Lahan Gambut Kita Bereputasi, Mari Jaga Agar Terus Lestari


Setelah puluhan tahun hidup, Saya baru menyadari bahwa diri ini adalah seorang perempuan Jawasentris tulen. Mengapa demikian ? karena seumur hidup Saya habiskan untuk lahir, sekolah, kuliah dan berkehidupan di Pulau Jawa. Apakah Saya sedang protes kepada Tuhan ? tentu tidak, jujur saja tumbuh di Jawa memberikan Saya kenyamanan yang luar biasa. Udara bersih, air bersih berlimpah, pendidikan relatif maju dan merata, infrastruktur memadai, dan berbagai privilese lainnya.

Eh, Saya lalu menyadari bahwa seabrek kenyamanan di atas ternyata adalah jebakan. Selepas banyak bercengkrama dengan banyak orang yang berasal dari suku non jawa, kemudian Saya sadar bahwa banyak sekali hal dalam diri yang perlu diperbaiki, utamanya mengenai cara pandang dalam melihat sesuatu.

Melihat Indonesia Lewat Helicopter View


Pantainya menawan, Gunungnya menakjubkan, hingga Air terjunnya yang tiada dua”

Kalimat di atas adalah jawaban Saya dulu ketika diminta mendeskripsikan keindahan alam Indonesia. Jawabannya yang sangat Jawasentris. Waktunya berubah, kini Saya berusaha melihat Indonesia secara lebih luas dan menyeluruh, atau bahasa kerennya melihat melalui cara pandang baru, helicopter view.

Sensus Badan Pusat Statistik Tahun 2010 mencatat Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, lebih tepatnya terdapat 1.340 suku bangsa di Tanah Air. Well, ternyata Indonesia memang kaya akan keberagaman. Tidak hanya keberagaman akan suku bangsa, namun juga kaya akan keanekaragaman sumber daya alam.

Salah satu kekayaan alam yang jarang terekspos oleh media mainstream adalah lahan gambut. Sebuah ironi, padahal lahan gambut Kita bereputasi dan telah diakui oleh dunia lo.

Mengenal Lahan Gambut Lebih Dalam

Banyak dari Kita belum familiar dan terbiasa mendengar istilah lahan gambut. Banyak yang salah sangka, menyamakan lahan gambut dengan lahan biasa yang ada di sekitar Kita. Kenyataannya Lahan Gambut memiliki karakter yang sangat berbeda.

Dilansir dari Pantau Gambut, wadah atau platform daring yang menyediakan akses terhadap informasi mengenai perkembangan kegiatan dan komitmen restorasi ekosistem gambut di Indonesia, lahan gambut didefinisikan sebagai lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan dan lumut, juga jasad hewan yang membusuk. Timbunan tersebut menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal.

Pada umumnya, gambut ditemukan di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir. Karakteristik gambut yang ideal adalah basah dan mengandung banyak karbon di bawahnya. Lahan gambut mengandung dua kali lebih banyak karbon dari hutan tanah mineral yang ada di seluruh dunia. Ketika terganggu atau dikeringkan, karbon yang tersimpan dalam lahan gambut dapat terlepas ke udara dan menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca.

Apa yang membedakan Tanah Gambut dengan Tanah Mineral ?


Tanah gambut memiliki karakteristik spesifik yang berbeda dengan tanah mineral pada umumnya. Perbedaan karakteristik tersebut dapat ditinjau dari sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Oleh karena itu, pengelolaan tanaman di atas tanah gambut jauh berbeda dengan tanah mineral.

Tingkat kedalaman gambut menentukan jumlah kandungan karbon dan jenis tanaman yang dapat hidup di ekosistem tersebut. Semakin dalam gambut, semakin banyak karbon yang terkandung sehingga jika gambut tersebut dikeringkan, emisi karbon yang dikeluarkan akan semakin banyak.

Lahan Gambut Indonesia 15-20 Juta Hektar, Terbesar ke-4 di Dunia


Kita patut bangga, lahan gambut Indonesia bereputasi dan dikenal dunia. Berdasarkan data Pantau Gambut, lahan gambut Indonesia seluas 15-20 juta hektar, menempati urutan ke-empat terbesar di dunia setelah Kanada (170 juta hektare), Rusia (150 juta hektare), Amerika Serikat (40 juta hektare).

Bahkan sumber terpercaya mengemukakan, lahan gambut tropis tertua di dunia ditemukan di pedalaman Kalimantan. Lahan gambut purba ini diperkirakan telah terbentuk sejak 47.800 tahun lalu. Lahan gambut ini juga memiliki lapisan yang sangat dalam, yakni 18 meter. Itu setara dengan tinggi bangunan enam lantai.

Dilansir dari Katadata.id, provinsi kontributor lahan gambut terbesar adalah Papua dengan luas 6,3 juta ha. Disusul kemudian Kalimantan Tengah (2,7 juta ha), Riau (2,2 juta ha), Kalimantan Barat (1,8 juta ha) dan Sumatera Selatan (1,7 juta ha). Selain itu ada Papua Barat (1,3 juta ha), Kalimantan Timur (0,9 juta ha) serta Kalimantan Utara, Sumatera Utara, dan Kalimantan Selatan yang masing-masing memiliki 0,6 juta ha.  


Dari 258.650 spesies pohon tinggi yang tercatat di dunia,13%-15% terdapat di lahan gambut Indonesia, yaitu sebanyak 35-40 ribu spesies pohon tinggi. Selain itu, terdapat 35 spesies mamalia, 150 spesies burung, dan 34 spesies ikan yang hidup di lahan gambut. Beberapa fauna merupakan spesies endemik dan dilindungi International Union for Conservation of Nature (IUNC) yang masuk ke dalam Red List IUNC, seperti Buaya Senyulong, Langur, Orang Utan, Harimau Sumatera, Beruang Madu, dan Macan Dahan.

Lahan gambut Indonesia bernilai penting bagi dunia, karena menyimpan setidaknya 53-60 miliar ton karbon, membuat kawasan ini sebagai salah satu kawasan utama penyimpan karbon dunia. Surga karbon lahan gambut Indonesia, hanya mampu ditandingi oleh hutan hujan di Amazon yang menyimpan 86 miliar ton karbon.

Lestarikan Lahan Gambut, Selamatkan Kehidupan Manusia

Lahan Gambut menjalankan berbagai peranan vital bagi keseimbangan alam. Maka keberadaan dan kelestariannya perlu selalu dijaga. Jika lahan gambut terancam artinya kehidupan manusia sedang dalam bahaya.

Apa saja peran penting lahan gambut ?

Pertama, mengurangi dampak bencana banjir dan kemarau. Daya serap lahan gambut yang tinggi membuatnya berfungsi sebagai tandon air. Gambut dapat menampung air sebesar 450-850 persen dari bobot keringnya. Selain itu, gambut yang terdekomposisi juga mampu menahan air 2 hingga 6 kali lipat berat keringnya.

Kedua, menunjang perekonomian masyarakat lokal. Berbagai tanaman dan hewan yang habitatnya di lahan gambut dapat menjadi sumber pangan dan pendapatan masyarakat sekitar gambut.

Ketiga, habitat untuk perlindungan keanekaragaman hayati. Berbagai macam flora dan fauna dapat tumbuh dan tinggal di lahan gambut. Beberapa jenis flora sangat berguna bagi masyarakat sehingga perlu dibudidayakan. Sementara itu, fauna yang tinggal di lahan gambut berperan penting dalam menjaga keberlangsungan hidup ekosistem gambut lainnya.

Keempat, lahan gambut menjaga perubahan iklim. Gambut menyimpan cadangan karbon yang besar sehingga ketika lahan gambut Lahan gambut mengandung dua kali lebih banyak karbon dari hutan yang ada di seluruh dunia. Ketika terganggu, dikeringkan atau mengalami alih fungsi, simpanan karbon di dalam gambut terlepas ke udara dan menjadi sumber utama emisi gas

Tapi, sebenarnya... Lahan Gambut Kita tengah terancam.

Pada tahun 2019, luas lahan gambut Indonesia sebesar 13,43 juta ha, turun 1,5 juta ha dibandingkan tahun 2011 sebesar 14,93 juta ha.”

Lahan gambut seringkali dianggap sebagai lahan terbuang yang dapat dikeringkan dan dialihfungsikan. Anggapan ini telah menjadi salah satu penyebab utama degradasi dan alih fungsi lahan gambut, terutama akibat semakin terbatasnya ketersediaan lahan mineral.

Demi kepentingan pertanian dan perkebunan, lahan gambut dikeringkan secara terus menerus untuk mencegah air kembali membanjiri gambut. Siklus surutnya dan pengeringan gambut yang  terus berlangsung menjadi sumber emisi karbon yang tidak akan berhenti.

“Praktik mengeringkan satu hektar lahan gambut di wilayah tropis akan mengeluarkan rata-rata 55 metrik ton CO2 setiap tahun, setara dengan membakar lebih dari 6.000 galon bensin”

Memangnya, apa dampak dari terancamnya lahan gambut ? siap-siap saja menghadapi berbagai bencana, mulai dari banjir, kebakaran, kabut asap, pencemaran tanah, hingga perubahan iklim.

Banjir, terjadi jika fungsi hidrologis gambut hilang adalah terjadinya banjir di atas lahan gambut atau daerah aliran sungai yang dapat mengancam keberlangsungan pertanian masyarakat sekitar.

Kebakaran, pengeringan gambut berdampak pada tingkat kebakaran yang tinggi. Fungsi penyerapan air pada gambut yang sangat kering akan sulit dilakukan karena dalam keadaan tersebut, gambut sudah tidak berfungsi sebagai tanah dan sifatnya sama seperti kayu kering.

Kabut Asap, api yang menjalar ke bawah permukaan tanah menyebabkan pembakaran yang tidak menyala sehingga hanya asap putih yang  tampak di atas permukaan dan menyebabkan kegiatan pemadaman kerap sulit dilakukan serta menimbulkan masalah Kesehatan bagi masyarakat sekitarnya.

Pencemaran Tanah, Pirit adalah mineral tanah yang sering ditemukan di lahan rawa dan akan teroksidasi menjadi senyawa beracun dengan kandungan besi dan alumunium apabila bertemu dengan udara (oksigen).

Terganggunya Aktivitas, Kerusakan lahan gambut menyebabkan dampak yang nyata seperti kebakaran, banjir, dan pencemaran tanah. Namun, lebih jauh lagi, pengaruh negatif kejadian-kejadian tersebut merambat pada kehidupan masyarakat.

Mempercepat Laju Perubahan Iklim, tersebarnya asap dan emisi gas Karbondioksida dan gas-gas lain ke udara juga akan berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim.

Hilangnya Keanekaragaman Hayati, Kerusakan lahan gambut menyebabkan dampak besar bagi ekologi. Rusaknya ekosistem gambut, perlahan akan mempersempit ruang hidup satwa, punahnya tanaman-tanaman endemic gambut tropis, dan imbasnya justru akan berujung pada kehidupan masyarakat.

Indonesia Darurat Restorasi Gambut

Menjajaki fakta degradasi lahan gambut di Indonesia, maka restorasi gambut sebagai upaya mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan sejahterakan masyarakat sangat dibutuhkan. Selain itu, Kita perlu mendorong pemerintah agar serius berkomitmen melindungi dan mengelola lahan gambut yang lestari.

Sejauh ini, terdapat dua instrumen kebijakan dalam melindungi lahan gambut. Pertama, Peraturan Pemerintah (PP) No.57 tahun 2016 jo PP No.71 tahun 2014 mengenai Perlindungan Total pada Hutan Alam, Lahan Gambut, dan Daerah Pesisir. Kedua, Instruksi Presiden (Inpres) No. 5 tahun 2019 yaitu penghentian Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut.

17 Agustus, Momentum untuk Berkontribusi Melestarikan Lahan Gambut

Kita terkadang tidak menyadari bahwa tangan-tangan kecil ini dapat berkontribusi nyata melestarikan lahan gambut. Terlebih, Bulan Agustus ini  merupakan momentum yang tepat merayakan kemerdekaan sekaligus turut serta menjaga keseimbangan alam.

Memangnya apa kontribusi yang dapat Kita lakukan ?

Banyak. Mulai dari ikut serta menyebarkan awareness tentang pentingnya lahan gambut melalui berbagai platform digital, terus konsisten menyuarakan isu perlindungan lahan gambut. Kita juga dapat berada di garda terdepan mendorong komitmen pemerintah agar serius dalam pengelolaan dan perlindungan lahan gambut.

Sebagai penutup, Kita perlu menyadari bahwa lahan gambut merupakan salah satu kekayaan luar biasa milik bumi pertiwi. Butuh waktu ribuan tahun untuk membentuk gambut, namun hanya sesaat untuk merusaknya. Mari ambil bagian, mari berkontribusi dalam pelestarian lingkungan.