Hemat Energi dengan Zona Pertanian Mini

Potret Zona Pertanian Mini atau Urban Farming

"Kalau makan dihabiskan, kalau tidak nasinya menangis lo"

Itulah wejangan ala emak-emak yang sering kali dijadikan senjata andalan untuk merayu anaknya agar tak menyisakan bulir-bulir nasi di piring mereka. Jujur saya pun pernah 'terpapar' wejangan tersebut saat masih kanak-kanak. Wejangan yang ketika dewasa ternyata justru dirindukan. 

Setelah dewasa, saya baru menyadari bahwa menyisakan nasi di piring tidak hanya soal membuang makanan. Jika ditelusuri, sebutir nasi telah melewati perjalanan panjang untuk sampai ke meja makan. Dari mulai sumber daya tanah dan air sebagai syarat tumbuh, petani yang harus rela berangkat ke sawah pagi-pagi buta, energi yang terpakai untuk membawa hasil panen dari desa ke kota, juga energi yang dikeluarkan untuk memasak beras menjadi nasi. 

Bisa dibayangkan betapa besar energi yang diperlukan untuk sepiring hidangan bagi kita. 

Hemat Energi dengan Zona Pertanian Mini atau Urban Farming 

Saya bertanya-tanya cukup lama, bagaimana caranya supaya dapat mengemat penggunaan energi dalam produksi bahan pangan. Sebuah cata sederhana nan mudah yang dapat dilakukan siapa saja. Pengalaman saya berkunjung ke salah satu usaha hidroponik milik kawan lama membuahkan jawaban, yaitu melalui zona pertanian mini atau yang dikenal milenial dengan sebutan urban farming. 

Zona pertanian mini atau urban farming merupakan konsep berkebun di lahan terbatas terutama bagi mereka yang hidup di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Melalui Urban Farming, halaman rumah, atap, balkon, dan hampir semua jenis ruang perkotaan dapat diubah menjadi zona pertanian mini yang kaya akan manfaat.

Potret keberhasilan Urban Farming dapat kita lihat pada beberapa kota besar dunia. Misalnya HK Farm,  jaringan taman atap di sekitar Yau Ma Tei, Hongkong. Kota yang sudah lama tak merasakan kegiatan pertanian kini hijau dengan hamparan taman atap. Amerika Serikat juga tak mau ketinggalan. Kota yang tak pernah tidur, New York punya Brooklyn Grange yang mengoperasikan perkebunan atap terbesar di dunia, menghasilkan lebih dari 22 ton produk organik setiap tahunnya.

Urban Farming Memangkas Food Miles

Bisa dibayangkan jika setiap rumah tangga menerapkan urban farming, betapa banyak energi yang dapat dihemat. Matei Georgescu, profesor asal Arizona State University, mengungkapkan urban farming berpotensi menghemat 15 miliar kilowatt per jam pemakaian energi dunia selama setahun dan menghasilkan 170.000 ton nitrogen ke udara. Hal ini berkontribusi terhadap pengurangan pencemaran sungai dan saluran air bersih. Luar biasa bukan ? 

Memangnya manfaat Urban Farming hanya itu ? tenang-tenang saudara-saudara sekalian, Urban Farming memiliki sederet keuntungan lainnya utamanya bagi keberlangsungan lingkungan hidup.

Urban Farming Menjawab Krisis Ruang Terbuka Hijau

Kota-kota besar dan infrastruktur memiliki hubungan yang erat. Tanpa infrastuktur yang prima tak ada kota, begitu pula sebalinya. Sayangnya, pembangunan infrastruktur yang massif di perkotaan menyebabkan menipisnya ruang terbuka hijau. Akibatnya kestabilan ekosistem lingkungan terganggu, misalnya meningkatnya polusi udara dan krisis air bersih.

World Health Organisation (WHO) menempatkan Jakarta sebagai 22 kota paling berpolusi (udara) di dunia. Kota metropolitan ini mengantongi Air Quality Index dengan nilai 152, angka tesebut dua kali lipat lebih tinggi dari standar batas udara bersih internasional.

Melalui urban farming, kita secara langsung dapat berperan membantu meningkatkan kualitas udara.   Berbagai sistem penanaman urban farming seperti vertikultur, hidroponik, dan akuaponik membuka peluang akan ruang terbuka hijau baru. Tersedianya ruang terbuka hijau secara perlahan dapat menekan pencemaran udara sekaligus menjadikan lingkungan sekitar kita nyaman dan sehat untuk ditinggali.

Langkah Mudah Menyulap Ruang Sempit Menjadi Zona Pertanian Mini

Lahan terbatas dan minimnya ketersediaan air di perkotaan memerlukan kreativitas lebih untuk menerapkan urban farming. Namun, tak perlu khawatir, berikut langkah mudah sebagai panduan awal memulai zona pertanian mini di rumah. 

1. Menanam Vertikal 

Terbatasnya lahan bukanlah halangan untuk budidaya tanaman. Melalui teknik vertikultur kita tetap dapat menanam walau dengan lahan terbatas. Teknik vertikultur merupakan cara bertanam yang dilakukan dengan menempatkan media tanam dalam pola yang disusun secara vertikal. Contohnya dengan membuat rak bertingkat dari besi ataupun kayu untuk meletakkan beberapa pot, tabung bambu, atau pipa paralon, anda sudah bisa memiliki lahan mungil dan apotik hidup pribadi di rumah. Yey !

2. Membuat Meja Tanaman

Urban farming diharapkan tak hanya memberi kesempatan untuk bercocok tanam, namun juga memiliki nilai estetika. Membuat meja tanam adalah solusi yang dapat dilakukan, yaitu dengan membuat meja seperti biasa dan ditambahkan sisi pembatas di sekelilingnya. Dengan sedikit kreativitas dan usaha, meja tanam tak hanya berfungsi sebagai "lahan" tanam, namun juga akan menambah estetika rumah kita. 

3. Memanfaatkan Barang Bekas dan Barang Tak Terpakai

Salah satu keuntungan menerapkan urban farming adalah pemanfaatan barang bekas yang selama ini dianggap tak bernilai. Anda pasti akan merasakan kepuasan tersendiri saat berhasil menyulap barang bekas menjadi barang baru yang fungsional. Contohnya adalah dengan memanfaatkan botol-botol bekas menjadi pot tanaman yang digantung dan diberi warna yang kemudian dapat digunakan sebagai tempat tumbuh tanaman.

Setelah mengenal urban farming lebih dalam, Saya yakin anda memiliki yang sama bahwa aksi penyelamatan bumi dan lingkungan ternyata sangat mudah dan bahkan menyenangkan untuk diterapkan.

Saya suka sedih sekali jika narasi-narasi akan lingkungan dan bumi selalu terkesan mengancam dan menakutkan. Ya, memang krisis iklim dan lingkungan semakin nyata kita rasakan bersama. Namun, rasanya mengemasnya ke dalam narasi yang positif dan ringan sudah saatnya dilakukan. Mari bergerak bersama.



Ada Deforestasi di Balik Pandemi. Hoaks atau Fakta ?


11 Maret 2020 adalah mimpi buruk bagi Kita semua.Virus yang diduga berasal dari Negeri Tirai Bambu, berhasil menduduki Bumi Pertiwi dengan gagahnya. Bermacam cara sudah dilakukan, dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), New Normal, hingga Vaksinasi. Namun, hingga kini pandemi belum juga enyah dari muka bumi.

Awal tahun 2020 begitu manis bagi semua orang, tak terkecuali bagiku. Baru saja berstatus mahasiswa pascasarjana, merantau ke Kota Hujan, dan menjajaki peran baru sebagai jurnalis pada salah satu media mainstream membuat 2020-ku begitu sempurna.

Hingga akhirnya, pada maret 2020, Pemerintah Republik Indonesia resmi mengkonfirmasi dua kasus pertama Covid-19. Aku kala itu masih denial, dengan optimis Aku menepis kekhawatiran-kekhawatiran imajiner yang ada dalam kepala.

“Ah... paling juga tiga bulan mendatang virus ini juga sirna, Masyarakat Indonesia kan kebal!”

Hari demi hari berlalu, bukannya mereda, virus kian masif. Puncaknya saat World Health Organisation (WHO) resmi meningkatkan status Covid-19 menjadi pandemi. Ya, virus ini tak lagi hanya singgah di satu atau dua negara tapi sudah mendunia hanya dalam hitungan bulan.

Pandemi dan Hubungannya dengan Deforestasi

Online Gathering Bersama Eco Blogger Squad

Sebelum pandemi, jujur Aku tidak memiliki ketertarikan terhadap isu-isu lingkungan dan juga hutan. Aku cukup cuek menyaksikan tayangan kerusakan lingkungan karena lingkungan di sekitarku baik-baik saja. Namun, setelah menjelajahi literatur dan juga sederet diskusi ilmiah yang mengatakan bahwa diduga ada hubungan erat antara pandemi dan juga kerusakan lingkungan, kepedulianku akan hutan tumbuh perlahan.

Bagaimana Transmisi Covid-19 ke Manusia ?

Pandemi Novel Coronavirus Disease (Covid-19), dipercaya ilmuwan dipicu oleh transmisi virus dari hewan ke manusia. Hal ini dalam istilah ilmiah dikenal dengan Penyakit Zoonosis. Tak hanya Covid-19, rekam jejak pandemi lainnya di muka bumi menunjukkan kecenderungan serupa, dimana diawali transmisi virus dari hewan ke manusia.

Penyebab Measles, Smallpox, TB, Gastric Cancer, dan banyak penyakit pandemi lainnya merupakan contoh kasus penyakit zoonosis yang asalnya dari hewan dan kemudian menular ke manusia.

Dr. Alvi Muldani, selalu Direktur Klinik Alam Sehat Lestari (Yayasan ASRI), menjelaskan beberapa faktor pemicu pandemi. Menurut beliau, pandemi disebabkan oleh organisme spesifik dan telah berada bersamaan dengan manusia dalam beberapa ribu tahun. Kontak manusia dengan hewan liar kemudian memicu adanya transmisi, misalnya dikarenakan oleh domestifikasi, terganggunya habitat liar akibat kerusakan hutan, dan perdagangan hewan langka. Lebih jauh, Dr. Alvi menambahkan pandemi dapat dipercepat dengan perjalanan udara, urbanisasi dan perubahan iklim.

Mencegah Pandemi dengan Menjaga Hutan

Setelah mendengar pernyataan di atas, kebanyakan dari Kita pasti bertanya-tanya. Bagaimana ceritanya menjaga hutan dapat membantu mencegah pandemi. Kok bisa ? Sederet literatur ilmiah menunjukkan kerusakan hutan atau berbanding lurus dengan penyebaran virus.

Menurut Taylor (1997), penebangan pohon secara nyata merubah lingkungan dan merusak ekosistem. Hal ini kemudian memengaruhi kemunculan penyakit dan transmisinya ke umat manusia. Morand et al (2019) mengungkapkan hal senada, bahwa konversi lahan meningkatkan penyebaran virus karena rodensia. Terakhir, fenomena kerusakan hutan yang tinggi di Amerika Selatan diduga kuat mengakibatkan kemunculan virus EID’s Microsporidia, Bartonella, dan Leptospira (Cartez et al, 2018).

Urgensi Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia

Sebagai awam, sebelumnya Aku bahkan tidak mengetahui kondisi hutan dan bencana kehutanan sudah sedemikian gawatnya. Dedy Sukmara, Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara, menuturkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia dua tahun belakangan adalah salah satu yang paling mengkhawatrikan selama dua dekade ini. Data menunjukkan hutan dan lahan seluas 1,6 juta hektar hangus dilalap api, hal ini menjadi bencana kehutanan terparah sejak bencana asap tahun 2015 lalu.

Pemerintah RI rutin menjadi sorotan akibat kebakaran yang tak berkesudahan. Asap akibat kebakaran hutan kerap memanaskan hubungan diplomatik dengan negara tetangga. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pula yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Wow!

“Kebakaran tahun 2019 melepaskan 708 juta ton emisi gas rumah kaca (CO2) hampir dua kali lipat lebih besar dibanding kebakaran di sebagian Amazon, Brazil (CMAS,2019)”

Pelepasan Kawasan Hutan di Tanah Papua (Sumber : Auriga Nusantara)

Aku lebih sedih lagi saat mengetahui fakta bahwa tren deforestasi bergeser dari hutan di wilayah barat ke timur Indonesia atau dengan kata lain Deforestasi mulai menyasar provinsi kaya hutan. Sepanjang periode 2015-2019, separuh lebih dari deforestasi di sepuluh provinsi kaya htan ini disumbang oleh Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Papua, dan Sulawesi Tengah. Namun, jika dibandingkan dengan periode 2010-2014, lonjakan laju deforestasi lima tahun trakhir terjadi di Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Sulawesi Tengah, dan Papua.  

Ulah Manusia, Faktor Utama Penyebab Deforestasi

Kemarau panjang (El Nino) selalu dituding sebagai pemicu kebaran. Namun, faktanya kebakaran terus terjadi bahkan di tahun-tahun tanpa kemarau panjang. Itu sebabnya, faktor lain (ulah manusia) lebih tepat dianggap sebagai penyebanya.

Manusia berkontribusi nyata dalam deforestasi melalui praktek pembukaan lahan dengan api, perburuan, penggembalaan, konflik lahan dan aktivtas lainnya yang berkaitan.

Dampak deforestasi tidak main-main. Mulai dari terancamnya biodiversitas akibat hilangnya habitat dan penurunan populasi tumbuhan dan satwa liar. Terganggunya kesehatan, pendidikan, dan transportasi, hingga pemasanan global dan perubahan iklim. Jika Kita melakukan valuasi ekonomi terhadap dampak deforestasi, tidak terbayangkan betapa besar nilainya. Kerugian Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2019 misalnya, diperkirakan mencapai US$ 2 Miliar atau setara 72,95 Triliun Rupiah.

Bagaimana masih menyepelekan deforestasi ?

New Normal Versi Penyelamat Lingkungan dan Hutan

New Normal pasca pandemi secara umum diartikan dengan disiplin memakai masker selama berkegiatan di ruang publik, rajin mencuci tangan dan mengaplikasikan hand sanitizer hingga social distancing. Kemudian Aku belajar banyak, setelah mengetahui bahwa ada hubungan yang kuat antara pandemi yang kini Kita hadapi dengan kerusakan hutan. Maka sudah saatnya, New Normal memiliki arti yang lebih luas lagi.

New Normal tak sekadar disiplin menerapkan protokol kesehatan. Lebih dari itu, New Normal artinya melibatkan lingkungan dan hutan sebagai pertimbangan utama dalam berkehidupan. Bantu mengawasi hutan dari kejauhan dengan rutin update perkembangan hutan dan deforestasi. Aktif menyuarakan isu-isu lingkungan dan hutan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, misalnya melalui karya tulisan, foto, infografis bahkan video kreatif. Pun juga berhenti mempromosikan dan membeli produk-produk yang berkontribusi terhadap deforestasi, cek labelnya dan cermat dalam memilih. Terakhir, berdonasi kepada gerakan dan wadah-wadah yang pro terhadap perlindungan hutan Indonesia.


Siapapun Kita, mau Ibu rumah tangga yang setiap hari megurus keluarga, seorang Mahasiswa yang belum berpenghasilan, Penulis amatir yang minim pengalaman, seorang guru di tingkat sekolah dasar, Karyawan dan “budak korporat” dengan segudang deadline. Sekecil apapun perannya, Kita masing-masing dapat berkontribusi menekan deforestasi dari berbagai lini.

Hutan selalu menanti uluran tangan Kita, Mari terus berperan serta.
Memberi dampak nyata, demi keselamatan hutan dan Umat Manusia.



Hari Bumi 22 April, Momentum Jaga Lingkungan dan Hutan Indonesia

Dokumentasi Pribadi

Tahun 2021, salah satu resolusi yang Aku ingin lakukan adalah berkontribusi lebih banyak mengkampanyekan isu-isu lingkungan dalam bentuk tulisan. Pucuk dicinta ulampun tiba, tanpa dinyana-nyana sebuah notifikasi email menjadi kabar yang sangat membahagiakan. 

Sebagai Blogger pemula, senang sekali diberi kepercayaan untuk tergabung dalam Eco Blogger Squad, sebuah wadah menyuarakan isu-isu perlindungan hutan, perubahan iklim dan lingkungan hidup melalui platform blog.

Ahh... senang sekali bisa berkenalan dengan sesama teman blogger yang keren-keren dan punya semangat yang sama berliterasi, khususnya dalam kampanye perlindungan hutan dan lingkungan.

14 April 2021 : Gathering Perdana Menyambut Hari Bumi

Host dan Narasumber dalam Eco Blogger Earth Day Gathering 

Pertemuan perdana Eco Blogger Squad dilaksanakan pada 14 April lalu dalam rangka menyambut Hari Bumi. Dipimpin oleh Teh Ocha, Kami belajar dan bersenang-senang bersama dengan sederet pembicara yang memang cukup lama berjibaku dalam isu-isu hutan dan lingkungan. 

Ketiga pembicara tersebut merupakan perwakilan dari Walhi, LTKL dan HII

Teman-teman pasti penasaran, Siapakah mereka ?

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) merupakan sebuah organisasi gerakan lingkungan hidup terbesar di Indonesia. Sejak tahun 1980 hingga saat ini, WALHI secara aktif mendorong upaya-upaya penyelamatan dan pemulihan lingkungan hidup di Indonesia. Tujuannya adalah terwujudnya pengakuan hak atas lingkungan hidup, dilindungi serta dipenuhinya hak asasi manusia sebagai bentuk tanggung jawab Negara atas pemenuhan sumber-sumber kehidupan rakyat. 

Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) adalah forum kolaborasi yang dibentuk dan dikelola oleh pemerintah kabupaten untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. LTKL dibentuk oleh 8 pemerintah kabupaten pada Juli 2017. Melalui LTKL, arah pembangunan kabupaten didukung untuk mampu menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan melalui gotong royong seluruh pemangku kepentingan, baik di dalam kabupaten maupun antara kabupaten anggota. 

Hutan Itu Indonesia (HII) merupakan organisasi nirlaba berbadan hukum, dan gerakan terbuka yang saat ini dikelola oleh 20 pengurus. Hutan itu Indonesia (HII) mengusung visi bagaimana hutan menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia yang hidup harmonis. Hutan itu Indonesia (HII) didirikan pada 22 April 2016, dimana berfokus pada kampanye pelestarian hutan tropis ke masyarakat muda perkotaan lewat pesan positif. Hutan itu Indonesia (HII) dibantu oleh 350 lebih sukarelawan dan 400 lebih mitra berbagai bidang kegiatan dalam berbagai program pendekatan kreatif.


For your information, sebelumnya segenap anggota Eco Blogger Squad telah dikirimi hampers menarik yang merupakan produk unggulan yang diproduksi dengan memerhatikan aspek lingkungan. Pertama, Sure.co yaitu Kopi asal Bali dan NTT, dan juga Sago Pancake Mix. Jujur Senang sekali berkenalan dengan dua produk ini, membuktikan bahwa kegiatan peduli lingkungan juga bisa tetap cuan.

Narasumber Pertama : Yuyun Harmono, Manajer Kampanye Keadilan Iklim 

Kami kemudian berkenalan dengan Mas Yuyun Harmono sebagai pembicara pertama yang merupakan perwakilan dari WALHI. MAs Yuyun mengusung topik mengenai “Krisis Iklim dan Transisi Berkeadilan”. 

Beliau menuturkan banyak ilmuwan sudah menjelaskan bahwa Kita sudah memasuki fase krisis iklim. Apa yang Kita lakukan saat ini sangat berpengaruh pada kondisi bumi. Lebih jauh, sebuah studi di Inggris memvisualisasi perubahan suhu bumi, tampak jika suhu sudah mengalami kenaikan yang signifikan.

Pemanasan Global akibat ulah manusia telah mencapai 1o C pada tahun 2017 dibandingkan masa pra industri dan terus meningkat sekitar 0,2o C setiap sepuluh tahun. Jika emisi global terus meningkat dengan kecepatan seperti sekarang pemanasan global akibat ulah manusia akan melewati batas 1,5o C pada sekitar tahun 2040.

Lantas, apa masalahnya jika suhu bumi terus mengalami peningkatan ?

Naiknya suhu hingga 1,5o C akan mengakibatkan pemusnahan yang tidak terutama bagi pulau-pulau kecil dan memperkecil kesempatan untuk melakukan adaptasi. Dampaknya akan semakin buruk pada negara tropis dan subtropis di belahan bumi selatan.

Pada kenaikan suhu 1,5o C ekosistem laut akan mencapai titik kritis dan tidak dapat dipulihkan kembali termasuk hilangnya 70-90% terumbu karang dan berakibat pada naiknya suhu laut dan keasamaan laut yang berdampak langsung pada keselamatan, perkembangan dan pertumbuhan berbagai macam kehidupan laut.

Kemudian dengan lugas, Mas Yuyun menunjukkan Tren Bencana selama periode 2009-2019. Aku kaget bahwa ternyata 6 dari 10 bencana yang terjadi di Indonesia adalah bencana hidrometereologi yang terkait langsung dengan perubahan iklim. Lebih jauh, bahkan bencana hidrometereologi selama 10 tahun terakhir mengalami tren yang terus meningkat.

Prinsip Energi Berkeadilan sebagai upaya Mitigasi Iklim...

Sebagai awam muncul pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan prinsip energi berkeadilan. Seolah mengetahui isi hatiku, Mas yuyun kemudian menjelaskan tujuh poin yang termasuk dalam prinsip energi berkeadilan, diantaranya 1) menyediakan akses energi untuk semua sebagai hak dasar manusia, 2) aman terhadap iklim berdasarkan pada teknologi yang tersedia di lokal dan berdampak rendah, 3) di bawah kontrol langsung oleh publik dan diatur untuk kepentingan publik, 4) memastikan hak-hak pekerja sektor energi, 5) memastikan hak free, prior and informed consent  bagi masyarakat yang terkena dampak, 6) berskala kecil dan terdesentralisasi, dan 7) memastikan penggunaan energi yang adil dan seimbang serta meminimalkan limbah energi.

 Transisi berkeadilan berarti tidak ada yang ditinggalkan termasuk buruh dan pekerjaan yang layak

Mas Yuyun kemudian menambahkan jika transisi berkeadilan harus menjamin beberapa hal misalnya, dialog dan konsultasi dengan serikat pekerja di semua tingkatan, assessment yang baik tentang dampak sosial dari transisi, kehilangan pekerjaan akibat dari transisi diminimalkan dan peluang penciptaan pekerjaan dimaksimalkan, pekerja yang terkena dampak didukung dengan pendidikan dan pelatihan, perpindahan pekerjaan ke industri baru tidak terjadi dengan mengorbankan pekerjaan yang layak, hingga pekerja dan komunitas yang terkena dampak menerima kompensasi yang layak dan tepat untuk setiap kehilangan pekerjaan yang terjadi.                                                              

Secara virtual, Kami para Eco Blogger Squad diajak berkunjung ke Dusun Silit yang berlokasi  di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang Kalimantan Barat. Dusun Silit merupakan Kampung mandiri Energi dan sedang dalam proses pengajuan hutan adat mereka ke pemerintah pusat setelah sebelumnya mengantongi SK pengakuan ke pemerintah daerah. Dengan total wilayah kurang lebih 5600 hektar, dimana praktik pemanfaatan hutan oleh masyarakat adat secara lestari telah termanifestasi di Dusun Silit.

Dusun Silit sudah membuktikan bahwa pemanfaatan hutan secara lestari justru mendorong penyediaan energi secara lokal bagi masyarakat setempat. Ini adalah sebuah semangat yang perlu Kita teladani bersama.

Sebagai penutup, Mas Yuyun kemudian menambahkan, bahwa Kita bisa turut andil dalam aksi perlindungan hutan dari berbagai sisi, misalnya berperan serta dan turut menggaungkan kampanye kreatif di ruang publik, festival wilayah kelola rakyat, pendidikan lingkungan hidup untuk generasi muda bahkan yang paling sederhana yaitu turut berdonasi melalui Walhi.

Pembicara Kedua : Gita Syahrani, Sekretariat LTKL

Kak Gita Syahrani sebagai pembicara kedua langsung memberikan gebrakan dengan menawarkan pola pikir atau cara pandang baru terkait relasi antara alam dan manusia. Dengan mengambil potret sebuah candi di Kamboja yang telah lama tak terjamah tangan manusia, terlihat bahwa pepohonan di sana “seolah” mengambil alih kembali tempat hidupnya.

Kak Gita juga menambahkan hasil penelitian memproyeksikan jika manusia punah, bumi akan tetap baik-baik saja. Maka kesimpulannya perayaan Hari Bumi yang jatuh pada 21 April mendatang adalah sebuah pengingat untuk menyelamatkan manusia, karena sejatinya dengan merawat bumi Kitalah yang diselamatkan.

Dalam rangka menjalankan misi menyelamatkan manusia, Kita perlu memahami bahwa apa yang Kita hadapi saat ini adalah sebagian kecil dampak akibat kerusakan hutan, dan lingkungan hidup. Jika tidak ada perubahan yang signifikan, umat manusia harus siap menghadapi gelombang yang lebih besar dari pandemi, entah itu resesi, perubahan iklim dan kerusakan keanekaragaman hayati. Perlu digarisbawahi, sehebat apapun visi ekonomi yang diusung, tanpa kualitas tanah, air dan udara yang baik semuanya hanya akan sia-sia.

Data menunjukkan selama pandemi, transaksi e-commerce Kita naik hingga mencapai angka Rp. 266,3 Triliun pada tahun 2020. Jangan senang dulu, karena sayang seribu sayang dari angka yang fantastis tersebut, diketahui penetrasi produk lokal pada transaksi digital masih dibawah 20%. Padahal seharusnya ini menjadi momen meningkatkan nilai jual produk lokal terhadap market.

“Konservasi memiliki nilai valuasi ekonomi yang tidak kalah bersaing, konservari tetap bisa cuan adalah sebuah narasi tanding yang seharusnya terus digaungkan saat ini”

Pertanyaan anak muda yang kerap hadir yaitu bagaimana Kita bisa berkontribusi dalam mewujudkan Ekonomi Lestari pada 2024 mendatang ?

Jangan salah, banyak sekali peran yang bisa dijalankan. Kita dapat berkontribusi melalui profesi Kita, misalnya bagi yang berkecimpung di dunia komunikasi silahkan menyuarakan tentang hutan dan lingkungan, bahkan seorang investor juga dapat turut serta dengan berinvestasi pada perusahaan yang memang menjalankan prinsip ekonomi lestari dalam usahanya. Intinya peran kita mencakup profesi, apa yang Kita konsumsi, investasi Kita dan Ingatkan & Bantu negara.

Pembicara Ketiga : Christian Natali, Manajer Hutan itu Indonesia (HII)

Sebagai penutup, pembicara ketiga diisi oleh Kak Kristian Natali sebagai Manajer Hutan itu Indonesia (HII). Di awal Kak Kristian menuturkan Hutan adalah jawaban untuk menghentikan krisis iklim yang sedang Kita hadapi sekarang.

Komitmen Indonesia kepada dunia internaisonal untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca sebesar 29% pada tahun 2030, dimana dari angka 29% tersebut, sektor yang merupakan kontributor utama adalah sektor kehutanan (17,2%).

Memangnya apa sajakah program di sektor kehutanan ?

1.        Penurunan laju deforestasi (di seluruh fungsi hutan, termasuk konservasi).

2.        Penurunan laju degradasi hutan (di seluruh fungsi hutan, termasuk konservasi).

3.        Peningkatan hutan tanaman pada areal bukan kawasan hutan.

4.        Penurunan laju kebakaran hutan dan lahan.

5.        Pengelolaan hutan alam lestari, termasuk restorasi ekosistem.

6.        Peningkatan produktivitas hutan tanaman industri.

7.        Restorasi gambut dan pengelolaan ekosistem gambut.

8.        Rehabilitasi lahan terdegradasi.

9.        Reklamasi lahan bekas tambang.

Berbagai kampanye akan hutan dan lingkungan hidup yang kerap digaungkan oleh Hutan itu Indonesia (HII), LTKL, dan Walhi bukan tanpa alasan. Program kampanye dibutuhkan untuk mencapai adanya Knowledge, Attitude, Interpersonal Communication, Barrier Removal, Threat Reduction. Dimana semua hal tersebut memiliki tujuan akhir, Conservation Result atau adanya perubahan perilaku terhadap lingkungan yang jelas juga merupakan cita-cita Kita bersama.

Kendati hutan memegang beragam peran yang vital bagi kehidupan manusia,berdasarkan beberpa riset dan survey menunjukkan anak muda memiliki hambatan dalam memandang hutan secara utuh. Pertama, Out of sight karena hutan memang terletak nun jauh di mata, jarang Kita melihat hutan. Kedua, Disconnects karena banyak anggapan negatif yang justru lebih banyak diperdengarkan. Ketiga, Filtered Information dimana hutan jarang sekali disentuh misalnya sebagai obrolan tongkrongan anak-anak muda di kedai kopi. 

Materi dari Hutan Itu Indonesia (HII)

Oleh sebab itu, Hutan itu Indonesia (HII) melakukan berbagai aksi untuk mendekatkan hutan dan menumbuhkan cinta terhadap hutan Kita utamanya bagi anak-anak muda Indonesia. Bagaimana Caranya ? melalui kampanye jaga hutan, cerita dari hutan agar hutan tidak hanya bermakna mis tis bagi anak-anak muda, adopsi pohon, menge nalkan produk hutan non kayu, dan yang menarik tentunya traveling atau jalan-jalan ke hutan sebagai daya tarik utama kepada anak muda supaya mencintai hutan.

Konsumsi Hasil Hutan

Selama ini hutan hanya identik dengan produk kayu, padahal berbicara hutan maka berbicara kekayaan dan keberagaman. Banyak sekali produk hutan non kayu yang sudah menjadi andalan Kita misalnya, komoditas pangan yang terdiri dari bahan dan olahan makanan, minuman, minyak-minyakan yang bisa dimakan, dan rempah-rempah. Selain itu juga ada komoditas kerajinan yang terdiri dari bahan olahan hasil hutan yang dibuat untuk aksesoris, maupun digunakan untuk kebutuhan sekunder lainnya. Contohnya gelang dari rotan, tas belanja dari purun, kain tenun, rotan, bambu, serat alam, sutra, alam pewarna alam.

Pun juga ada pengelola jasa lingkungan, dimana merupakan komunitas masyarakat maupun individu di sekitar hutan dengan memerhatikan perlindungan keanekaragaman, kekayaan budaya, dan pelestarian air, udara. Contohnya paket jasa ekowisata, desa wisata di area hutan adat atau hutan desa.

Cerita dari Hutan   

Hutan Indonesia menyimpan banyak cerita, baik dari hutan itu sendiri, air yang mengalir di dalamnya, ragam flora dan fauna, hingga masyarakat sekitar dan budaya dan tradisi yang lahir dari hutan. Hal yang dapat kamu lakukan untuk mendorong perlindungan hutan yang lebih baik adalah dengan bercerita soal hutan lewat berbagai kanal media kreatif yang kamu miliki.

Jalan-jalan ke Hutan  

Siapa sih yang tak suka jalan-jalan, nah aksi nyata yang bisa kamu lakukan adalah jalan-jalan ke hutan dan berwisata dengan cara yang baik dan bertanggung jawab. Terbayang kan serunya  merasakan keajaiban hutan, mencium wangi pohon, merasakan gemercik air, dan bermalam dengan gemerlap kunang-kunang.

Adopsi Pohon

Melalui program adopsi pohon, artinya kamu berdonasi sejumlah uang yang akan dipakai untuk mendukung kegiatan patroli hutan untuk memastikan pohon yang sudah selama lebih dari belasan tahun menjaga stabilitas air dan menghasilkan oksigen terjaga selama paling tidak satu tahun.

Hingga kini diri tak henti-hentinya mengucap syukur karena diberi kesempatan tergabung dalam Eco Blogger Squad. Selain bertemu dengan sesama blogger dari seluruh Indonesia, Aku juga mendapatkan banyak pengetahuan baru seputar hutan, perubahan iklim dan ekonomi lestari. Ilmu yang tak ternilai. 


Terakhir, Aku ingin mengajak teman-teman semua untuk ikut berkontibusi melindungi hutan kita. Hari Bumi pada 22 April ini merupakan momentum yang tepat. Yuk temukan irisan kepentingannya, karena apapun profesinya Kita bisa ambil bagian.

Jika Kita tidak peduli dengan hutan dan lingkungan Indonesia, lantas siapa lagi ?

Kita satu-satunya harapan, Mari bergerak bersama.


Rekomendasi Buku Self Improvement, Pas Menemani Puasa Kali ini

Self Improvement dapat dikatakan merupakan genre buku yang menjadi primadona bagi siapa saja. Saya pribadi mengakui bahwa dengan membaca buku Self Improvement cukup efektif untuk membantu meningkatkan kualitas diri. Bagaimana dengan kamu ?

Nah, berikut tiga rekomendasi buku self improvement untuk menjadi teman selama bulan Ramadhan kali ini. Check these out...

Pertama, Keep Going Karya Austin Kleon
‘Keep Working. Keep Playing. Keep Creating’ Austin Kleon Sebelum membaca buku ini, Saya sudah memiliki ekspektasi luar biasa karena sosok sang penulis Austin Kleon yang telah melahirkan karya best seller sebelumnya yaitu ‘Steal Like an Artist dan Show Your Work!’ 
Boom ! ternyata benar, karya ini merupakan salah satu Buku Self Improvement terbaik yang wajib Saya rekomendasikan. Hal menyedihkan yang disadari ketika dewasa yaitu Kita kehilangan kreativitas akibat sederet rutinitas dari a sampai z. Padahal apapun bentuk 'meja kerjanya', menjadi pribadi kreatif akan terus dibutuhkan. 

Buku ini berisi 10 aturan yang dapat membantu Kita, terutama seniman dan penulis, untuk dapat meraih dan mempertahankan kehidupan yang bermakna, produktif, dan kreatif. Salah satu yang mencuri perhatian Saya yaitu bagaimana Kita harus punya kemampuan 'unconnected' dengan dunia Maya untuk terhubung dengan diri sendiri. Jika masalah generasi baby boomers cenderung tidak ramah dengan teknologi digital. Tantangan yang Kita hadapi justru sebaliknya, Kita terlalu melebur dengan apa yang ada di layar, sampai lupa caranya ‘unconnected’ dengan dunia digital yang berisik sekali.  

Saya yakin pembaca tidak akan bosan menjelajahi lembar demi lembar dari Buku ini karena desainnya yang tidak biasa, disertai ilustrasi, foto yang menarik bahkan juga komik sederhana. Jika diminta mendeskripsikan Buku ini hanya dengan satu kata saja, Saya akan memilih kata ‘Orisinal’. Meskipun disertai banyak kisah inspiratif dari beberapa tokoh seniman, Buku ini merepresentasikan ciri khas ‘Austin Kleon’ sebagai penulisnya. Orisinalitasnya benar-benar terasa. 

Kedua, Ikagi Karya Hector Garcia & Francesc Miralles
Buku Ikigai, karya Hector Garcia & Francesc Miralles ini Saya beli ketika pertama kali kembali kampung halaman karena pandemi, kira-kira setahun yang lalu. Perasaan saat itu kecewa karena sederet rencana jangka panjang selama studi di Kota hujan harus gagal dieksekusi. Jujur, membaca buku ini lumayan mengobati diri. 

Ikigai versi Hector Garcia & Francesc Miralles dapat diartikan sebuah tujuan sederhana yang menjadi alasan kita bangun dari tempat tidur atau sesederhana alasan kenapa kita tidak bunuh diri. Kendati begitu, menemukan Ikigai merupakan sebuah perjalanan panjang. 

Mengacu Diagram Mark Winn, Ikigai tak hanya soal diri kita sebagai manusia tunggal. Ikigai adalah titik temu antara hal yang yang Kita cintai, keahlian kita, dengan apa yang dibutuhkan dunia, dan apakah semesta berkenan ‘membayar’ keahlian yang kita cintai tersebut. 

 In my Point of view, Buku ini sangat layak dibaca diantara kebisingan yang kita hadapi sehari-hari. Sebelumnya, saya kira jepang sebagai negara dengan angka harapan hidup yang tinggi (85 tahun untuk pria dan 87,3 tahun untuk wanita) sekaligus dengan rasio centenarian tertinggi di dunia (lebih dari 520 untuk setiap juta orang) memiliki rahasia luar biasa dibaliknya. Ternyata tidak, kunci panjang umur bermuara pada Ikigai dan bagaimana membangun ‘kebahagiaan’. 

Well, lately menjadi bahagia memang sulit sekali untuk digapai bukan ? 

Dimana kita hidup seolah berpacu dengan orang lain misalnya setidak penting ingin yang paling cepat mencoba makanan kekinian, ootd terbaru, hingga menjajaki wisata terkini. Sebenarnya hal-hal tadi justru menjadi penghalang kebahagian yang hakiki. Intinya, Buku bergenre Self Improvement ini menarik. Terutama bagi mereka yang lelah dengan hidup, dan membutuhkan kedamaian. 

Ketiga, PASSION without creation IS NOTHING Karya Rene Suhardono
"Bekerja = berdaya. Kerja tanpa passion adalah kerja tanpa karya.” – Rene Suhardono 

Kata-kata di atas merupakan kutipan dari Buku yang ditulis oleh Rene Suhardono bersama Team Impact Factory. Uniknya, buku setebal 300 halaman lebih ini memiliki cover depan bertuliskan “PASSION without creation IS NOTHING” dan cover belakang dengan judul berbeda “PERFORMANCE without passion IS MEANINGLESS”. 

Sebagai Milenial yang sering menjunjung tinggi ‘Passion’, buku ini terasa sangat relevan bagi Saya pribadi. Setelah tuntas membaca buku ini, Saya menyadari bahwa pemahaman akan passion yang selama ini Saya kenali masih sangat awam dan abstrak. Kendati dikemas dengan kata-kata yang berisi dan cukup berat, Rene Suhardono & team Impact Factory berhasil membawa saya ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi akan passion dan dampaknya, utamanya bagi mereka yang bercita-cita men-deliver passion menjadi occupation/profesi. 

Bagi yang sedang mencari Buku Self Improvement, saya merekomendasikan buku ini dengan beberapa kelebihannya. Buku ini tak sekadar berteori, namun pembaca juga akan disajikan dengan data-data hasil survey terhadap para performers dunia kerja serta cerita-cerita inspiratif dari CEO dan tokoh sukses di tanah air. Nilai plus buku ini juga terletak bagaimana tim penulis mengulas passion dan performance, dari kaca mata individu dan perusahaan, sehingga memberikan potret yang lebih utuh dan berimbang. Meskipun bukan bacaan santai dengan bahasa casual seperti buku self improvement pada umumnya, buku ini menarik. Selamat membaca, dan bersiap jatuh cinta dengan sebuah buku.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat, dan selamat berburu buku Self Improvement dambaan kamu hihi

Petani Urban, Profesi Mantu Idaman di Masa Depan

 

Potret Petani Urban Hidroponik di Kota Jember (Dokumentasi Penulis)

***

Tangis Ibu Tati pecah usai menyaksikan tayangan pendek berdurasi 5 menit yang menggambarkan kerusakan bumi akibat ulah manusia. Aku bersaksi air mata beliau adalah ekspresi kekecewaan yang amat dalam. Mungkin pembaca bertanya-tanya, siapakah sosok Ibu Tati. Beliau adalah perempuan inspiratif asal Sumatera Barat yang sudah bertahun-tahun berjibaku dalam program pengelolaan hutan untuk kesejahteraan perempuan. Masih dalam linangan air mata, Ibu Tati kemudian bercerita pengalamannya bersama ibu-ibu lainnya di kampung halaman mengembangkan berbagai produk olahan hutan demi menopang hidup.

Ibu Tati dalam Sebuah Acara Bertajuk "Pangan dari Hutan" (Dokumentasi Penulis)

Ternyata pengorbanan mengejar kereta dari Bogor ke Jakarta guna mengikuti acara bertajuk “Pangan dari Hutan” tersebut tidak sia-sia. Selain bertemu dengan Ibu Tati, Aku dapat berdiskusi dengan perempuan tangguh lainnya yang dapat dikatakan sebagai pejuang lingkungan. Aku tersadar betapa berharganya keberadaan hutan bagi masyarakat lokal. Hutan menjalankan multi peran, sebagai tempat tinggal, sumber pangan, dan sumber penghidupan. Begitu pula sebaliknya, keberadaan masyarakat sekitar juga penting bagi keberlangsungan hutan. Ternyata hubungan antara manusia dan alam sedemikian erat dan saling ketergantungan.

“Ibu-ibu di sana sebagai bunda kandung  menjaga hutan bersama yang lain.

Kalaupun ada yang membakar hutan kami, akan kami kejar kemana pun.”

Kata-kata Ibu Tati di atas menamparku dalam diam, Aku yang kini tengah menempuh studi master pada salah satu universitas kenamaan di Bogor dibuat malu tak berkesudahan. Harus kuakui, meskipun mengenyam pendidikan tinggi ternyata tak sebanding dengan kontribusiku untuk negeri utamanya bagi lingkungan. Padahal bukankah seharusnya semakin berilmu semakin besar pula kepeduliannya terhadap alam dan kehidupan.

Petani Urban, Solusi Ketahanan Pangan yang Menjanjikan

Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa, apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka “malapetaka”oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner”

Ir. Soekarno, Presiden Pertama RI

Mengikuti serangkaian acara “Pangan dari Hutan” yang dihelat di Jakarta tersebut, membuatku penasaran dengan isu pangan nasional. Berbekal laptop dan secangkir teh hangat, Aku memanen sederet informasi berharga yang berbicara jika sektor pangan nasional sedang tidak baik-baik saja. Pertumbuhan penduduk yang kian fantastis dengan laju 1,1 persen per tahun, menyusutnya lahan pertanian di perdesaan akibat alih fungsi lahan, hingga perubahan iklim yang mengancam kemampuan produksi pertanian adalah seabrek pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Badan Pusat Statistik mencatat adanya tren peningkatan impor pangan, sebesar 3,34 miliar dollar AS pada 2003 menjadi 14,90 miliar dollar AS pada 2013, atau tumbuh empat kali lipat dalam satu dekade. Meningkatnya ketergantungan Indonesia terhadap pangan impor tersebut merupakan urgensi untuk menggenjot produksi pangan dalam negeri dengan cara-cara yang inovatif. Kita tidak boleh lupa bahwa pemenuhan kebutuhan pangan bagi warga negara diatur oleh Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan, yang menyatakan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia paling utama, dan pemenuhannya merupakan hak asasi rakyat Indonesia.

 

Andai saja Aku seorang Menteri Pertanian, atau Presiden seperti Bapak Jokowi, sudah pasti banyak program dan kebijakan yang bisa Aku lahirkan. Eits... Tunggu dulu, memangnya harus jadi Menteri atau Presiden agar bisa berkontribusi ? Lalu Aku teringat kembali sosok Ibu Tati asal Sumatera Barat, beliau bukanlah siapa-siapa, seorang Ibu rumah tangga biasa yang tinggal di dekat hutan. Namun, bisa memberikan kontribusi nyata bagi hutan dan kesejahteraan perempuan di kampungnya.

Sebagai anak muda, Aku bisa berkontribusi seperti Ibu Tati dengan menjadi Petani Urban...

Petani Urban tak sekadar profesi namun ruang kontribusi yang dapat diisi anak muda dalam mengurai permasalahan pangan. Pemikiran lama bahwa pertanian hanya dapat dilakukan di desa dan petani bukanlah pekerjaan bergengsi kini tak lagi relevan. Sebaliknya, di tengah tantangan zaman Petani Urban adalah pekerjaan menjanjikan di masa depan. Dengan menjadi Petani Urban, anak muda mampu menghadirkan lahan produksi di perkotaan lewat konsep Urban Farming.

Pertanian kota atau Urban Farming merupakan konsep berkebun di lahan terbatas utamanya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan sebagainya. Halaman rumah, atap, tembok dan hampir semua jenis ruang perkotaan dapat diubah menjadi zona pertanian mini yang syarat akan manfaat. Urban Farming bukanlag gagasan baru, beberapa kota besar di dunia bahkan sudah berhasil menerapkannya misalnya HK Farm,  jaringan taman atap di sekitar Yau Ma Tei, Hongkong dan juga Broklyn Grange di New York, perkebunan atap terbesar di dunia yang berhasil memproduksi lebih dari 22 ton produk organik setiap tahunnya.

Memangnya Petani Urban Bisa Berkontribusi Apa untuk Indonesia ?

Jangan salah, sebagai salah satu pekerjaan bergengsi di masa depan, Petani Urban dapat memberikan seabrek manfaat untuk Indonesia. Penasaran ? Berikut jawabannya.

Kotribusi Petani Urban Bagi Indonesia yang Lebih Bersih (Dokumentasi Penulis)

Berkontribusi Tingkatkan Kualitas Udara

“Hutannya hutan beton, sementara ladangnya ladang bisnis”

Kota-kota besar di Indonesia lekat dengan julukan di atas. Sebagai sentra bisnis dan pusat ekonomi, lumrah jika hutan dan ladang perkotaan menjelma menjadi hutan beton dan ladang bisnis. Sayangnya pembangunan infrastuktur yang masif mengikis ruang terbuka hijau di perkotaan kemudian berimplikasi terhadap kestabilan ekosistem lingkungan. Salah satu yang paling kentara yaitu tingginya polusi udara. Sebelum pandemi,World Health Organisation  menempatkan Jakarta sebagai 22 kota paling berpolusi (udara) di dunia dengan Air Quality Index sebesar 152, angka tesebut dua kali lipat lebih tinggi dari standar batas udara bersih internasional.

Peran anak muda sebagai Petani Urban dapat secara langsung memperbaiki kualitas udara di Kota. Berbagai sistem penanaman urban farming seperti vertikultur, hidroponik, dan akuaponik membuka peluang akan ruang terbuka hijau baru. Tersedianya ruang terbuka hijau secara perlahan akan mengurangi pencemaran udara dan menjadikan lingkungan sekitar sehat untuk ditinggali.

Berkontribusi Menjaga Ketahanan Pangan

Langkanya lahan pertanian di perkotaan menjadi penyebab kota tak lagi mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. Sementara permintaan pangan di perkotaan terus meningkat akibat laju arus urbanisasi dan pertumbuhan penduduk. Jika terus dibiarkan, tingginya permintaan pangan akan berimplikasi terhadap inflasi. Di tengah permasalahan tersebut, Petani Urban menjadi harapan sumber pemenuhan pangan di tingkat rumah tangga perkotaan sehingga mendukung ketahanan pangan nasional.

Data Association for Vertical Farming (AVF) mencatat, melalui urban farming Kota New York dapat menghasilkan sekitar 200-220 ton daun basil setiap bulannya. Senada dengan itu, Arizona State University menemukan produksi urban farming dapat menghasilkan 180 juta ton bahan makanan setara dengan 10 persen kebutuhan pangan global selama satu tahun. Luar biasa bukan kekuatan Urban Farming ?

Berkontribusi Menghemat Penggunaan Energi

Tanpa Kita sadari, setiap hidangan makanan yang Kita santap telah melalui perjalanan panjang. Untuk sampai ke meja makan, sayur-mayur, ikan, buah dan sebagainya menempuh jarak berkilo-kilometer dari desa untuk didistribusikan ke kota. Perjalanan panjang ini jelas membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar.

Matei Georgescu, profesor asal Arizona State University, mengungkap bahwa urban farming berpotensi menghemat 15 miliar kilowatt per jam untuk pemakaian energi dunia selama setahun dan menghasilkan 170.000 ton nitrogen ke udara, sama artinya dengan mencegah pencemaran sungai dan saluran air bersih. Keberadaan Petani Urban akan memangkas jalur distribusi bahan pangan sehingga menghemat energi dan mengurangi pencemaran lingkungan. Fakta tersebut lagi-lagi membuktikan bahwa petani urban adalah profesi yang kontributif.

Berkontribusi Manfaatkan Kembali Limbah Plastik dan Bahan Sisa Dapur

Limbah plastik adalah masalah klise yang hingga kini mendera negara manapun. Banyak cara sudah dilakukan, namun penggunaan plastik yang murah dan melimpah menjadikannya idola bagi masyarakat. Inilah mengapa menekan penggunaan bahan-bahan berbahan plastik terasa sangat sulit. Keberadaan Petani Urban membuka peluang dalam memanfaatkan botol-botol bekas menjadi pot tanaman. Selain itu, daripada mengeluarkan biaya untuk pupuk, Petani Urban dapat mengolah bahan sisa dapur sebagai pupuk alami. Misalnya cangkang telur yang kaya akan kalsium, juga bubuk kopi serta kulit pisang yang baik untuk perkembangan mikroorganisme tanah.

Petani Urban Profesi Menjanjikan, Mantu Idaman di Masa Depan

Lahan Selada Hidroponik di Perkotaan (Dokumentasi Penulis)

Sayangnya, pekerjaan sebagai petani kerap dianggap remeh karena penghasilannya yang diduga pas-pasan. Padahal zaman sudah berubah, profesi sebagai petani urban justru berpeluang besar meraih cuan. Aku sempat berkunjung ke usaha hidroponik yang dijalankan kawan kurang lebih selama dua tahun. Setelah berdiskusi panjang lebar, Aku kaget mengetahui nominal rupiah yang berhasil dikumpulkan dari usaha bercocok tanam dengan media air tersebut. Kawanku mengatakan jika kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan mengkonsumsi sayur dan buah telah meningkatkan permintaan produk pertanian di pasar. Permintaan yang tinggi tersebut berkorelasi positif dengan harga-harga pangan yang kian kompetitif terutama bagi produk sayuran hidroponik yang tak kenal musim tanam.

Dengan seabrek kontribusi ditambah peluang meraup cuan yang luar biasa di atas, rasanya tak berlebihan jika Petani Urban dapat dikatakan sebagai pekerjaan mantu idaman di masa depan. Siapasih yang tidak ingin dipinang Petani Urban dibalik kebermanfataannya yang luar biasa ?

GreenJobs, Peluang Kerja Anak Muda Demi Indonesia yang Lebih Bersih

Seketika Aku mengenang momen saat orang tua menanyakan cita-citaku saat anak-anak. Bisa dipastikan jawabannya selalu sama, ingin menjadi dokter. Bukan semata-mata soal uang, menjadi seorang dokter adalah satu-satunya gambaran profesi mulia bagi anak-anak kala itu karena dapat menolong orang sakit. Berkat perkembangan teknologi, kini lebih banyak pilihan profesi mulia yang dapat dicita-citakan anak muda atau bahasa kerennya dikenal dengan Green Jobs.

Dilansir dari Coaction.id,  International Labour Organization (ILO) mendefiniskan green jobs menjadi lambang dari perekonomian dan masyarakat yang lebih berkelanjutan dan mampu melestarikan lingkungan untuk generasi sekarang maupun untuk generasi yang akan datang. Secara sederhana, Green Jobs adalah jenis pekerjaan yang berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Selain Petani Urban, ada banyak sekali bidang-bidang pekerjaan yang berkontribusi mengatasi perubahan iklim dan kerusakan lingkungan misalnya, Ecopreneur, Tekhnisi tenaga surya, Konstruksi hijau, Pengolah limbah dan daur ulang dan masih banyak lagi.

Kapan lagi bisa menumbuhkan perekonomian sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupan ?

Yuk anak muda, Kita ambil bagian dengan terjun ke Green Jobs J


Salam #KolaborAksi, #EnergiMuda!