Manusia Tak Didesain untuk Bahagia, Bukti Tuhan Benar-benar Adil

Sebagai seorang milenial, bahagia adalah tujuan hidup bagi saya (no debat). Enggak papa deh punya rumah sederhana asalkan bahagia. Enggak papa kalau toh tidak bisa sering-sering liburan fancy ala selebgram, staycation aja cukup yang penting bahagia. Hingga enggak papa kalau harus membangun bisnis kecil-kecilan di kota kelahiran alih-alih kerja di perusahaan keren Ibu Kota, lagi-lagi asalkan bahagia. 

Saya kira dengan menyederhanakan target hidup akan berkorelasi positif dengan perasaan bahagia dalam diri. Ternyata, konsep bahagia sangatlah kompleks dan dapat dikatakan abstrak. Sering ngobrol dengan berbagai macam manusia membawa saya juga menyadari hal lainnya, bahwa pencapaian hidup, kesuksesan, dan kadar materi seseorang juga tidak lantas menentukan seberapa sering dirinya merasakan bahagia. 

Konon katanya, seorang Khalifah Cordoba pada abad kesepuluh, Abd-Al-Rahman III, yang merupakan salah satu orang paling kuat dan memiliki kenikmatan apapun, ternyata sangat jarang merasa benar-benar bahagia. Bahkan, menjelang akhir hidupnya, dia mencoba untuk menghitung berapa hari bahagia dalam hidupnya. Hasilnya, hanya 14 hari dimana dia benar-benar merasa bahagia.

Lagi-lagi, terbukti bahwa terpenuhinya kebutuhan materi dan biologis seseorang tidak menjamin kebahagiaan hidupnya. Ternyata, Tuhan benar-benar adil ya ? 

Kita boleh saja makan nasi dengan kualitas berbeda, tidur di ranjang yang beda empuknya, dan naik kendaraan dengan kadar kenyamanan berkebalikan. Namun, kemungkinan untuk merasa bahagia atau tidak bahagia nyatanya sama saja. 

Pemikiran mengenai konsep kebahagiaan dari kaca mata ilmiah kemudian diulas oleh sebuah Artikel di The Conversation pada pertengahan Juli lalu. Rafael Euba, seorang Dosen Psikiatri Senior di King's College London menjelaskan bahwa konsep mengejar kebahagiaan ini merupakan konsep yang berasal dari budaya Amerika. Konsep tersebut kemudian diekspor ke seluruh dunia melalui budaya populer.

Sah-sah saja, bagi negara liberal seperti Amerika "mengejar kebahagiaan" merupakan hak setiap orang. Namun, ternyata merasakan bahagia secara berkelanjutan bertentangan dengan naluri alamiah manusia. Usut punya usut, manusia tidak dirancang untuk bahagia pun juga merasa puas tak berkesudahan. Sejarah peradaban manusia membentuk kita untuk bertahan hidup dan berkembang biak, seperti makhluk hidup lainnya di muka bumi. 

Berkenaan dengan hal tersebut, puas, bahagia dan merasa aman bertentangan dengan naluri alamiah manusia karena akan menurunkan kewaspadaan terhadap kemungkinan ancaman di masa depan. Temuan ini jelas membawa kita pada diskusi-diskusi panjang dan perdebatan berbagai kalangan, baik seniman, peneliti, ekonom dan tidak menutup kemungkinan pemerintah. 

Terlepas dari hal di atas, sebagai seorang awam saya mencoba bijaksana mengimplikasikan fakta ini dalam kehidupan sehari-hari. 

Pertama, fakta bahwa manusia tidak dirancang untuk merasa bahagia secara kontinyu justru seharusnya mampu membawa ketenangan dalam diri. Bahwa kemungkinan besar kebiasaan overthinking, cemas akan masa depan, dan rasa takut akan menjadi pribadi yang gagal secara naluriah wajar menghinggapi diri ini sebagai manusia yang dapat dikatakan sebuah "produk" evolusi. 

Kedua, jika ternyata terpenuhinya kebutuhan materi dan biologis seseorang tidak menjamin kebahagiaan hidupnya. Bukankan ini sebuah berita yang seharusnya membahagiakan ? karena baik si kaya maupun si miskin, si pintar maupun si bodoh, dan si good looking maupun yang less good looking memiliki peluang yang sama untuk merasa bahagia atau tidak bahagia. Hal ini kembali menjustifikasi bahwa Tuhan memang benar-benar adil. 

Mari bersyukur. 


No comments

Post a Comment