Anak Muda Ikut Merawat Keberagaman “Rumah Kita”, Memang Bisa ?

Potret Keberagaman Indonesia (Dokpri)

“Lebih baik di sini, rumah kita sendiri

 Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa

 Semuanya ada di sini

 Rumah kita ”

Serangkaian kata indah di atas merupakan penggalan lirik lagu “Rumah Kita” yang hits pada era 80-an. Lagu yang dipopulerkan oleh Godbless tersebut dinyanyikan musisi tanah air secara serentak dalam sebuah video yang dirilis Najwa Shihab sebagai bagian dari rangkaian konser musik #dirumahaja pada Maret tahun lalu. Saya rasa Mbak Nana dan teman-teman musisi berhasil menghadirkan kekuatan sekaligus hiburan bagi masyarakat yang tengah berjuang melawan virus melalui konser musik virtual tersebut.

Sebagai pencinta musik yang awam, Saya terbius dengan lirik indah dari lagu di atas “lebih baik disini, rumah kita sendiri”. Putera dan puteri Indonesia dimanapun berada akan sepakat bahwa tanah air adalah tempat terbaik untuk tumbuh dan berkarya. Selain itu, beberapa kali berdiskusi dengan rekan sejawat yang kebetulan sedang atau pernah tinggal di negera lain, di luar dugaaan ternyata bagi mereka Indonesia tetap nomer satu.

Mengapa Rumah Kita, Indonesia terasa lebih baik  ?

Saya kemudian mengajukan pertanyaan sederhana di atas kepada mereka. Jawabannya beragam, tapi rata-rata mengungkapkan alasan karena Indonesia adalah potret rumah yang ramah akan keberagaman. Saya setuju, kekuatan “Rumah Kita” memang terdapat pada kemampuannya melahirkan dan merawat keberagaman bahkan jauh sebelum Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan.

Gemah Ripah Loh Jinawi adalah ungkapan yang sangat tepat menggambarkan kekayaan Indonesia, dimana tak hanya kekayaan alam namun juga kekayaan keberagaman. Indonesia merupakan negara kepulauan yang penuh dengan keragaman budaya, suku bangsa, ras, etnis, agama, maupun bahasa daerah. Merujuk pada sensus penduduk yang dilakukan oleh BPS tahun 2010, diketahui Indonesia memiliki sekitar 1340 suku bangsa. Tak hanya itu, Indonesia juga rumah bagi plurarisme dalam beragama bahkan kebebasan memeluk agama atau keyakinan masing-masing orang dijamin oleh konstitusi.

Intoleransi dan Kekerasan : Luka Bagi Keberagaman Rumah Kita

Berbicara keberagaman tak hanya perihal suka namun juga duka yang penuh luka. Deretan kejadian panjang pernah menodai keberagaman Indonesia. Di era reformasi media pernah memberitakan soal kekerasan antar agama, misalnya kelompok Muslim yang radikal terhadap kelompok agama minoritas seperti para Ahmadiyya dan Kristen. Hal tersebut telah mendapatkan perhatian internasional dan sejumlah pemerintah, organisasi serta media menyatakan keprihatinan atas penjaminan kebebasan agama di Indonesia.

Tak hanya itu, Convey Indonesia, lembaga yang bergerak mengidentifikasi dan mengatasi faktor-faktor yang mendasari pertumbuhan ekstrimisme kekerasan dalam pendidikan agama, mencatat setidaknya terjadi 17 insiden teroris di Indonesia sejak tahun 2002 hingga 2018. Dalam rentang waktu itu, dikonfirmasi lebih dari 100 orang tewas dan lebih dari seribu orang luka-luka akibat aksi teror di dalam negeri yang dilakukan oleh para pelaku. Data Yayasan Denny JA juga mencatat selama 14 tahun setelah masa reformasi setidaknya ada 2.398 kasus kekerasan dan diskriminasi yang terjadi di Indonesia. Dari jumlah kasus tersebut sebanyak 65% berlatar belakang agama, sekitar 20% kekerasan etnis, dan sisanya berlatar belakang gender.

Data di atas adalah realita pahit. Bagaimanapun Kita tidak boleh melupakan sepak terjang intoleransi dan kekerasan yang pernah mencekik tanah air. Misalnya, kejadian teror bom oleh tiga teroris di dekat sebuah kafe Amerika di Jakarta Pusat pada awal 2016 yang merenggut nyawa tiga orang, pun juga penangkapan dua wanita karena merencanakan dua serangan terpisah di istana presiden pada tahun yang sama. Lagi-lagi, tak hanya berlatar belakang agama, berbagai konflik yang pernah terjadi membuktikan jika motif suku dan ras juga menjadi penyebab diantaranya konflik ambon yang berlangsung pada tahun 1999-2003 yang menghabisi 10 ribu nyawa korban.

Memangnya seberapa gawat Intoleransi dan Kekerasan di Indonesia ?

Saya bukanlah pengamat ahli yang punya kemampuan mengukur seberapa tingkat keparahan intoleransi dan kekerasan di Indonesia. Namun, meminjam data Convey Indonesia yang menyasar generasi muda sudah sepatutnya Kita khawatir. Berdasarkan hasil survei Pusat Pengkajian Islamdan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017 menyatakan kalangan pelajar dan mahasiswa memiliki persepsi radikal sebesar 58%, persepsi intoleransi internal sebesar 51,1%, dan persepsi intoleransi eksternal sebesar 34,4%. Lebih jauh, Survei Keberagamaan yang dilaksanakan PPIM pada tahun yang sama menemukan bahwa, 37,71% responden memaknai Jihad sebagai perang. Bahkan, sepertiga responden berpendapat jika orang murtad itu harus dibunuh dan 33,34% responden merasa bahwa tindakan intoleran kepada Mereka yang berbeda keyakinan tidak masalah.

Kontribusi Anak Muda Tangkis Intoleransi, Diskriminasi dan Kekeresan

Dari data dapat diketahui anak muda yang notabene merupakan harapan bangsa ternyata cukup banyak mengidap intoleransi terhadap agama atau suku dari kalangan yang berbeda. Padahal perbedaan adalah indikasi keberagaman, jika anak muda saja mulai enggan menerima keberagaman lalu bagaimana dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang kerap dikumandangkan ?

Melawan Intoleransi dan Kekerasan dari Anak Muda, Oleh Anak Muda, Untuk Indonesia...

Dalam konteks kebangsaan, anak muda merupakan generasi penerus bangsa. Presiden Soekarno pernah mengatakan jika dengan 10 pemuda mampu menggoyang dunia. Anak muda dapat dikatakan enerjik, energi positif tersebut dapat ditransformasi menjadi semangat menjaga keberagaman Rumah Kita dan #MeyakiniMenghargai.  

Memangnya apa yang dapat dilakukan anak muda ?


1.    Gigih Berliterasi Tanpa Tapi

Memang benar anak muda harus berani menyuarakan kebenaran. Namun, perlu dipastikan mengantongi data dan informasi yang cukup sehingga apa yang diutarakan adalah sebuah fakta valid, tidak mengada-ngada apalagi hoaks seperti mantra Najwa Shihab “be brave but don’t be stupid”. Caranya hanya satu, yaitu gigih berliterasi tanpa tapi. Jangan mimpi memerangi intoleransi, kekerasan dan diskriminasi tanpa bekal ilmu yang memadai.

“Menurut UNESCO (2005), Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan yang diperoleh dari proses belajar baik menulis maupun membaca sehingga mampu menggunakan, mempraktikkan, dan menjadikan hasil dari proses belajar tersebut sebagai budaya.”

Kita beruntung hidup di era teknologi dimana sumber pengetahuan dapat diakses secara bebas tanpa batas. Banyak sekali sumber bacaan yang dapat dijadikan referensi mengenai isu-isu keberagaman, kekerasan, dan intoleransi. Entah berkunjung ke perpustakaan kampus, atau berjejaring di dunia maya dengan situs resmi yang terbukti kredibilitasnya. Convey Indonesia juga menyediakan berbagai literatur terkait, publikasi, berita, modul hingga e-book secara melimpah yang menjadi sumber pengetahuan bagi anak muda untuk berliterasi.


2.    Aktif Perangi Intoleransi dan Kekerasan di Ranah Digital

“Penduduk Indonesia menempati urutan ke-4 pengguna Facebook teraktif di dunia juga sekaligus negara terbesar ketiga pengguna instagram. Tak hanya itu, sepanjang tahun 2016  pengguna Twitter di Indonesia telah mengirim 4,1 miliar tweet menjadikan Indonesia sebagai negara paling cerewet di Twitter”

Yang muda yang bersuara, ungkapan tersebut tepat menggambarkan anak muda yang punya energi lebih. Sudah jadi rahasia umum jika dunia maya menjadi ruang tumbuh dan berkembangnya hoaks/berita bohong. Hoaks kerap menyebarkan provokasi kepada masyarakat yang cenderung mengarah kepada tindakan dan pemikiran intoleran dan radikal. Sayangnya tak sedikit yang kemudian terhasut hingga mencelakai keberagaman. Nah sudah saatnya, anak muda yang ramah dengan ranah digital berkontribusi dengan aktif memerangi konten-konten yang mengarah ke intoleransi dan kekerasan yaitu dengan melakukan pelaporan situs atau akun-akun provokatif.

 

3.    Sebarkan #MeyakiniMenghargai Melalui Karya Digital

Sosial media kini menjelma menjadi media penyebaran informasi nomor satu dengan kecepatan tinggi. Segala hal yang dilempar ke dunia maya bisa mendadak “viral” dalam sekejap, mulai dari selebgram yang tiba-tiba populer hingga tren busana dan makanan yang seketika meledak. Sebagai anak muda yang melek dan ramah dengan teknologi digital rasanya sayang sekali jika melewatkan kesempatan emas ini. Daripada tinggal diam menyaksikan dunia maya dipenuhi oleh konten negatif yang syarat akan ujaran kebencian, memicu perpecahan atau mempertajam radikalisme, alangkah lebih baik Kita sebagai anak muda turut aktif menyerbarkan pesan #MeyakiniMenghargai melalui karya konten digital.

Bagi yang memiliki kegemaran berfoto di depan kamera boleh menyisipkan pesan semangat menerima keberagaman melalui foto diri di sosial media, bagi yang gemar menulis boleh berkarya positif dalam berbagai platform blogging, dan begitu pula yang senang menari dan berkreasi melalui video. Dengan begitu diharapkan pesan akan mencintai keberagaman, merawat toleransi, memerangi kekerasan dan diskriminasi terkemas secara menarik dan lebih mudah sampai ke hati.


4.    Bergabung dalam Wadah Perdamaian dan Toleransi

Convey Indonesia banyak memberikan wadah pembelajaran anak muda sebagai “Peace Ranger”. Misalnya melalui Peace Leader Indonesia yang bertujuan untuk saling menguatkan dan mempromosikan toleransi dan perdamaian khususnya di kalangan pemuda agar terbangun kohesi sosial.  Saya rasa kini wadah semacam itu dapat dengan mudah dicari dengan bantuan teknologi informasi.  Daripada sekadar rebahan waktu yang dimiliki akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk mengikuti Webinar yang mengusung tema cinta perdamaian.

 

5.    Diskusi Lintas Suku dan Lintas Iman

Sosok Imam Ashafa dan Pastor James sempat mencuri perhatian dunia. Kepeloporan dua agamawan pegiat binadamai dari Nigeria yang sebelumnya bermusuhan sangat menginspirasi. Dari mereka Kita dapat belajar indahnya toleransi, kerjasama dan upaya-upaya binadamai lintas-iman. Seperti Pepatah lama “tak kenal maka tak sayang”, bisa jadi mengapa anak muda belum sepenuhnya mencintai keberagaman dan menerima perbedaan semata-mata karena hanya karena belum kenal. Untuk itu, gagasan yang diusung Convey Indonesia dalam meningkatkan pengalaman anak muda untuk berinteraksi dengan kelompok yang berbeda, misalnya membudayakan diskusi lintas iman dan lintas suku sehingga diharapkan dapat mengikis intoleransi dan radikalisme.

Mudah sekali bukan merawat keberagaman Rumah Kita ala Milenial, tertarik ikut serta ? 



Kemerdekaan Bagi Perempuan Modern, Merdeka Berkarya & Berkarir dari Rumah

Merdeka Berkarya Bagi Perempuan Modern (Dokpri)

Baru saja Kita sama-sama merayakan momen bersejarah bagi Ibu pertiwi. Kendati sudah berganti bulan, namun kehangatan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76 masih terasa hingga kini. Aku kemudian iseng melempar pertanyaan melalui laman sosial media pribadi.

 “Apa makna kemerdekaan bagi kalian ?”

Sebuah pertanyaan yang klise memang, tapi membaca berbagai respon kawan-kawan yang datang dari beragam latar belakang ternyata memberiku sebuah refleksi. Seorang rekan yang kini berperan sebagai tenaga kesehatan menjawab, makna merdeka baginya adalah segera merdeka dari pandemi. Aku memahami posisinya sebagai pahlawan kesehatan yang disertai dengan tanggung jawab luar biasa berhadapan langsung dengan pasien Covid-19. Aku mengamini harapannya dalam hati.  

Kemudian sebuah jawaban menggelitik datang dari adikku yang tengah menggandrungi game online. Jawaban polos nan lucu, katanya merdeka artinya bisa main game sepuasnya tanpa diganggu tugas sekolah. Aku tertawa kecil, kemudian Aku kirim tanggapan singkat beserta nasehat bahwa tugas sekolah juga dapat menyenangkan jika dinikmati dan tidak dianggap sebagai beban yang berat. Anggap saja bermain dengan buku, seperti ketika bermain games lewat gawai tambahku di akhir pesan.

Ada banyak sekali tanggapan menarik yang Aku dapatkan lewat pertanyaan sederhana mengenai makna kemerdekaan. Tak ada jawaban yang salah, tak ada pula jawaban yang benar, satu yang Aku tahu mereka semua menjawab jujur sesuai dengan peran yang sedang dijalankan masing-masing.

Aku sudah mendengar jawaban orang lain, tapi justru belum mendengar isi hati dari diri sendiri. Ketika memikirkan jawabannya, Aku kemudian tersadar bahwa pertanyaan yang awalnya sederhana tersebut tidak dapat dijawab sembarangan. Sambil berhati-hati, Aku menuliskan jawabannya...

“Sebagai seorang perempuan modern, merdeka bagiku adalah merdeka berkarya”

Aku yakin jawaban di atas relevan dengan kondisi perempuan lainnya di era digital saat ini. Seperti perempuan modern pada umumnya, Aku kini menjalankan multiperan yang tentunya memiliki sederet konsekuensi di dalamnya.

Pertama, sebagai mahasiwa studi master yang kini sedang berjibaku dengan tugas akhir, Aku harus menyelesaikan penelitian yang membutuhkan fokus dan konsentrasi. Kedua, Aku juga tengah aktif menjadi seorang narablog sehingga mengharuskan diri ini untuk terus aktif melahirkan karya tulisan yang relevan dengan perkembangan sekitar khususnya dunia digital yang sangat dinamis. Ketiga, semenjak kepergian Ibu tiga tahun lalu, Aku kini menjalankan peran sebagai Ibu rumah tangga dengan beragam tugas domestik, mulai dari mengurus rumah, berbelanja, mencuci baju, hingga menyiapkan hidangan keluarga setiap harinya.

Dengan berbagai peran yang Aku jalankan baik sebagai mahasiwa, narablog sekaligus ibu rumah tangga, kemerdekaan dalam berkarya merupakan harapan terbesar saat ini.

Memangnya apa hambatan berarti dalam berkarya yang dihadapi perempuan modern ?

Seringkali tugas domestik seperti menyediakan kebutuhan pokok keluarga menyita energi dan waktu sehingga menghambat perempuan dalam berkarya. Pernah satu kali diri ini sedang konsentrasi menyelesaikan tulisan, namun ketika hendak mengambil susu untuk menambah energi menulis ternyata kulkas kosong melompong. Mengetahui persediaan makanan habis Aku langsung bergegas untuk pergi belanja, sehingga alih-alih melahirkan karya, waktu dan tenaga justru terkuras habis untuk menyediakan kebutuhan pokok keluarga. Ini hanya sedikit contoh sederhana, masih banyak pengalaman sehari-hari lainnya yang menjadi bukti bahwa perempuan modern kerapkali terhambat dalam berkarya dan berkarir.

Aplikasi Super, Pahlawan Kemerdekaan yang Dinanti-nanti

Aku tak bisa membiarkan diri ini terus terjajah dalam berkarya. Bukankah zaman sudah berubah, perempuan di era Ibu Kartini terbatasi pendidikan dan ruang geraknya dalam berkarya, tapi perempuan modern yang hidup di tengah gegap gempita teknologi digital tidak boleh lagi terjajah. Aku harus segera menemukan pahlawan yang dapat membantu menghadirkan kemerdekaan berkarya, khususnya bagi perempuan-perempuan modern di luar sana.

Pertanyaan selanjutnya, siapakah sosok pahlawan itu ?  

Berbekal gawai di tangan, Aku menyusuri satu per satu platform belanja online. Ada banyak sekali penyedia jasa belanja digital yang dapat dengan mudahnya Aku dapatkan sebagai referensi. Tapi ternyata tak semudah itu menjatuhkan pilihan. Dari sederet opsi abc hingga d, masing-masing memiliki kelebihan maupun kekurangan.

Ada yang memiliki fitur belanja lengkap, namun harga tak ramah di kantong. Ada yang menawarkan harga terjangkau, namun tidak praktis mengakses layanan belanja yang ditawarkan. Ada yang super lengkap menyediakan berbagai kebutuhan tapi ongkos kirim mahal bukan kepalang.

Ahh... susah sekali menemukan yang mendekati sempurna.

Pucuk dicinta ulampun tiba, sampai akhirnya Aku terpaku pada salah satu aplikasi belanja online yang setelah Aku cermati benar-benar mendekati sempurna. Tak ada yang lain, hanya satu-satunya, yaitu Aplikasi Super atau dikenal juga sebagai Superapp. Seolah menemukan tambatan hati, Aku senang bukan main.

Apasih Aplikasi Super alias Superapp?

Aplikasi Super adalah salah satu platform digital yang menyediakan berbagai layanan menarik berbelanja kebutuhan pokok bagi penggunanya. Aplikasi Super dijamin aman karena telah terdaftar di Kementrian Komunikasi dan Informatika sebagai penyelenggara sistem elektronik.

Berbagai layanan menarik yang sediakan Aplikasi Super sangat pas untuk perempuan modern sepertiku yang ingin bebas berkarya dan berkarir tanpa batasan. Melalui Aplikasi Super, sebagai pengguna Kita akan sangat dimanjakan dengan beragam layanan dan keuntungan.

Keuntungan Menggunakan Aplikasi Super (Dokpri)

·      Bebas Ongkir

Salah satu keluhan emak-emak se-Indonesia dalam belanja online adalah ongkos kirim. Ongkos kirim jelas merupakan tambahan biaya yang harus ditanggung konsumen. Jika berbelanja pakaian atau peralatan kosmetik yang relatif ringan tentu tidak akan jadi masalah. Tapi bagaimana dengan kebutuhan pokok, seperti beras, telur, minyak dan sejenisnya yang jelas memiliki bobot lebih. Pasti emak-emak pusing dengan ongkos kirimnya yang bikin jebol dompet suami.

Berbeda dengan aplikasi belanja kebutuhan pokok online lainnya, Aplikasi Super sangat memahami kebutuhan konsumen. Kurir Aplikasi Super akan mengirimkan barang pesanan sehari setelah tanggal pemesanan dan bebas ongkos kirim !!!

·      Harga Kompetitif

Aku masih ingat pengalaman berbelanja sewaktu kecil, diri ini sering kesal karena Ibu menyuruh membeli telur ke warung yang paling jauh jaraknya dari rumah demi selisih harga sebesar lima ratus perak. Kala itu Aku tak habis pikir dengan Ibu, rela menyiksa anaknya demi uang yang tak seberapa.

Kini setelah menjalankan peran Ibu di rumah untuk mengatur keuangan keluarga, Aku baru mengerti betapa berharganya lima ratus perak. Tiap rupiah begitu berharga untuk dibelanjakan maka jika ada penjual yang menawarkan harga lebih murah, sampai ke negeri China juga akan diperjuangkan.

Syukurlah Kita hidup di era digital, tak perlu merengkuh belasan kilometer untuk mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga ekonomis. Kini melalui Aplikasi Super di tangan, Kita sudah dapat menikmati berbagai produk dengan harga bersaing. Bahkan Aplikasi Super tak segan memberikan harga grosir yang murah sehingga pelanggan bisa menjual kembali barang belanjaan dengan keuntungan yang lebih besar.

·      Proses Pemesanan Praktis & Efisien

Seusai belanja kebutuhan pokok ke swalayan atau pasar tradisional, Aku biasanya tak langsung bergegas pulang namun duduk sekitar lima belas menit di tempat istirahat yang tersedia. Bayangkan betapa banyak kebutuhan yang perlu diburu, dan biasanya satu toko tak bisa menyediakan seluruh kebutuhan yang ada di daftar belanja yang telah disiapkan dari rumah. Terkadang Kita perlu sedikit menjelajah dan masuk keluar toko. Begitu melelahkan ya ?

Jangan dikira dengan berbelanja online jeratan tersebut enyah, karena kenyataannya sama saja. Tidak semua online shop dapat menyediakan segala kebutuhan pelanggan. Masalahnya berbelanja online dari banyak toko jelas akan memerlukan tambahan ongkos kirim juga, bukannya hemat malah semakin boros. Dari segi waktu juga sangat tidak praktis, lagi-lagi tidak efisien.

Sabar bunda-bunda di rumah, karena hal tersebut tidak akan terjadi jika kita berbelanja melalui Aplikasi Super. Kita bisa dengan mudahnya belanja berbagai macam barang secara digital dengan cukup menggunakan satu aplikasi saja karena Aplikasi Super menyediakan beragam kebutuhan pelanggan secara lengkap. 

Melalui Aplikasi Super Kita bisa mendapatkan semua kebutuhan, mulai dari beragam bahan dapur, kopi, makanan instan, makanan ringan, mie & bihun, minuman instan, obat & suplemen, perawatan tubuh, popok & pembalut, sembako, susu, dan lainnya.

Beragam Fitur Sesuai Kebutuhan (Dokpri)

Belanja dengan Aplikasi Super, Kita akan mendapatkan keuntungan berlipat, produk lengkap, harga kompetitif, serta bebas ongkir. Selain itu, terdapat beragam fitur yang dapat digunakan sesuai kebutuhan, seperti super grosir yang menyediakan harga super murah, super retail yang pas untuk toko kelontong, dan super digital. Tunggu apalagi segera ambil gawai dan download Aplikasi Super. Mari wujudkan kemerdekaan berkarya dari rumah bersama Aplikasi Super.

Hari-hariku tak lagi sama, bersama Aplikasi Super segalanya jadi lebih mudah. Belanja kebutuhan pokok keluarga tak lagi menguras tenaga. Belanja tak lagi menyita waktu, tinggal klik sana klik sini, pesanan segera mendarat tanpa biaya kirim.Waktu dan tenaga kini tercurahkan dengan sempurna untuk berkarya. Inilah kemerdekaan yang diidam-idamkan perempuan modern. 

Terakhir, untuk seluruh perempuan Indonesia dengan berbagai peran dan profesi, penulis sekaligus Ibu dua anak, dosen yang merangkap sebagai kepala keluarga, atau perempuan muda yang sedang merintis karir di dunia digital. Teruslah berkarya meskipun berjuang dari rumah. Jangan berhenti dan menyerah karena dunia selalu menanti ide-ide cemerlang darimu.

Dirgahayu ke-76 Negeriku, Merdeka Perempuan-perempuan Hebat Indonesia !

 

 

 

 

 

 

 

 

Lahan Gambut Kita Bereputasi, Mari Jaga Agar Terus Lestari


Setelah puluhan tahun hidup, Saya baru menyadari bahwa diri ini adalah seorang perempuan Jawasentris tulen. Mengapa demikian ? karena seumur hidup Saya habiskan untuk lahir, sekolah, kuliah dan berkehidupan di Pulau Jawa. Apakah Saya sedang protes kepada Tuhan ? tentu tidak, jujur saja tumbuh di Jawa memberikan Saya kenyamanan yang luar biasa. Udara bersih, air bersih berlimpah, pendidikan relatif maju dan merata, infrastruktur memadai, dan berbagai privilese lainnya.

Eh, Saya lalu menyadari bahwa seabrek kenyamanan di atas ternyata adalah jebakan. Selepas banyak bercengkrama dengan banyak orang yang berasal dari suku non jawa, kemudian Saya sadar bahwa banyak sekali hal dalam diri yang perlu diperbaiki, utamanya mengenai cara pandang dalam melihat sesuatu.

Melihat Indonesia Lewat Helicopter View


Pantainya menawan, Gunungnya menakjubkan, hingga Air terjunnya yang tiada dua”

Kalimat di atas adalah jawaban Saya dulu ketika diminta mendeskripsikan keindahan alam Indonesia. Jawabannya yang sangat Jawasentris. Waktunya berubah, kini Saya berusaha melihat Indonesia secara lebih luas dan menyeluruh, atau bahasa kerennya melihat melalui cara pandang baru, helicopter view.

Sensus Badan Pusat Statistik Tahun 2010 mencatat Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, lebih tepatnya terdapat 1.340 suku bangsa di Tanah Air. Well, ternyata Indonesia memang kaya akan keberagaman. Tidak hanya keberagaman akan suku bangsa, namun juga kaya akan keanekaragaman sumber daya alam.

Salah satu kekayaan alam yang jarang terekspos oleh media mainstream adalah lahan gambut. Sebuah ironi, padahal lahan gambut Kita bereputasi dan telah diakui oleh dunia lo.

Mengenal Lahan Gambut Lebih Dalam

Banyak dari Kita belum familiar dan terbiasa mendengar istilah lahan gambut. Banyak yang salah sangka, menyamakan lahan gambut dengan lahan biasa yang ada di sekitar Kita. Kenyataannya Lahan Gambut memiliki karakter yang sangat berbeda.

Dilansir dari Pantau Gambut, wadah atau platform daring yang menyediakan akses terhadap informasi mengenai perkembangan kegiatan dan komitmen restorasi ekosistem gambut di Indonesia, lahan gambut didefinisikan sebagai lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan dan lumut, juga jasad hewan yang membusuk. Timbunan tersebut menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal.

Pada umumnya, gambut ditemukan di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir. Karakteristik gambut yang ideal adalah basah dan mengandung banyak karbon di bawahnya. Lahan gambut mengandung dua kali lebih banyak karbon dari hutan tanah mineral yang ada di seluruh dunia. Ketika terganggu atau dikeringkan, karbon yang tersimpan dalam lahan gambut dapat terlepas ke udara dan menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca.

Apa yang membedakan Tanah Gambut dengan Tanah Mineral ?


Tanah gambut memiliki karakteristik spesifik yang berbeda dengan tanah mineral pada umumnya. Perbedaan karakteristik tersebut dapat ditinjau dari sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Oleh karena itu, pengelolaan tanaman di atas tanah gambut jauh berbeda dengan tanah mineral.

Tingkat kedalaman gambut menentukan jumlah kandungan karbon dan jenis tanaman yang dapat hidup di ekosistem tersebut. Semakin dalam gambut, semakin banyak karbon yang terkandung sehingga jika gambut tersebut dikeringkan, emisi karbon yang dikeluarkan akan semakin banyak.

Lahan Gambut Indonesia 15-20 Juta Hektar, Terbesar ke-4 di Dunia


Kita patut bangga, lahan gambut Indonesia bereputasi dan dikenal dunia. Berdasarkan data Pantau Gambut, lahan gambut Indonesia seluas 15-20 juta hektar, menempati urutan ke-empat terbesar di dunia setelah Kanada (170 juta hektare), Rusia (150 juta hektare), Amerika Serikat (40 juta hektare).

Bahkan sumber terpercaya mengemukakan, lahan gambut tropis tertua di dunia ditemukan di pedalaman Kalimantan. Lahan gambut purba ini diperkirakan telah terbentuk sejak 47.800 tahun lalu. Lahan gambut ini juga memiliki lapisan yang sangat dalam, yakni 18 meter. Itu setara dengan tinggi bangunan enam lantai.

Dilansir dari Katadata.id, provinsi kontributor lahan gambut terbesar adalah Papua dengan luas 6,3 juta ha. Disusul kemudian Kalimantan Tengah (2,7 juta ha), Riau (2,2 juta ha), Kalimantan Barat (1,8 juta ha) dan Sumatera Selatan (1,7 juta ha). Selain itu ada Papua Barat (1,3 juta ha), Kalimantan Timur (0,9 juta ha) serta Kalimantan Utara, Sumatera Utara, dan Kalimantan Selatan yang masing-masing memiliki 0,6 juta ha.  


Dari 258.650 spesies pohon tinggi yang tercatat di dunia,13%-15% terdapat di lahan gambut Indonesia, yaitu sebanyak 35-40 ribu spesies pohon tinggi. Selain itu, terdapat 35 spesies mamalia, 150 spesies burung, dan 34 spesies ikan yang hidup di lahan gambut. Beberapa fauna merupakan spesies endemik dan dilindungi International Union for Conservation of Nature (IUNC) yang masuk ke dalam Red List IUNC, seperti Buaya Senyulong, Langur, Orang Utan, Harimau Sumatera, Beruang Madu, dan Macan Dahan.

Lahan gambut Indonesia bernilai penting bagi dunia, karena menyimpan setidaknya 53-60 miliar ton karbon, membuat kawasan ini sebagai salah satu kawasan utama penyimpan karbon dunia. Surga karbon lahan gambut Indonesia, hanya mampu ditandingi oleh hutan hujan di Amazon yang menyimpan 86 miliar ton karbon.

Lestarikan Lahan Gambut, Selamatkan Kehidupan Manusia

Lahan Gambut menjalankan berbagai peranan vital bagi keseimbangan alam. Maka keberadaan dan kelestariannya perlu selalu dijaga. Jika lahan gambut terancam artinya kehidupan manusia sedang dalam bahaya.

Apa saja peran penting lahan gambut ?

Pertama, mengurangi dampak bencana banjir dan kemarau. Daya serap lahan gambut yang tinggi membuatnya berfungsi sebagai tandon air. Gambut dapat menampung air sebesar 450-850 persen dari bobot keringnya. Selain itu, gambut yang terdekomposisi juga mampu menahan air 2 hingga 6 kali lipat berat keringnya.

Kedua, menunjang perekonomian masyarakat lokal. Berbagai tanaman dan hewan yang habitatnya di lahan gambut dapat menjadi sumber pangan dan pendapatan masyarakat sekitar gambut.

Ketiga, habitat untuk perlindungan keanekaragaman hayati. Berbagai macam flora dan fauna dapat tumbuh dan tinggal di lahan gambut. Beberapa jenis flora sangat berguna bagi masyarakat sehingga perlu dibudidayakan. Sementara itu, fauna yang tinggal di lahan gambut berperan penting dalam menjaga keberlangsungan hidup ekosistem gambut lainnya.

Keempat, lahan gambut menjaga perubahan iklim. Gambut menyimpan cadangan karbon yang besar sehingga ketika lahan gambut Lahan gambut mengandung dua kali lebih banyak karbon dari hutan yang ada di seluruh dunia. Ketika terganggu, dikeringkan atau mengalami alih fungsi, simpanan karbon di dalam gambut terlepas ke udara dan menjadi sumber utama emisi gas

Tapi, sebenarnya... Lahan Gambut Kita tengah terancam.

Pada tahun 2019, luas lahan gambut Indonesia sebesar 13,43 juta ha, turun 1,5 juta ha dibandingkan tahun 2011 sebesar 14,93 juta ha.”

Lahan gambut seringkali dianggap sebagai lahan terbuang yang dapat dikeringkan dan dialihfungsikan. Anggapan ini telah menjadi salah satu penyebab utama degradasi dan alih fungsi lahan gambut, terutama akibat semakin terbatasnya ketersediaan lahan mineral.

Demi kepentingan pertanian dan perkebunan, lahan gambut dikeringkan secara terus menerus untuk mencegah air kembali membanjiri gambut. Siklus surutnya dan pengeringan gambut yang  terus berlangsung menjadi sumber emisi karbon yang tidak akan berhenti.

“Praktik mengeringkan satu hektar lahan gambut di wilayah tropis akan mengeluarkan rata-rata 55 metrik ton CO2 setiap tahun, setara dengan membakar lebih dari 6.000 galon bensin”

Memangnya, apa dampak dari terancamnya lahan gambut ? siap-siap saja menghadapi berbagai bencana, mulai dari banjir, kebakaran, kabut asap, pencemaran tanah, hingga perubahan iklim.

Banjir, terjadi jika fungsi hidrologis gambut hilang adalah terjadinya banjir di atas lahan gambut atau daerah aliran sungai yang dapat mengancam keberlangsungan pertanian masyarakat sekitar.

Kebakaran, pengeringan gambut berdampak pada tingkat kebakaran yang tinggi. Fungsi penyerapan air pada gambut yang sangat kering akan sulit dilakukan karena dalam keadaan tersebut, gambut sudah tidak berfungsi sebagai tanah dan sifatnya sama seperti kayu kering.

Kabut Asap, api yang menjalar ke bawah permukaan tanah menyebabkan pembakaran yang tidak menyala sehingga hanya asap putih yang  tampak di atas permukaan dan menyebabkan kegiatan pemadaman kerap sulit dilakukan serta menimbulkan masalah Kesehatan bagi masyarakat sekitarnya.

Pencemaran Tanah, Pirit adalah mineral tanah yang sering ditemukan di lahan rawa dan akan teroksidasi menjadi senyawa beracun dengan kandungan besi dan alumunium apabila bertemu dengan udara (oksigen).

Terganggunya Aktivitas, Kerusakan lahan gambut menyebabkan dampak yang nyata seperti kebakaran, banjir, dan pencemaran tanah. Namun, lebih jauh lagi, pengaruh negatif kejadian-kejadian tersebut merambat pada kehidupan masyarakat.

Mempercepat Laju Perubahan Iklim, tersebarnya asap dan emisi gas Karbondioksida dan gas-gas lain ke udara juga akan berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim.

Hilangnya Keanekaragaman Hayati, Kerusakan lahan gambut menyebabkan dampak besar bagi ekologi. Rusaknya ekosistem gambut, perlahan akan mempersempit ruang hidup satwa, punahnya tanaman-tanaman endemic gambut tropis, dan imbasnya justru akan berujung pada kehidupan masyarakat.

Indonesia Darurat Restorasi Gambut

Menjajaki fakta degradasi lahan gambut di Indonesia, maka restorasi gambut sebagai upaya mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan sejahterakan masyarakat sangat dibutuhkan. Selain itu, Kita perlu mendorong pemerintah agar serius berkomitmen melindungi dan mengelola lahan gambut yang lestari.

Sejauh ini, terdapat dua instrumen kebijakan dalam melindungi lahan gambut. Pertama, Peraturan Pemerintah (PP) No.57 tahun 2016 jo PP No.71 tahun 2014 mengenai Perlindungan Total pada Hutan Alam, Lahan Gambut, dan Daerah Pesisir. Kedua, Instruksi Presiden (Inpres) No. 5 tahun 2019 yaitu penghentian Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut.

17 Agustus, Momentum untuk Berkontribusi Melestarikan Lahan Gambut

Kita terkadang tidak menyadari bahwa tangan-tangan kecil ini dapat berkontribusi nyata melestarikan lahan gambut. Terlebih, Bulan Agustus ini  merupakan momentum yang tepat merayakan kemerdekaan sekaligus turut serta menjaga keseimbangan alam.

Memangnya apa kontribusi yang dapat Kita lakukan ?

Banyak. Mulai dari ikut serta menyebarkan awareness tentang pentingnya lahan gambut melalui berbagai platform digital, terus konsisten menyuarakan isu perlindungan lahan gambut. Kita juga dapat berada di garda terdepan mendorong komitmen pemerintah agar serius dalam pengelolaan dan perlindungan lahan gambut.

Sebagai penutup, Kita perlu menyadari bahwa lahan gambut merupakan salah satu kekayaan luar biasa milik bumi pertiwi. Butuh waktu ribuan tahun untuk membentuk gambut, namun hanya sesaat untuk merusaknya. Mari ambil bagian, mari berkontribusi dalam pelestarian lingkungan. 

Hemat Energi dengan Zona Pertanian Mini

Potret Zona Pertanian Mini atau Urban Farming

"Kalau makan dihabiskan, kalau tidak nasinya menangis lo"

Itulah wejangan ala emak-emak yang sering kali dijadikan senjata andalan untuk merayu anaknya agar tak menyisakan bulir-bulir nasi di piring mereka. Jujur saya pun pernah 'terpapar' wejangan tersebut saat masih kanak-kanak. Wejangan yang ketika dewasa ternyata justru dirindukan. 

Setelah dewasa, saya baru menyadari bahwa menyisakan nasi di piring tidak hanya soal membuang makanan. Jika ditelusuri, sebutir nasi telah melewati perjalanan panjang untuk sampai ke meja makan. Dari mulai sumber daya tanah dan air sebagai syarat tumbuh, petani yang harus rela berangkat ke sawah pagi-pagi buta, energi yang terpakai untuk membawa hasil panen dari desa ke kota, juga energi yang dikeluarkan untuk memasak beras menjadi nasi. 

Bisa dibayangkan betapa besar energi yang diperlukan untuk sepiring hidangan bagi kita. 

Hemat Energi dengan Zona Pertanian Mini atau Urban Farming 

Saya bertanya-tanya cukup lama, bagaimana caranya supaya dapat mengemat penggunaan energi dalam produksi bahan pangan. Sebuah cata sederhana nan mudah yang dapat dilakukan siapa saja. Pengalaman saya berkunjung ke salah satu usaha hidroponik milik kawan lama membuahkan jawaban, yaitu melalui zona pertanian mini atau yang dikenal milenial dengan sebutan urban farming. 

Zona pertanian mini atau urban farming merupakan konsep berkebun di lahan terbatas terutama bagi mereka yang hidup di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Melalui Urban Farming, halaman rumah, atap, balkon, dan hampir semua jenis ruang perkotaan dapat diubah menjadi zona pertanian mini yang kaya akan manfaat.

Potret keberhasilan Urban Farming dapat kita lihat pada beberapa kota besar dunia. Misalnya HK Farm,  jaringan taman atap di sekitar Yau Ma Tei, Hongkong. Kota yang sudah lama tak merasakan kegiatan pertanian kini hijau dengan hamparan taman atap. Amerika Serikat juga tak mau ketinggalan. Kota yang tak pernah tidur, New York punya Brooklyn Grange yang mengoperasikan perkebunan atap terbesar di dunia, menghasilkan lebih dari 22 ton produk organik setiap tahunnya.

Urban Farming Memangkas Food Miles

Bisa dibayangkan jika setiap rumah tangga menerapkan urban farming, betapa banyak energi yang dapat dihemat. Matei Georgescu, profesor asal Arizona State University, mengungkapkan urban farming berpotensi menghemat 15 miliar kilowatt per jam pemakaian energi dunia selama setahun dan menghasilkan 170.000 ton nitrogen ke udara. Hal ini berkontribusi terhadap pengurangan pencemaran sungai dan saluran air bersih. Luar biasa bukan ? 

Memangnya manfaat Urban Farming hanya itu ? tenang-tenang saudara-saudara sekalian, Urban Farming memiliki sederet keuntungan lainnya utamanya bagi keberlangsungan lingkungan hidup.

Urban Farming Menjawab Krisis Ruang Terbuka Hijau

Kota-kota besar dan infrastruktur memiliki hubungan yang erat. Tanpa infrastuktur yang prima tak ada kota, begitu pula sebalinya. Sayangnya, pembangunan infrastruktur yang massif di perkotaan menyebabkan menipisnya ruang terbuka hijau. Akibatnya kestabilan ekosistem lingkungan terganggu, misalnya meningkatnya polusi udara dan krisis air bersih.

World Health Organisation (WHO) menempatkan Jakarta sebagai 22 kota paling berpolusi (udara) di dunia. Kota metropolitan ini mengantongi Air Quality Index dengan nilai 152, angka tesebut dua kali lipat lebih tinggi dari standar batas udara bersih internasional.

Melalui urban farming, kita secara langsung dapat berperan membantu meningkatkan kualitas udara.   Berbagai sistem penanaman urban farming seperti vertikultur, hidroponik, dan akuaponik membuka peluang akan ruang terbuka hijau baru. Tersedianya ruang terbuka hijau secara perlahan dapat menekan pencemaran udara sekaligus menjadikan lingkungan sekitar kita nyaman dan sehat untuk ditinggali.

Langkah Mudah Menyulap Ruang Sempit Menjadi Zona Pertanian Mini

Lahan terbatas dan minimnya ketersediaan air di perkotaan memerlukan kreativitas lebih untuk menerapkan urban farming. Namun, tak perlu khawatir, berikut langkah mudah sebagai panduan awal memulai zona pertanian mini di rumah. 

1. Menanam Vertikal 

Terbatasnya lahan bukanlah halangan untuk budidaya tanaman. Melalui teknik vertikultur kita tetap dapat menanam walau dengan lahan terbatas. Teknik vertikultur merupakan cara bertanam yang dilakukan dengan menempatkan media tanam dalam pola yang disusun secara vertikal. Contohnya dengan membuat rak bertingkat dari besi ataupun kayu untuk meletakkan beberapa pot, tabung bambu, atau pipa paralon, anda sudah bisa memiliki lahan mungil dan apotik hidup pribadi di rumah. Yey !

2. Membuat Meja Tanaman

Urban farming diharapkan tak hanya memberi kesempatan untuk bercocok tanam, namun juga memiliki nilai estetika. Membuat meja tanam adalah solusi yang dapat dilakukan, yaitu dengan membuat meja seperti biasa dan ditambahkan sisi pembatas di sekelilingnya. Dengan sedikit kreativitas dan usaha, meja tanam tak hanya berfungsi sebagai "lahan" tanam, namun juga akan menambah estetika rumah kita. 

3. Memanfaatkan Barang Bekas dan Barang Tak Terpakai

Salah satu keuntungan menerapkan urban farming adalah pemanfaatan barang bekas yang selama ini dianggap tak bernilai. Anda pasti akan merasakan kepuasan tersendiri saat berhasil menyulap barang bekas menjadi barang baru yang fungsional. Contohnya adalah dengan memanfaatkan botol-botol bekas menjadi pot tanaman yang digantung dan diberi warna yang kemudian dapat digunakan sebagai tempat tumbuh tanaman.

Setelah mengenal urban farming lebih dalam, Saya yakin anda memiliki yang sama bahwa aksi penyelamatan bumi dan lingkungan ternyata sangat mudah dan bahkan menyenangkan untuk diterapkan.

Saya suka sedih sekali jika narasi-narasi akan lingkungan dan bumi selalu terkesan mengancam dan menakutkan. Ya, memang krisis iklim dan lingkungan semakin nyata kita rasakan bersama. Namun, rasanya mengemasnya ke dalam narasi yang positif dan ringan sudah saatnya dilakukan. Mari bergerak bersama.



Ada Deforestasi di Balik Pandemi. Hoaks atau Fakta ?


11 Maret 2020 adalah mimpi buruk bagi Kita semua.Virus yang diduga berasal dari Negeri Tirai Bambu, berhasil menduduki Bumi Pertiwi dengan gagahnya. Bermacam cara sudah dilakukan, dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), New Normal, hingga Vaksinasi. Namun, hingga kini pandemi belum juga enyah dari muka bumi.

Awal tahun 2020 begitu manis bagi semua orang, tak terkecuali bagiku. Baru saja berstatus mahasiswa pascasarjana, merantau ke Kota Hujan, dan menjajaki peran baru sebagai jurnalis pada salah satu media mainstream membuat 2020-ku begitu sempurna.

Hingga akhirnya, pada maret 2020, Pemerintah Republik Indonesia resmi mengkonfirmasi dua kasus pertama Covid-19. Aku kala itu masih denial, dengan optimis Aku menepis kekhawatiran-kekhawatiran imajiner yang ada dalam kepala.

“Ah... paling juga tiga bulan mendatang virus ini juga sirna, Masyarakat Indonesia kan kebal!”

Hari demi hari berlalu, bukannya mereda, virus kian masif. Puncaknya saat World Health Organisation (WHO) resmi meningkatkan status Covid-19 menjadi pandemi. Ya, virus ini tak lagi hanya singgah di satu atau dua negara tapi sudah mendunia hanya dalam hitungan bulan.

Pandemi dan Hubungannya dengan Deforestasi

Online Gathering Bersama Eco Blogger Squad

Sebelum pandemi, jujur Aku tidak memiliki ketertarikan terhadap isu-isu lingkungan dan juga hutan. Aku cukup cuek menyaksikan tayangan kerusakan lingkungan karena lingkungan di sekitarku baik-baik saja. Namun, setelah menjelajahi literatur dan juga sederet diskusi ilmiah yang mengatakan bahwa diduga ada hubungan erat antara pandemi dan juga kerusakan lingkungan, kepedulianku akan hutan tumbuh perlahan.

Bagaimana Transmisi Covid-19 ke Manusia ?

Pandemi Novel Coronavirus Disease (Covid-19), dipercaya ilmuwan dipicu oleh transmisi virus dari hewan ke manusia. Hal ini dalam istilah ilmiah dikenal dengan Penyakit Zoonosis. Tak hanya Covid-19, rekam jejak pandemi lainnya di muka bumi menunjukkan kecenderungan serupa, dimana diawali transmisi virus dari hewan ke manusia.

Penyebab Measles, Smallpox, TB, Gastric Cancer, dan banyak penyakit pandemi lainnya merupakan contoh kasus penyakit zoonosis yang asalnya dari hewan dan kemudian menular ke manusia.

Dr. Alvi Muldani, selalu Direktur Klinik Alam Sehat Lestari (Yayasan ASRI), menjelaskan beberapa faktor pemicu pandemi. Menurut beliau, pandemi disebabkan oleh organisme spesifik dan telah berada bersamaan dengan manusia dalam beberapa ribu tahun. Kontak manusia dengan hewan liar kemudian memicu adanya transmisi, misalnya dikarenakan oleh domestifikasi, terganggunya habitat liar akibat kerusakan hutan, dan perdagangan hewan langka. Lebih jauh, Dr. Alvi menambahkan pandemi dapat dipercepat dengan perjalanan udara, urbanisasi dan perubahan iklim.

Mencegah Pandemi dengan Menjaga Hutan

Setelah mendengar pernyataan di atas, kebanyakan dari Kita pasti bertanya-tanya. Bagaimana ceritanya menjaga hutan dapat membantu mencegah pandemi. Kok bisa ? Sederet literatur ilmiah menunjukkan kerusakan hutan atau berbanding lurus dengan penyebaran virus.

Menurut Taylor (1997), penebangan pohon secara nyata merubah lingkungan dan merusak ekosistem. Hal ini kemudian memengaruhi kemunculan penyakit dan transmisinya ke umat manusia. Morand et al (2019) mengungkapkan hal senada, bahwa konversi lahan meningkatkan penyebaran virus karena rodensia. Terakhir, fenomena kerusakan hutan yang tinggi di Amerika Selatan diduga kuat mengakibatkan kemunculan virus EID’s Microsporidia, Bartonella, dan Leptospira (Cartez et al, 2018).

Urgensi Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia

Sebagai awam, sebelumnya Aku bahkan tidak mengetahui kondisi hutan dan bencana kehutanan sudah sedemikian gawatnya. Dedy Sukmara, Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara, menuturkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia dua tahun belakangan adalah salah satu yang paling mengkhawatrikan selama dua dekade ini. Data menunjukkan hutan dan lahan seluas 1,6 juta hektar hangus dilalap api, hal ini menjadi bencana kehutanan terparah sejak bencana asap tahun 2015 lalu.

Pemerintah RI rutin menjadi sorotan akibat kebakaran yang tak berkesudahan. Asap akibat kebakaran hutan kerap memanaskan hubungan diplomatik dengan negara tetangga. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pula yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Wow!

“Kebakaran tahun 2019 melepaskan 708 juta ton emisi gas rumah kaca (CO2) hampir dua kali lipat lebih besar dibanding kebakaran di sebagian Amazon, Brazil (CMAS,2019)”

Pelepasan Kawasan Hutan di Tanah Papua (Sumber : Auriga Nusantara)

Aku lebih sedih lagi saat mengetahui fakta bahwa tren deforestasi bergeser dari hutan di wilayah barat ke timur Indonesia atau dengan kata lain Deforestasi mulai menyasar provinsi kaya hutan. Sepanjang periode 2015-2019, separuh lebih dari deforestasi di sepuluh provinsi kaya htan ini disumbang oleh Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Papua, dan Sulawesi Tengah. Namun, jika dibandingkan dengan periode 2010-2014, lonjakan laju deforestasi lima tahun trakhir terjadi di Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Sulawesi Tengah, dan Papua.  

Ulah Manusia, Faktor Utama Penyebab Deforestasi

Kemarau panjang (El Nino) selalu dituding sebagai pemicu kebaran. Namun, faktanya kebakaran terus terjadi bahkan di tahun-tahun tanpa kemarau panjang. Itu sebabnya, faktor lain (ulah manusia) lebih tepat dianggap sebagai penyebanya.

Manusia berkontribusi nyata dalam deforestasi melalui praktek pembukaan lahan dengan api, perburuan, penggembalaan, konflik lahan dan aktivtas lainnya yang berkaitan.

Dampak deforestasi tidak main-main. Mulai dari terancamnya biodiversitas akibat hilangnya habitat dan penurunan populasi tumbuhan dan satwa liar. Terganggunya kesehatan, pendidikan, dan transportasi, hingga pemasanan global dan perubahan iklim. Jika Kita melakukan valuasi ekonomi terhadap dampak deforestasi, tidak terbayangkan betapa besar nilainya. Kerugian Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2019 misalnya, diperkirakan mencapai US$ 2 Miliar atau setara 72,95 Triliun Rupiah.

Bagaimana masih menyepelekan deforestasi ?

New Normal Versi Penyelamat Lingkungan dan Hutan

New Normal pasca pandemi secara umum diartikan dengan disiplin memakai masker selama berkegiatan di ruang publik, rajin mencuci tangan dan mengaplikasikan hand sanitizer hingga social distancing. Kemudian Aku belajar banyak, setelah mengetahui bahwa ada hubungan yang kuat antara pandemi yang kini Kita hadapi dengan kerusakan hutan. Maka sudah saatnya, New Normal memiliki arti yang lebih luas lagi.

New Normal tak sekadar disiplin menerapkan protokol kesehatan. Lebih dari itu, New Normal artinya melibatkan lingkungan dan hutan sebagai pertimbangan utama dalam berkehidupan. Bantu mengawasi hutan dari kejauhan dengan rutin update perkembangan hutan dan deforestasi. Aktif menyuarakan isu-isu lingkungan dan hutan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, misalnya melalui karya tulisan, foto, infografis bahkan video kreatif. Pun juga berhenti mempromosikan dan membeli produk-produk yang berkontribusi terhadap deforestasi, cek labelnya dan cermat dalam memilih. Terakhir, berdonasi kepada gerakan dan wadah-wadah yang pro terhadap perlindungan hutan Indonesia.


Siapapun Kita, mau Ibu rumah tangga yang setiap hari megurus keluarga, seorang Mahasiswa yang belum berpenghasilan, Penulis amatir yang minim pengalaman, seorang guru di tingkat sekolah dasar, Karyawan dan “budak korporat” dengan segudang deadline. Sekecil apapun perannya, Kita masing-masing dapat berkontribusi menekan deforestasi dari berbagai lini.

Hutan selalu menanti uluran tangan Kita, Mari terus berperan serta.
Memberi dampak nyata, demi keselamatan hutan dan Umat Manusia.