Ada Deforestasi di Balik Pandemi. Hoaks atau Fakta ?


11 Maret 2020 adalah mimpi buruk bagi Kita semua.Virus yang diduga berasal dari Negeri Tirai Bambu, berhasil menduduki Bumi Pertiwi dengan gagahnya. Bermacam cara sudah dilakukan, dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), New Normal, hingga Vaksinasi. Namun, hingga kini pandemi belum juga enyah dari muka bumi.

Awal tahun 2020 begitu manis bagi semua orang, tak terkecuali bagiku. Baru saja berstatus mahasiswa pascasarjana, merantau ke Kota Hujan, dan menjajaki peran baru sebagai jurnalis pada salah satu media mainstream membuat 2020-ku begitu sempurna.

Hingga akhirnya, pada maret 2020, Pemerintah Republik Indonesia resmi mengkonfirmasi dua kasus pertama Covid-19. Aku kala itu masih denial, dengan optimis Aku menepis kekhawatiran-kekhawatiran imajiner yang ada dalam kepala.

“Ah... paling juga tiga bulan mendatang virus ini juga sirna, Masyarakat Indonesia kan kebal!”

Hari demi hari berlalu, bukannya mereda, virus kian masif. Puncaknya saat World Health Organisation (WHO) resmi meningkatkan status Covid-19 menjadi pandemi. Ya, virus ini tak lagi hanya singgah di satu atau dua negara tapi sudah mendunia hanya dalam hitungan bulan.

Pandemi dan Hubungannya dengan Deforestasi

Online Gathering Bersama Eco Blogger Squad

Sebelum pandemi, jujur Aku tidak memiliki ketertarikan terhadap isu-isu lingkungan dan juga hutan. Aku cukup cuek menyaksikan tayangan kerusakan lingkungan karena lingkungan di sekitarku baik-baik saja. Namun, setelah menjelajahi literatur dan juga sederet diskusi ilmiah yang mengatakan bahwa diduga ada hubungan erat antara pandemi dan juga kerusakan lingkungan, kepedulianku akan hutan tumbuh perlahan.

Bagaimana Transmisi Covid-19 ke Manusia ?

Pandemi Novel Coronavirus Disease (Covid-19), dipercaya ilmuwan dipicu oleh transmisi virus dari hewan ke manusia. Hal ini dalam istilah ilmiah dikenal dengan Penyakit Zoonosis. Tak hanya Covid-19, rekam jejak pandemi lainnya di muka bumi menunjukkan kecenderungan serupa, dimana diawali transmisi virus dari hewan ke manusia.

Penyebab Measles, Smallpox, TB, Gastric Cancer, dan banyak penyakit pandemi lainnya merupakan contoh kasus penyakit zoonosis yang asalnya dari hewan dan kemudian menular ke manusia.

Dr. Alvi Muldani, selalu Direktur Klinik Alam Sehat Lestari (Yayasan ASRI), menjelaskan beberapa faktor pemicu pandemi. Menurut beliau, pandemi disebabkan oleh organisme spesifik dan telah berada bersamaan dengan manusia dalam beberapa ribu tahun. Kontak manusia dengan hewan liar kemudian memicu adanya transmisi, misalnya dikarenakan oleh domestifikasi, terganggunya habitat liar akibat kerusakan hutan, dan perdagangan hewan langka. Lebih jauh, Dr. Alvi menambahkan pandemi dapat dipercepat dengan perjalanan udara, urbanisasi dan perubahan iklim.

Mencegah Pandemi dengan Menjaga Hutan

Setelah mendengar pernyataan di atas, kebanyakan dari Kita pasti bertanya-tanya. Bagaimana ceritanya menjaga hutan dapat membantu mencegah pandemi. Kok bisa ? Sederet literatur ilmiah menunjukkan kerusakan hutan atau berbanding lurus dengan penyebaran virus.

Menurut Taylor (1997), penebangan pohon secara nyata merubah lingkungan dan merusak ekosistem. Hal ini kemudian memengaruhi kemunculan penyakit dan transmisinya ke umat manusia. Morand et al (2019) mengungkapkan hal senada, bahwa konversi lahan meningkatkan penyebaran virus karena rodensia. Terakhir, fenomena kerusakan hutan yang tinggi di Amerika Selatan diduga kuat mengakibatkan kemunculan virus EID’s Microsporidia, Bartonella, dan Leptospira (Cartez et al, 2018).

Urgensi Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia

Sebagai awam, sebelumnya Aku bahkan tidak mengetahui kondisi hutan dan bencana kehutanan sudah sedemikian gawatnya. Dedy Sukmara, Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara, menuturkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia dua tahun belakangan adalah salah satu yang paling mengkhawatrikan selama dua dekade ini. Data menunjukkan hutan dan lahan seluas 1,6 juta hektar hangus dilalap api, hal ini menjadi bencana kehutanan terparah sejak bencana asap tahun 2015 lalu.

Pemerintah RI rutin menjadi sorotan akibat kebakaran yang tak berkesudahan. Asap akibat kebakaran hutan kerap memanaskan hubungan diplomatik dengan negara tetangga. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pula yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Wow!

“Kebakaran tahun 2019 melepaskan 708 juta ton emisi gas rumah kaca (CO2) hampir dua kali lipat lebih besar dibanding kebakaran di sebagian Amazon, Brazil (CMAS,2019)”

Pelepasan Kawasan Hutan di Tanah Papua (Sumber : Auriga Nusantara)

Aku lebih sedih lagi saat mengetahui fakta bahwa tren deforestasi bergeser dari hutan di wilayah barat ke timur Indonesia atau dengan kata lain Deforestasi mulai menyasar provinsi kaya hutan. Sepanjang periode 2015-2019, separuh lebih dari deforestasi di sepuluh provinsi kaya htan ini disumbang oleh Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Papua, dan Sulawesi Tengah. Namun, jika dibandingkan dengan periode 2010-2014, lonjakan laju deforestasi lima tahun trakhir terjadi di Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Sulawesi Tengah, dan Papua.  

Ulah Manusia, Faktor Utama Penyebab Deforestasi

Kemarau panjang (El Nino) selalu dituding sebagai pemicu kebaran. Namun, faktanya kebakaran terus terjadi bahkan di tahun-tahun tanpa kemarau panjang. Itu sebabnya, faktor lain (ulah manusia) lebih tepat dianggap sebagai penyebanya.

Manusia berkontribusi nyata dalam deforestasi melalui praktek pembukaan lahan dengan api, perburuan, penggembalaan, konflik lahan dan aktivtas lainnya yang berkaitan.

Dampak deforestasi tidak main-main. Mulai dari terancamnya biodiversitas akibat hilangnya habitat dan penurunan populasi tumbuhan dan satwa liar. Terganggunya kesehatan, pendidikan, dan transportasi, hingga pemasanan global dan perubahan iklim. Jika Kita melakukan valuasi ekonomi terhadap dampak deforestasi, tidak terbayangkan betapa besar nilainya. Kerugian Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2019 misalnya, diperkirakan mencapai US$ 2 Miliar atau setara 72,95 Triliun Rupiah.

Bagaimana masih menyepelekan deforestasi ?

New Normal Versi Penyelamat Lingkungan dan Hutan

New Normal pasca pandemi secara umum diartikan dengan disiplin memakai masker selama berkegiatan di ruang publik, rajin mencuci tangan dan mengaplikasikan hand sanitizer hingga social distancing. Kemudian Aku belajar banyak, setelah mengetahui bahwa ada hubungan yang kuat antara pandemi yang kini Kita hadapi dengan kerusakan hutan. Maka sudah saatnya, New Normal memiliki arti yang lebih luas lagi.

New Normal tak sekadar disiplin menerapkan protokol kesehatan. Lebih dari itu, New Normal artinya melibatkan lingkungan dan hutan sebagai pertimbangan utama dalam berkehidupan. Bantu mengawasi hutan dari kejauhan dengan rutin update perkembangan hutan dan deforestasi. Aktif menyuarakan isu-isu lingkungan dan hutan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, misalnya melalui karya tulisan, foto, infografis bahkan video kreatif. Pun juga berhenti mempromosikan dan membeli produk-produk yang berkontribusi terhadap deforestasi, cek labelnya dan cermat dalam memilih. Terakhir, berdonasi kepada gerakan dan wadah-wadah yang pro terhadap perlindungan hutan Indonesia.


Siapapun Kita, mau Ibu rumah tangga yang setiap hari megurus keluarga, seorang Mahasiswa yang belum berpenghasilan, Penulis amatir yang minim pengalaman, seorang guru di tingkat sekolah dasar, Karyawan dan “budak korporat” dengan segudang deadline. Sekecil apapun perannya, Kita masing-masing dapat berkontribusi menekan deforestasi dari berbagai lini.

Hutan selalu menanti uluran tangan Kita, Mari terus berperan serta.
Memberi dampak nyata, demi keselamatan hutan dan Umat Manusia.



No comments

Post a Comment