Hemat Energi dengan Zona Pertanian Mini

Potret Zona Pertanian Mini atau Urban Farming

"Kalau makan dihabiskan, kalau tidak nasinya menangis lo"

Itulah wejangan ala emak-emak yang sering kali dijadikan senjata andalan untuk merayu anaknya agar tak menyisakan bulir-bulir nasi di piring mereka. Jujur saya pun pernah 'terpapar' wejangan tersebut saat masih kanak-kanak. Wejangan yang ketika dewasa ternyata justru dirindukan. 

Setelah dewasa, saya baru menyadari bahwa menyisakan nasi di piring tidak hanya soal membuang makanan. Jika ditelusuri, sebutir nasi telah melewati perjalanan panjang untuk sampai ke meja makan. Dari mulai sumber daya tanah dan air sebagai syarat tumbuh, petani yang harus rela berangkat ke sawah pagi-pagi buta, energi yang terpakai untuk membawa hasil panen dari desa ke kota, juga energi yang dikeluarkan untuk memasak beras menjadi nasi. 

Bisa dibayangkan betapa besar energi yang diperlukan untuk sepiring hidangan bagi kita. 

Hemat Energi dengan Zona Pertanian Mini atau Urban Farming 

Saya bertanya-tanya cukup lama, bagaimana caranya supaya dapat mengemat penggunaan energi dalam produksi bahan pangan. Sebuah cata sederhana nan mudah yang dapat dilakukan siapa saja. Pengalaman saya berkunjung ke salah satu usaha hidroponik milik kawan lama membuahkan jawaban, yaitu melalui zona pertanian mini atau yang dikenal milenial dengan sebutan urban farming. 

Zona pertanian mini atau urban farming merupakan konsep berkebun di lahan terbatas terutama bagi mereka yang hidup di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Melalui Urban Farming, halaman rumah, atap, balkon, dan hampir semua jenis ruang perkotaan dapat diubah menjadi zona pertanian mini yang kaya akan manfaat.

Potret keberhasilan Urban Farming dapat kita lihat pada beberapa kota besar dunia. Misalnya HK Farm,  jaringan taman atap di sekitar Yau Ma Tei, Hongkong. Kota yang sudah lama tak merasakan kegiatan pertanian kini hijau dengan hamparan taman atap. Amerika Serikat juga tak mau ketinggalan. Kota yang tak pernah tidur, New York punya Brooklyn Grange yang mengoperasikan perkebunan atap terbesar di dunia, menghasilkan lebih dari 22 ton produk organik setiap tahunnya.

Urban Farming Memangkas Food Miles

Bisa dibayangkan jika setiap rumah tangga menerapkan urban farming, betapa banyak energi yang dapat dihemat. Matei Georgescu, profesor asal Arizona State University, mengungkapkan urban farming berpotensi menghemat 15 miliar kilowatt per jam pemakaian energi dunia selama setahun dan menghasilkan 170.000 ton nitrogen ke udara. Hal ini berkontribusi terhadap pengurangan pencemaran sungai dan saluran air bersih. Luar biasa bukan ? 

Memangnya manfaat Urban Farming hanya itu ? tenang-tenang saudara-saudara sekalian, Urban Farming memiliki sederet keuntungan lainnya utamanya bagi keberlangsungan lingkungan hidup.

Urban Farming Menjawab Krisis Ruang Terbuka Hijau

Kota-kota besar dan infrastruktur memiliki hubungan yang erat. Tanpa infrastuktur yang prima tak ada kota, begitu pula sebalinya. Sayangnya, pembangunan infrastruktur yang massif di perkotaan menyebabkan menipisnya ruang terbuka hijau. Akibatnya kestabilan ekosistem lingkungan terganggu, misalnya meningkatnya polusi udara dan krisis air bersih.

World Health Organisation (WHO) menempatkan Jakarta sebagai 22 kota paling berpolusi (udara) di dunia. Kota metropolitan ini mengantongi Air Quality Index dengan nilai 152, angka tesebut dua kali lipat lebih tinggi dari standar batas udara bersih internasional.

Melalui urban farming, kita secara langsung dapat berperan membantu meningkatkan kualitas udara.   Berbagai sistem penanaman urban farming seperti vertikultur, hidroponik, dan akuaponik membuka peluang akan ruang terbuka hijau baru. Tersedianya ruang terbuka hijau secara perlahan dapat menekan pencemaran udara sekaligus menjadikan lingkungan sekitar kita nyaman dan sehat untuk ditinggali.

Langkah Mudah Menyulap Ruang Sempit Menjadi Zona Pertanian Mini

Lahan terbatas dan minimnya ketersediaan air di perkotaan memerlukan kreativitas lebih untuk menerapkan urban farming. Namun, tak perlu khawatir, berikut langkah mudah sebagai panduan awal memulai zona pertanian mini di rumah. 

1. Menanam Vertikal 

Terbatasnya lahan bukanlah halangan untuk budidaya tanaman. Melalui teknik vertikultur kita tetap dapat menanam walau dengan lahan terbatas. Teknik vertikultur merupakan cara bertanam yang dilakukan dengan menempatkan media tanam dalam pola yang disusun secara vertikal. Contohnya dengan membuat rak bertingkat dari besi ataupun kayu untuk meletakkan beberapa pot, tabung bambu, atau pipa paralon, anda sudah bisa memiliki lahan mungil dan apotik hidup pribadi di rumah. Yey !

2. Membuat Meja Tanaman

Urban farming diharapkan tak hanya memberi kesempatan untuk bercocok tanam, namun juga memiliki nilai estetika. Membuat meja tanam adalah solusi yang dapat dilakukan, yaitu dengan membuat meja seperti biasa dan ditambahkan sisi pembatas di sekelilingnya. Dengan sedikit kreativitas dan usaha, meja tanam tak hanya berfungsi sebagai "lahan" tanam, namun juga akan menambah estetika rumah kita. 

3. Memanfaatkan Barang Bekas dan Barang Tak Terpakai

Salah satu keuntungan menerapkan urban farming adalah pemanfaatan barang bekas yang selama ini dianggap tak bernilai. Anda pasti akan merasakan kepuasan tersendiri saat berhasil menyulap barang bekas menjadi barang baru yang fungsional. Contohnya adalah dengan memanfaatkan botol-botol bekas menjadi pot tanaman yang digantung dan diberi warna yang kemudian dapat digunakan sebagai tempat tumbuh tanaman.

Setelah mengenal urban farming lebih dalam, Saya yakin anda memiliki yang sama bahwa aksi penyelamatan bumi dan lingkungan ternyata sangat mudah dan bahkan menyenangkan untuk diterapkan.

Saya suka sedih sekali jika narasi-narasi akan lingkungan dan bumi selalu terkesan mengancam dan menakutkan. Ya, memang krisis iklim dan lingkungan semakin nyata kita rasakan bersama. Namun, rasanya mengemasnya ke dalam narasi yang positif dan ringan sudah saatnya dilakukan. Mari bergerak bersama.



No comments

Post a Comment