok-Nusa Tenggara Barat yang sangat ikonik.

Begitu pula Jember, kota di salah satu sudut Jawa Timur ini memiliki soto khas yang tak kalah menggoda yaitu Soto Ayu. Sebagai masyarakat yang lahir di Jember, lidah saya tidak bisa lepas dari kuliner yang telah melegenda ini. 

Soto Ayu berlokasi di Pasar Tanjung yang merupakan ikon Kota Jember tepatnya di Jalan Samanhudi. Soto khas Jawa Timur ini telah berdiri sejak tahun 1973 dan masih eksis hingga kini. Jangan datang di siang hari jika tidak ingin pulang dengan perut kosong karena kuliner satu ini hanya dapat ditemukan di malam hari dari pukul 18.00 hingga 02.00 dini hari.

Berbeda dengan soto dari daerah lain yang biasanya menggunakan daging sapi, Soto Ayu identik dengan suwiran ayam yang sangat gurih. Seperti soto khas Jawa Timur pada umumnya, Soto Ayu disajikan bersama koya, serbuk kuning kecoklatan dari parutan kelapa yang disangrai dan dihaluskan. Paduan koya dan kuah gurih membuat kelezatan Soto Ayu tiada dua.

Semangkuk Soto Ayu adalah perkawinan sempurna antara ayam dan telur yang disajikan mesra bersama kubis, tomat, taburan irisan seledri, bawang goreng, serta koya dalam balutan kuliner kerakyatan. 

Menyantap Soto Ayu akan terasa semakin komplet jika kita lengkapi dengan sate usus, aneka jeroan, dan kerupuk ikan yang sudah disiapkan khusus dipiring terpisah. 

Menyantap Lezatnya Soto Ayu ditemani Sate Usus & Jeroan Khas dan Teh Hangat (Dokpri)

Meski telah berkali-kali menikmati Soto Ayu, namun saya masih kesulitan mengambarkan kenikmatannya secara detail, terlebih hanya lewat untaian aksara. Sempat mengobrol sebentar dengan pedagang Soto Ayu, menurut penuturan beliau kekuatan bumbu Soto Ayu terdapat pada racikan aneka rempah nusantara seperti  Lada, Daun Serai, Kunyit, Jahe,Ketumbar, Lengkuas hingga Daun jeruk. Pantas saja rasa kuah Soto Ayu begitu tajam rasanya.

Menyantap Soto Ayu ditemani Alunan Musik Musisi Jalanan (Dokpri)

Selain rasanya yang nendang di lidah, menikmati Soto Ayu yang berlokasi di pasar ikonik Kota Jember membawa kita pada nuansa penuh kehangatan. Jika beruntung telinga akan ditemani alunan musik musisi jalanan. Selagi makan, kita dapat bercengkrama dengan konsumen lainnya dan menemukan kawan baru. Maka tak salah jika Soto Ayu dijuluki sebagai kuliner legendaris kerakyatan.

"Tak peduli asal-usul, jabatan dan harta yang dimiliki, Kita dapat menikmati semangkuk Soto Ayu yang sama enaknya dan duduk berdampingan."

Bagi siapa saja yang bertandang ke Kota Jember rasanya belum komplet jika belum mencicipi kuliner kerakyatan lengendaris satu ini. Jangan sia-siakan perjalanan anda, langsung saja mampir ke lokasi dan buktikan sendiri kelezatannya. Dijamin kelezatan Soto Ayuakan membuat siapa saja jatuh cinta sejak gigitan pertama.

 

 

 

Aksi Nyata Anak Muda Atasi Perubahan Iklim Melalui 3F (Food, Fuel, Fashion)

Dokumen Pribadi
Seorang kawan berseloroh, "biar ku tebak, teknisi neraka sedang bekerja keras saat ini" katanya dalam sebuah perbincangan kami di kedai kopi pinggir jalan. Kawanku itu memang selalu saja memiliki kata-kata ajaib untuk dikeluarkan dari mulutnya. Kemudian dengan santai aku bertanya, "memangnya kenapa, ada-ada saja kamu ini". Sambil berdiri dan begitu antusias dia menjawab keras hingga terdengar oleh seluruh pengunjung kedai kopi lainnya, "neraka lagi bocor, nih buktinya bumi panas banget beberapa hari ini". Aku dan beberapa orang lainnya tertawa renyah menyambut jawabannya.

Tanpa sadar, aku menertawakan hal yang sebetulnya tidak lucu sama sekali...

Kendati dibungkus canda tawa, aku memvalidasi ucapan kawanku. Bumi kian memanas dari waktu ke waktu. Buktinya, jika dulu aku cukup menyiram tanaman dua hari sekali, maka kini sudah tidak berlaku. Panasnya suhu bumi memaksa "Ibu rumah tangga" sepertiku untuk rajin menyiram tanaman di halaman rumah setiap hari. Jika tidak, harus siap melihat tanaman loyo di hari berikutnya karena kepanasan dan dehidrasi. 

Well, awalnya aku menganggap fenomena mikro yang aku alami ini tidak berarti apa-apa. Sebagai awam, ku kira kian panasnya suhu bumi tidak akan berdampak banyak apalagi sampai mengancam kehidupan manusia. Paling-paling orang jadi lebih gampang keringetan, pedagang es teh pinggir jalan makin laris, dan orang berbondong-bondong beli kipas angin sebagai dampak lonjakan suhu bumi. 

Kemudian aku menyadari bahwa pemikiran di atas sangatlah bodoh.  Aku lupa bahwa manusia adalah bagian dari bumi, bagian dari semesta. Tentunya segala perubahan kondisi bumi sekecil apapun akan memberikan konsekuensi bagi kehidupan manusia.

Naiknya suhu bumi merupakan salah satu indikator yang nyata akan perubahan iklim. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendefinisikan perubahan iklim sebagai perubahan signifikan iklim, suhu udara, dan curah hujan yang terjadi dalam kurun waktu tertentu (dasawarsa sampai jutaan tahun) 

Memangnya seberapa parah perubahan iklim saat ini ? Menurut laporan IPCC (Intergovernmental Panel Climate Change), yang merupakan panel ilmiah dari seluruh ilmuwan di dunia dengan tujuan mengevaluasi risiko perubahan iklim akibat aktivitas manusia, terdapat enam penilaian yang mengukur perubahan iklim. 

Data menyebutkan konsentrasi gas karbondioksida (CO2) tertinggi selama dua juta tahun terakhir, kenaikan permukaan air laut dengan laju tercepat selama tiga ribu tahun terakhir, penurunan es pada laut arctic pada level terendah selama seribu tahun terakhir, dan cairnya lapisan es (glacier) dalam dua ribu tahun terakhir. Jujur, sederet data di atas jelas merupakan indikator yang nyata bahwa perubahan iklim sudah naik level, dan ini adalah keadaan yang sangat-sangat darurat. Bukan begitu ?

Bumi Kian Panas, Climate Anxiety Mengancam Kita

"Climate change is causing distress, anger, and other negative emotions in children and young people worldwide (16-25 years old)"- IPCC

Lho... memangnya apa hubungan antara memanasnya bumi dengan perasaan cemas  ? 

Awalnya aku juga sangsi saat mengetahui bahwa emosi negatif yang kerap menghinggapi perasaan manusia modern utamanya anak muda saat ini berkorelasi dengan kondisi bumi yang kian panas. 

Sebuah survei yang melibatkan 10.000 remaja membuktikan, secara ilmiah perasaan dan emosi negatif mengenai perubahan iklim dapat menyebabkan distress psikologi. Sebanyak 27% responden mengaku sangat cemas (extremely worried) akan perubahan iklim dan hanya 5% yang sama sekali tidak mengkhawatirkan perubahan iklim. Lebih lanjut, survei juga menemukan bahwa perubahan iklim membuat anak-anak muda sebanyak 68% merasa sedih dan takut, 58% merasa marah, serta 51% merasa bersalah. 

Hal ini terlihat sepele, namun jika dikaji lebih jauh ancaman emosi negatif anak-anak muda akibat perubahan iklim jelas akan mempengaruhi produktivitas dan pengembangan diri mereka di berbagai bidang. Anak muda yang merupakan penerus masa depan merupakan harta berharga. Maka dari itu,  Climate Anxiety adalah masalah darurat yang perlu segera diatasi, demi masa depan dan keberlanjutan umat manusia. 

Tunggu Dulu, Kenapa Perubahan Iklim Bisa Terjadi ? 

"It is indiputable that human activities are causing climate change, making extreme climate change events, including that waves, heavy rainfall. and droughts, more frequent and severe"- Adrian (2021)

Sebelum kita mencari solusi bersama untuk "menekan" suhu bumi, alangkah baiknya untuk mengidentifikasi dan mencari tahu terlebih dahulu faktor penyebab perubahan iklim. Secara sederhana, perubahan iklim terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida dan gas-gas lainnya di atmosfer bumi akibat dari aktivitas manusia. Kemudian gas-gas tersebut menyebabkan efek gas rumah kaca (GRK).

Apa saja Aktivitas Manusia yang Menyebabkan Efek Gas Rumah Kaca ? 

Menurut World Wild Fund (WWF), aktivitas manusia berupa deforestasi, pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi, serta pembangunan industri menjadi penyebab secara makro efek gas rumah kaca. Tak hanya itu, aktivitas-aktivitas sehari-hari manusia perseorangan juga berkontribusi secara mikro terhadap pemanasan bumi. Misalnya, mengendarai kendaraan bermotor menuju tempat kerja yang kita lakukan setiap hari. Bahan bakat bensin yang digunakan mengandung banyak polusi kimia termasuk karbon dioksida. 

Tak hanya itu, aktivitas lainnya seperti pembuangan sampah, penggunaan kulkas, hingga kegiatan pertanian dan peternakan juga menambah kadar gas rumah kaca di seluruh dunia. Menyedihkan ya ? Bisa jadi selama ini tanpa kita sadari, alih-alih melakukan perubahan positif sebaliknya kita justru tanpa sadar berkontribusi terhadap perubahan iklim setiap hari, setiap jam, setiap menit. 

3F (Food, Fuel, & Fashion) : Aksi Nyata Anak Muda Atasi Perubahan Iklim 

Kendati perubahan iklim sudah naik ke level selanjutnya, berita baiknya kita masih punya kesempatan terakhir untuk memperbaiki keadaan. Kita masih punya waktu untuk menurunkan suhu bumi 1,5 derajat Celcius pada 2100 mendatang. Dengan catatan, kita perlu berlari bersama melakukan aksi agresif dimulai hari, aksi yang digerakkan oleh anak muda melalui gerakan 3F (Food, Fuel, & Fashion). 

1.  Food : Bijak dalam Mengkonsumsi Produk Pertanian dan Peternakan

Dokumentasi Pribadi

Dilansir dari Lini Sehat, mengurangi sisa makanan atau food waste bisa menjadi cara mudah untuk mengurangi jejak karbon dari makanan. Sisa makanan yang dibuang menghasilkan gas metana saat tertimbun di tanah yang turut berkontribusi pada pemanasan global. Pembuangan makanan atau food waste secara global menghasilkan sekitar 4,4 giga ton karbondikosida (CO2) atau 8% dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia. 

Tak hanya itu, mengkonsumsi makanan lokal juga dapat mengurangi jejak karbon. Makanan lokal akan menghasilkan lebih sedikit jejak karbon karena perjalanan dari produsen ke konsumen yang lebih dekat. Berbeda dengan bahan makanan yang diperoleh dari luar daerah atau bahkan luar negeri yang tentu membutuhkan lebih banyak bahan bakar transportasi dalam pendistribusiannya. Nah, transportasi yang digunakan ini tentunya menghasilkan karbon. Oleh karena itu, makanan lokal menghasilkan lebih sedikit karbon karena jarak tempuhnya yang lebih dekat.

2. Fuel : Hemat Energi Bahan Bakar Fosil & Terapkan Green Commute

Dokumen Pribadi

Anak muda yang enerjik dapat berkontribusi mengurangi jejak karbon dengan menerapkan green commute. Misalnya dengan berjalan kaki atau naik sepeda untuk bepergian jarak dekat (kurang dari 2 km). Selain itu, Kita dapat menghemat penggunaan bahan bakar fosil dengan menggunakan alternatif kendaraan umum serta memilih kendaraan pribadi yang hemat bahan bakar. Last but not least, memilih BBM dengan oktan yang sesuai dengan mesin kendaraan agar lebih hemat energi dan emisi karbonnya terkendali. Mudah dan menyenangkan bukan ?

3. Fashion : Tren Thrifting Pilihan Keren dan Solutif Anak Muda 

Dokumen Pribadi
Hari gini siapa yang tidak mengenal tren thrifting yang sedang marak di kalangan muda-mudi ? Bagi yang doyan Thrift Shopping, berbanggalah karena telah berkontribusi mengurangi jejak karbon. Kok bisa ? Dilansir dari FimelaIndustri fashion bukan satu-satunya penyumbang gas emisi, tetapi mereka menyumbang setidaknya 10% dari emisi karbon dunia. Pabrik-pabrik tekstil di seluruh dunia memproduksi pakaian dengan kecepatan tinggi, sehingga peningkatan polusi udara dan emisi gas karbon yang terbuang akan sangat besar. Sehingga, memilih untuk berbelanja dengan metode thrifting adalah salah satu upaya dalam mengurangi penyalahgunaan lingkungan karena membantu mengurangi produksi pakaian.

Tak hanya itu Thrift Shopping, terutama untuk pakaian-pakaian bekas membantu mengurangi sampah tekstil yang terbuang karena artinya akan ada pemakaian baju-baju tak terpakai atau baju bekas tersebut secara berkelanjutan. 

Aku percaya, jika seluruh anak muda bergandeng tangan menerapkan dan menyuarakan gerakan 3F (Food, Fuel, & Fashion) di atas, harapan akan 1,5 derajat celcius pada 2100 mendatang kemungkinan besar akan tercapai. Semua ini demi bumi dan keberlanjutan hidup anak cucu kita nantinya.

Bagaimana tertarik turut serta ? Mari ambil bagian bersamaku !


Manusia Tak Didesain untuk Bahagia, Bukti Tuhan Benar-benar Adil

Sebagai seorang milenial, bahagia adalah tujuan hidup bagi saya (no debat). Enggak papa deh punya rumah sederhana asalkan bahagia. Enggak papa kalau toh tidak bisa sering-sering liburan fancy ala selebgram, staycation aja cukup yang penting bahagia. Hingga enggak papa kalau harus membangun bisnis kecil-kecilan di kota kelahiran alih-alih kerja di perusahaan keren Ibu Kota, lagi-lagi asalkan bahagia. 

Saya kira dengan menyederhanakan target hidup akan berkorelasi positif dengan perasaan bahagia dalam diri. Ternyata, konsep bahagia sangatlah kompleks dan dapat dikatakan abstrak. Sering ngobrol dengan berbagai macam manusia membawa saya juga menyadari hal lainnya, bahwa pencapaian hidup, kesuksesan, dan kadar materi seseorang juga tidak lantas menentukan seberapa sering dirinya merasakan bahagia. 

Konon katanya, seorang Khalifah Cordoba pada abad kesepuluh, Abd-Al-Rahman III, yang merupakan salah satu orang paling kuat dan memiliki kenikmatan apapun, ternyata sangat jarang merasa benar-benar bahagia. Bahkan, menjelang akhir hidupnya, dia mencoba untuk menghitung berapa hari bahagia dalam hidupnya. Hasilnya, hanya 14 hari dimana dia benar-benar merasa bahagia.

Lagi-lagi, terbukti bahwa terpenuhinya kebutuhan materi dan biologis seseorang tidak menjamin kebahagiaan hidupnya. Ternyata, Tuhan benar-benar adil ya ? 

Kita boleh saja makan nasi dengan kualitas berbeda, tidur di ranjang yang beda empuknya, dan naik kendaraan dengan kadar kenyamanan berkebalikan. Namun, kemungkinan untuk merasa bahagia atau tidak bahagia nyatanya sama saja. 

Pemikiran mengenai konsep kebahagiaan dari kaca mata ilmiah kemudian diulas oleh sebuah Artikel di The Conversation pada pertengahan Juli lalu. Rafael Euba, seorang Dosen Psikiatri Senior di King's College London menjelaskan bahwa konsep mengejar kebahagiaan ini merupakan konsep yang berasal dari budaya Amerika. Konsep tersebut kemudian diekspor ke seluruh dunia melalui budaya populer.

Sah-sah saja, bagi negara liberal seperti Amerika "mengejar kebahagiaan" merupakan hak setiap orang. Namun, ternyata merasakan bahagia secara berkelanjutan bertentangan dengan naluri alamiah manusia. Usut punya usut, manusia tidak dirancang untuk bahagia pun juga merasa puas tak berkesudahan. Sejarah peradaban manusia membentuk kita untuk bertahan hidup dan berkembang biak, seperti makhluk hidup lainnya di muka bumi. 

Berkenaan dengan hal tersebut, puas, bahagia dan merasa aman bertentangan dengan naluri alamiah manusia karena akan menurunkan kewaspadaan terhadap kemungkinan ancaman di masa depan. Temuan ini jelas membawa kita pada diskusi-diskusi panjang dan perdebatan berbagai kalangan, baik seniman, peneliti, ekonom dan tidak menutup kemungkinan pemerintah. 

Terlepas dari hal di atas, sebagai seorang awam saya mencoba bijaksana mengimplikasikan fakta ini dalam kehidupan sehari-hari. 

Pertama, fakta bahwa manusia tidak dirancang untuk merasa bahagia secara kontinyu justru seharusnya mampu membawa ketenangan dalam diri. Bahwa kemungkinan besar kebiasaan overthinking, cemas akan masa depan, dan rasa takut akan menjadi pribadi yang gagal secara naluriah wajar menghinggapi diri ini sebagai manusia yang dapat dikatakan sebuah "produk" evolusi. 

Kedua, jika ternyata terpenuhinya kebutuhan materi dan biologis seseorang tidak menjamin kebahagiaan hidupnya. Bukankan ini sebuah berita yang seharusnya membahagiakan ? karena baik si kaya maupun si miskin, si pintar maupun si bodoh, dan si good looking maupun yang less good looking memiliki peluang yang sama untuk merasa bahagia atau tidak bahagia. Hal ini kembali menjustifikasi bahwa Tuhan memang benar-benar adil. 

Mari bersyukur. 


Anak Muda Ikut Merawat Keberagaman “Rumah Kita”, Memang Bisa ?

Potret Keberagaman Indonesia (Dokpri)

“Lebih baik di sini, rumah kita sendiri

 Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa

 Semuanya ada di sini

 Rumah kita ”

Serangkaian kata indah di atas merupakan penggalan lirik lagu “Rumah Kita” yang hits pada era 80-an. Lagu yang dipopulerkan oleh Godbless tersebut dinyanyikan musisi tanah air secara serentak dalam sebuah video yang dirilis Najwa Shihab sebagai bagian dari rangkaian konser musik #dirumahaja pada Maret tahun lalu. Saya rasa Mbak Nana dan teman-teman musisi berhasil menghadirkan kekuatan sekaligus hiburan bagi masyarakat yang tengah berjuang melawan virus melalui konser musik virtual tersebut.

Sebagai pencinta musik yang awam, Saya terbius dengan lirik indah dari lagu di atas “lebih baik disini, rumah kita sendiri”. Putera dan puteri Indonesia dimanapun berada akan sepakat bahwa tanah air adalah tempat terbaik untuk tumbuh dan berkarya. Selain itu, beberapa kali berdiskusi dengan rekan sejawat yang kebetulan sedang atau pernah tinggal di negera lain, di luar dugaaan ternyata bagi mereka Indonesia tetap nomer satu.

Mengapa Rumah Kita, Indonesia terasa lebih baik  ?

Saya kemudian mengajukan pertanyaan sederhana di atas kepada mereka. Jawabannya beragam, tapi rata-rata mengungkapkan alasan karena Indonesia adalah potret rumah yang ramah akan keberagaman. Saya setuju, kekuatan “Rumah Kita” memang terdapat pada kemampuannya melahirkan dan merawat keberagaman bahkan jauh sebelum Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan.

Gemah Ripah Loh Jinawi adalah ungkapan yang sangat tepat menggambarkan kekayaan Indonesia, dimana tak hanya kekayaan alam namun juga kekayaan keberagaman. Indonesia merupakan negara kepulauan yang penuh dengan keragaman budaya, suku bangsa, ras, etnis, agama, maupun bahasa daerah. Merujuk pada sensus penduduk yang dilakukan oleh BPS tahun 2010, diketahui Indonesia memiliki sekitar 1340 suku bangsa. Tak hanya itu, Indonesia juga rumah bagi plurarisme dalam beragama bahkan kebebasan memeluk agama atau keyakinan masing-masing orang dijamin oleh konstitusi.

Intoleransi dan Kekerasan : Luka Bagi Keberagaman Rumah Kita

Berbicara keberagaman tak hanya perihal suka namun juga duka yang penuh luka. Deretan kejadian panjang pernah menodai keberagaman Indonesia. Di era reformasi media pernah memberitakan soal kekerasan antar agama, misalnya kelompok Muslim yang radikal terhadap kelompok agama minoritas seperti para Ahmadiyya dan Kristen. Hal tersebut telah mendapatkan perhatian internasional dan sejumlah pemerintah, organisasi serta media menyatakan keprihatinan atas penjaminan kebebasan agama di Indonesia.

Tak hanya itu, Convey Indonesia, lembaga yang bergerak mengidentifikasi dan mengatasi faktor-faktor yang mendasari pertumbuhan ekstrimisme kekerasan dalam pendidikan agama, mencatat setidaknya terjadi 17 insiden teroris di Indonesia sejak tahun 2002 hingga 2018. Dalam rentang waktu itu, dikonfirmasi lebih dari 100 orang tewas dan lebih dari seribu orang luka-luka akibat aksi teror di dalam negeri yang dilakukan oleh para pelaku. Data Yayasan Denny JA juga mencatat selama 14 tahun setelah masa reformasi setidaknya ada 2.398 kasus kekerasan dan diskriminasi yang terjadi di Indonesia. Dari jumlah kasus tersebut sebanyak 65% berlatar belakang agama, sekitar 20% kekerasan etnis, dan sisanya berlatar belakang gender.

Data di atas adalah realita pahit. Bagaimanapun Kita tidak boleh melupakan sepak terjang intoleransi dan kekerasan yang pernah mencekik tanah air. Misalnya, kejadian teror bom oleh tiga teroris di dekat sebuah kafe Amerika di Jakarta Pusat pada awal 2016 yang merenggut nyawa tiga orang, pun juga penangkapan dua wanita karena merencanakan dua serangan terpisah di istana presiden pada tahun yang sama. Lagi-lagi, tak hanya berlatar belakang agama, berbagai konflik yang pernah terjadi membuktikan jika motif suku dan ras juga menjadi penyebab diantaranya konflik ambon yang berlangsung pada tahun 1999-2003 yang menghabisi 10 ribu nyawa korban.

Memangnya seberapa gawat Intoleransi dan Kekerasan di Indonesia ?

Saya bukanlah pengamat ahli yang punya kemampuan mengukur seberapa tingkat keparahan intoleransi dan kekerasan di Indonesia. Namun, meminjam data Convey Indonesia yang menyasar generasi muda sudah sepatutnya Kita khawatir. Berdasarkan hasil survei Pusat Pengkajian Islamdan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017 menyatakan kalangan pelajar dan mahasiswa memiliki persepsi radikal sebesar 58%, persepsi intoleransi internal sebesar 51,1%, dan persepsi intoleransi eksternal sebesar 34,4%. Lebih jauh, Survei Keberagamaan yang dilaksanakan PPIM pada tahun yang sama menemukan bahwa, 37,71% responden memaknai Jihad sebagai perang. Bahkan, sepertiga responden berpendapat jika orang murtad itu harus dibunuh dan 33,34% responden merasa bahwa tindakan intoleran kepada Mereka yang berbeda keyakinan tidak masalah.

Kontribusi Anak Muda Tangkis Intoleransi, Diskriminasi dan Kekeresan

Dari data dapat diketahui anak muda yang notabene merupakan harapan bangsa ternyata cukup banyak mengidap intoleransi terhadap agama atau suku dari kalangan yang berbeda. Padahal perbedaan adalah indikasi keberagaman, jika anak muda saja mulai enggan menerima keberagaman lalu bagaimana dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang kerap dikumandangkan ?

Melawan Intoleransi dan Kekerasan dari Anak Muda, Oleh Anak Muda, Untuk Indonesia...

Dalam konteks kebangsaan, anak muda merupakan generasi penerus bangsa. Presiden Soekarno pernah mengatakan jika dengan 10 pemuda mampu menggoyang dunia. Anak muda dapat dikatakan enerjik, energi positif tersebut dapat ditransformasi menjadi semangat menjaga keberagaman Rumah Kita dan #MeyakiniMenghargai.  

Memangnya apa yang dapat dilakukan anak muda ?


1.    Gigih Berliterasi Tanpa Tapi

Memang benar anak muda harus berani menyuarakan kebenaran. Namun, perlu dipastikan mengantongi data dan informasi yang cukup sehingga apa yang diutarakan adalah sebuah fakta valid, tidak mengada-ngada apalagi hoaks seperti mantra Najwa Shihab “be brave but don’t be stupid”. Caranya hanya satu, yaitu gigih berliterasi tanpa tapi. Jangan mimpi memerangi intoleransi, kekerasan dan diskriminasi tanpa bekal ilmu yang memadai.

“Menurut UNESCO (2005), Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan yang diperoleh dari proses belajar baik menulis maupun membaca sehingga mampu menggunakan, mempraktikkan, dan menjadikan hasil dari proses belajar tersebut sebagai budaya.”

Kita beruntung hidup di era teknologi dimana sumber pengetahuan dapat diakses secara bebas tanpa batas. Banyak sekali sumber bacaan yang dapat dijadikan referensi mengenai isu-isu keberagaman, kekerasan, dan intoleransi. Entah berkunjung ke perpustakaan kampus, atau berjejaring di dunia maya dengan situs resmi yang terbukti kredibilitasnya. Convey Indonesia juga menyediakan berbagai literatur terkait, publikasi, berita, modul hingga e-book secara melimpah yang menjadi sumber pengetahuan bagi anak muda untuk berliterasi.


2.    Aktif Perangi Intoleransi dan Kekerasan di Ranah Digital

“Penduduk Indonesia menempati urutan ke-4 pengguna Facebook teraktif di dunia juga sekaligus negara terbesar ketiga pengguna instagram. Tak hanya itu, sepanjang tahun 2016  pengguna Twitter di Indonesia telah mengirim 4,1 miliar tweet menjadikan Indonesia sebagai negara paling cerewet di Twitter”

Yang muda yang bersuara, ungkapan tersebut tepat menggambarkan anak muda yang punya energi lebih. Sudah jadi rahasia umum jika dunia maya menjadi ruang tumbuh dan berkembangnya hoaks/berita bohong. Hoaks kerap menyebarkan provokasi kepada masyarakat yang cenderung mengarah kepada tindakan dan pemikiran intoleran dan radikal. Sayangnya tak sedikit yang kemudian terhasut hingga mencelakai keberagaman. Nah sudah saatnya, anak muda yang ramah dengan ranah digital berkontribusi dengan aktif memerangi konten-konten yang mengarah ke intoleransi dan kekerasan yaitu dengan melakukan pelaporan situs atau akun-akun provokatif.

 

3.    Sebarkan #MeyakiniMenghargai Melalui Karya Digital

Sosial media kini menjelma menjadi media penyebaran informasi nomor satu dengan kecepatan tinggi. Segala hal yang dilempar ke dunia maya bisa mendadak “viral” dalam sekejap, mulai dari selebgram yang tiba-tiba populer hingga tren busana dan makanan yang seketika meledak. Sebagai anak muda yang melek dan ramah dengan teknologi digital rasanya sayang sekali jika melewatkan kesempatan emas ini. Daripada tinggal diam menyaksikan dunia maya dipenuhi oleh konten negatif yang syarat akan ujaran kebencian, memicu perpecahan atau mempertajam radikalisme, alangkah lebih baik Kita sebagai anak muda turut aktif menyerbarkan pesan #MeyakiniMenghargai melalui karya konten digital.

Bagi yang memiliki kegemaran berfoto di depan kamera boleh menyisipkan pesan semangat menerima keberagaman melalui foto diri di sosial media, bagi yang gemar menulis boleh berkarya positif dalam berbagai platform blogging, dan begitu pula yang senang menari dan berkreasi melalui video. Dengan begitu diharapkan pesan akan mencintai keberagaman, merawat toleransi, memerangi kekerasan dan diskriminasi terkemas secara menarik dan lebih mudah sampai ke hati.


4.    Bergabung dalam Wadah Perdamaian dan Toleransi

Convey Indonesia banyak memberikan wadah pembelajaran anak muda sebagai “Peace Ranger”. Misalnya melalui Peace Leader Indonesia yang bertujuan untuk saling menguatkan dan mempromosikan toleransi dan perdamaian khususnya di kalangan pemuda agar terbangun kohesi sosial.  Saya rasa kini wadah semacam itu dapat dengan mudah dicari dengan bantuan teknologi informasi.  Daripada sekadar rebahan waktu yang dimiliki akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk mengikuti Webinar yang mengusung tema cinta perdamaian.

 

5.    Diskusi Lintas Suku dan Lintas Iman

Sosok Imam Ashafa dan Pastor James sempat mencuri perhatian dunia. Kepeloporan dua agamawan pegiat binadamai dari Nigeria yang sebelumnya bermusuhan sangat menginspirasi. Dari mereka Kita dapat belajar indahnya toleransi, kerjasama dan upaya-upaya binadamai lintas-iman. Seperti Pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, bisa jadi mengapa anak muda belum sepenuhnya mencintai keberagaman dan menerima perbedaan semata-mata karena hanya karena belum kenal. Untuk itu, gagasan yang diusung Convey Indonesia dalam meningkatkan pengalaman anak muda untuk berinteraksi dengan kelompok yang berbeda, misalnya membudayakan diskusi lintas iman dan lintas suku sehingga diharapkan dapat mengikis intoleransi dan radikalisme.

Mudah sekali bukan merawat keberagaman Rumah Kita ala Milenial, tertarik ikut serta ? 



Kemerdekaan Bagi Perempuan Modern, Merdeka Berkarya & Berkarir dari Rumah

Merdeka Berkarya Bagi Perempuan Modern (Dokpri)

Baru saja Kita sama-sama merayakan momen bersejarah bagi Ibu pertiwi. Kendati sudah berganti bulan, namun kehangatan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76 masih terasa hingga kini. Aku kemudian iseng melempar pertanyaan melalui laman sosial media pribadi.

 “Apa makna kemerdekaan bagi kalian ?”

Sebuah pertanyaan yang klise memang, tapi membaca berbagai respon kawan-kawan yang datang dari beragam latar belakang ternyata memberiku sebuah refleksi. Seorang rekan yang kini berperan sebagai tenaga kesehatan menjawab, makna merdeka baginya adalah segera merdeka dari pandemi. Aku memahami posisinya sebagai pahlawan kesehatan yang disertai dengan tanggung jawab luar biasa berhadapan langsung dengan pasien Covid-19. Aku mengamini harapannya dalam hati.  

Kemudian sebuah jawaban menggelitik datang dari adikku yang tengah menggandrungi game online. Jawaban polos nan lucu, katanya merdeka artinya bisa main game sepuasnya tanpa diganggu tugas sekolah. Aku tertawa kecil, kemudian Aku kirim tanggapan singkat beserta nasehat bahwa tugas sekolah juga dapat menyenangkan jika dinikmati dan tidak dianggap sebagai beban yang berat. Anggap saja bermain dengan buku, seperti ketika bermain games lewat gawai tambahku di akhir pesan.

Ada banyak sekali tanggapan menarik yang Aku dapatkan lewat pertanyaan sederhana mengenai makna kemerdekaan. Tak ada jawaban yang salah, tak ada pula jawaban yang benar, satu yang Aku tahu mereka semua menjawab jujur sesuai dengan peran yang sedang dijalankan masing-masing.

Aku sudah mendengar jawaban orang lain, tapi justru belum mendengar isi hati dari diri sendiri. Ketika memikirkan jawabannya, Aku kemudian tersadar bahwa pertanyaan yang awalnya sederhana tersebut tidak dapat dijawab sembarangan. Sambil berhati-hati, Aku menuliskan jawabannya...

“Sebagai seorang perempuan modern, merdeka bagiku adalah merdeka berkarya”

Aku yakin jawaban di atas relevan dengan kondisi perempuan lainnya di era digital saat ini. Seperti perempuan modern pada umumnya, Aku kini menjalankan multiperan yang tentunya memiliki sederet konsekuensi di dalamnya.

Pertama, sebagai mahasiwa studi master yang kini sedang berjibaku dengan tugas akhir, Aku harus menyelesaikan penelitian yang membutuhkan fokus dan konsentrasi. Kedua, Aku juga tengah aktif menjadi seorang narablog sehingga mengharuskan diri ini untuk terus aktif melahirkan karya tulisan yang relevan dengan perkembangan sekitar khususnya dunia digital yang sangat dinamis. Ketiga, semenjak kepergian Ibu tiga tahun lalu, Aku kini menjalankan peran sebagai Ibu rumah tangga dengan beragam tugas domestik, mulai dari mengurus rumah, berbelanja, mencuci baju, hingga menyiapkan hidangan keluarga setiap harinya.

Dengan berbagai peran yang Aku jalankan baik sebagai mahasiwa, narablog sekaligus ibu rumah tangga, kemerdekaan dalam berkarya merupakan harapan terbesar saat ini.

Memangnya apa hambatan berarti dalam berkarya yang dihadapi perempuan modern ?

Seringkali tugas domestik seperti menyediakan kebutuhan pokok keluarga menyita energi dan waktu sehingga menghambat perempuan dalam berkarya. Pernah satu kali diri ini sedang konsentrasi menyelesaikan tulisan, namun ketika hendak mengambil susu untuk menambah energi menulis ternyata kulkas kosong melompong. Mengetahui persediaan makanan habis Aku langsung bergegas untuk pergi belanja, sehingga alih-alih melahirkan karya, waktu dan tenaga justru terkuras habis untuk menyediakan kebutuhan pokok keluarga. Ini hanya sedikit contoh sederhana, masih banyak pengalaman sehari-hari lainnya yang menjadi bukti bahwa perempuan modern kerapkali terhambat dalam berkarya dan berkarir.

Aplikasi Super, Pahlawan Kemerdekaan yang Dinanti-nanti

Aku tak bisa membiarkan diri ini terus terjajah dalam berkarya. Bukankah zaman sudah berubah, perempuan di era Ibu Kartini terbatasi pendidikan dan ruang geraknya dalam berkarya, tapi perempuan modern yang hidup di tengah gegap gempita teknologi digital tidak boleh lagi terjajah. Aku harus segera menemukan pahlawan yang dapat membantu menghadirkan kemerdekaan berkarya, khususnya bagi perempuan-perempuan modern di luar sana.

Pertanyaan selanjutnya, siapakah sosok pahlawan itu ?  

Berbekal gawai di tangan, Aku menyusuri satu per satu platform belanja online. Ada banyak sekali penyedia jasa belanja digital yang dapat dengan mudahnya Aku dapatkan sebagai referensi. Tapi ternyata tak semudah itu menjatuhkan pilihan. Dari sederet opsi abc hingga d, masing-masing memiliki kelebihan maupun kekurangan.

Ada yang memiliki fitur belanja lengkap, namun harga tak ramah di kantong. Ada yang menawarkan harga terjangkau, namun tidak praktis mengakses layanan belanja yang ditawarkan. Ada yang super lengkap menyediakan berbagai kebutuhan tapi ongkos kirim mahal bukan kepalang.

Ahh... susah sekali menemukan yang mendekati sempurna.

Pucuk dicinta ulampun tiba, sampai akhirnya Aku terpaku pada salah satu aplikasi belanja online yang setelah Aku cermati benar-benar mendekati sempurna. Tak ada yang lain, hanya satu-satunya, yaitu Aplikasi Super atau dikenal juga sebagai Superapp. Seolah menemukan tambatan hati, Aku senang bukan main.

Apasih Aplikasi Super alias Superapp?

Aplikasi Super adalah salah satu platform digital yang menyediakan berbagai layanan menarik berbelanja kebutuhan pokok bagi penggunanya. Aplikasi Super dijamin aman karena telah terdaftar di Kementrian Komunikasi dan Informatika sebagai penyelenggara sistem elektronik.

Berbagai layanan menarik yang sediakan Aplikasi Super sangat pas untuk perempuan modern sepertiku yang ingin bebas berkarya dan berkarir tanpa batasan. Melalui Aplikasi Super, sebagai pengguna Kita akan sangat dimanjakan dengan beragam layanan dan keuntungan.

Keuntungan Menggunakan Aplikasi Super (Dokpri)

·      Bebas Ongkir

Salah satu keluhan emak-emak se-Indonesia dalam belanja online adalah ongkos kirim. Ongkos kirim jelas merupakan tambahan biaya yang harus ditanggung konsumen. Jika berbelanja pakaian atau peralatan kosmetik yang relatif ringan tentu tidak akan jadi masalah. Tapi bagaimana dengan kebutuhan pokok, seperti beras, telur, minyak dan sejenisnya yang jelas memiliki bobot lebih. Pasti emak-emak pusing dengan ongkos kirimnya yang bikin jebol dompet suami.

Berbeda dengan aplikasi belanja kebutuhan pokok online lainnya, Aplikasi Super sangat memahami kebutuhan konsumen. Kurir Aplikasi Super akan mengirimkan barang pesanan sehari setelah tanggal pemesanan dan bebas ongkos kirim !!!

·      Harga Kompetitif

Aku masih ingat pengalaman berbelanja sewaktu kecil, diri ini sering kesal karena Ibu menyuruh membeli telur ke warung yang paling jauh jaraknya dari rumah demi selisih harga sebesar lima ratus perak. Kala itu Aku tak habis pikir dengan Ibu, rela menyiksa anaknya demi uang yang tak seberapa.

Kini setelah menjalankan peran Ibu di rumah untuk mengatur keuangan keluarga, Aku baru mengerti betapa berharganya lima ratus perak. Tiap rupiah begitu berharga untuk dibelanjakan maka jika ada penjual yang menawarkan harga lebih murah, sampai ke negeri China juga akan diperjuangkan.

Syukurlah Kita hidup di era digital, tak perlu merengkuh belasan kilometer untuk mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga ekonomis. Kini melalui Aplikasi Super di tangan, Kita sudah dapat menikmati berbagai produk dengan harga bersaing. Bahkan Aplikasi Super tak segan memberikan harga grosir yang murah sehingga pelanggan bisa menjual kembali barang belanjaan dengan keuntungan yang lebih besar.

·      Proses Pemesanan Praktis & Efisien

Seusai belanja kebutuhan pokok ke swalayan atau pasar tradisional, Aku biasanya tak langsung bergegas pulang namun duduk sekitar lima belas menit di tempat istirahat yang tersedia. Bayangkan betapa banyak kebutuhan yang perlu diburu, dan biasanya satu toko tak bisa menyediakan seluruh kebutuhan yang ada di daftar belanja yang telah disiapkan dari rumah. Terkadang Kita perlu sedikit menjelajah dan masuk keluar toko. Begitu melelahkan ya ?

Jangan dikira dengan berbelanja online jeratan tersebut enyah, karena kenyataannya sama saja. Tidak semua online shop dapat menyediakan segala kebutuhan pelanggan. Masalahnya berbelanja online dari banyak toko jelas akan memerlukan tambahan ongkos kirim juga, bukannya hemat malah semakin boros. Dari segi waktu juga sangat tidak praktis, lagi-lagi tidak efisien.

Sabar bunda-bunda di rumah, karena hal tersebut tidak akan terjadi jika kita berbelanja melalui Aplikasi Super. Kita bisa dengan mudahnya belanja berbagai macam barang secara digital dengan cukup menggunakan satu aplikasi saja karena Aplikasi Super menyediakan beragam kebutuhan pelanggan secara lengkap. 

Melalui Aplikasi Super Kita bisa mendapatkan semua kebutuhan, mulai dari beragam bahan dapur, kopi, makanan instan, makanan ringan, mie & bihun, minuman instan, obat & suplemen, perawatan tubuh, popok & pembalut, sembako, susu, dan lainnya.

Beragam Fitur Sesuai Kebutuhan (Dokpri)

Belanja dengan Aplikasi Super, Kita akan mendapatkan keuntungan berlipat, produk lengkap, harga kompetitif, serta bebas ongkir. Selain itu, terdapat beragam fitur yang dapat digunakan sesuai kebutuhan, seperti super grosir yang menyediakan harga super murah, super retail yang pas untuk toko kelontong, dan super digital. Tunggu apalagi segera ambil gawai dan download Aplikasi Super. Mari wujudkan kemerdekaan berkarya dari rumah bersama Aplikasi Super.

Hari-hariku tak lagi sama, bersama Aplikasi Super segalanya jadi lebih mudah. Belanja kebutuhan pokok keluarga tak lagi menguras tenaga. Belanja tak lagi menyita waktu, tinggal klik sana klik sini, pesanan segera mendarat tanpa biaya kirim.Waktu dan tenaga kini tercurahkan dengan sempurna untuk berkarya. Inilah kemerdekaan yang diidam-idamkan perempuan modern. 

Terakhir, untuk seluruh perempuan Indonesia dengan berbagai peran dan profesi, penulis sekaligus Ibu dua anak, dosen yang merangkap sebagai kepala keluarga, atau perempuan muda yang sedang merintis karir di dunia digital. Teruslah berkarya meskipun berjuang dari rumah. Jangan berhenti dan menyerah karena dunia selalu menanti ide-ide cemerlang darimu.

Dirgahayu ke-76 Negeriku, Merdeka Perempuan-perempuan Hebat Indonesia !