Aksi Nyata Anak Muda Atasi Perubahan Iklim Melalui 3F (Food, Fuel, Fashion)

Dokumen Pribadi
Seorang kawan berseloroh, "biar ku tebak, teknisi neraka sedang bekerja keras saat ini" katanya dalam sebuah perbincangan kami di kedai kopi pinggir jalan. Kawanku itu memang selalu saja memiliki kata-kata ajaib untuk dikeluarkan dari mulutnya. Kemudian dengan santai aku bertanya, "memangnya kenapa, ada-ada saja kamu ini". Sambil berdiri dan begitu antusias dia menjawab keras hingga terdengar oleh seluruh pengunjung kedai kopi lainnya, "neraka lagi bocor, nih buktinya bumi panas banget beberapa hari ini". Aku dan beberapa orang lainnya tertawa renyah menyambut jawabannya.

Tanpa sadar, aku menertawakan hal yang sebetulnya tidak lucu sama sekali...

Kendati dibungkus canda tawa, aku memvalidasi ucapan kawanku. Bumi kian memanas dari waktu ke waktu. Buktinya, jika dulu aku cukup menyiram tanaman dua hari sekali, maka kini sudah tidak berlaku. Panasnya suhu bumi memaksa "Ibu rumah tangga" sepertiku untuk rajin menyiram tanaman di halaman rumah setiap hari. Jika tidak, harus siap melihat tanaman loyo di hari berikutnya karena kepanasan dan dehidrasi. 

Well, awalnya aku menganggap fenomena mikro yang aku alami ini tidak berarti apa-apa. Sebagai awam, ku kira kian panasnya suhu bumi tidak akan berdampak banyak apalagi sampai mengancam kehidupan manusia. Paling-paling orang jadi lebih gampang keringetan, pedagang es teh pinggir jalan makin laris, dan orang berbondong-bondong beli kipas angin sebagai dampak lonjakan suhu bumi. 

Kemudian aku menyadari bahwa pemikiran di atas sangatlah bodoh.  Aku lupa bahwa manusia adalah bagian dari bumi, bagian dari semesta. Tentunya segala perubahan kondisi bumi sekecil apapun akan memberikan konsekuensi bagi kehidupan manusia.

Naiknya suhu bumi merupakan salah satu indikator yang nyata akan perubahan iklim. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendefinisikan perubahan iklim sebagai perubahan signifikan iklim, suhu udara, dan curah hujan yang terjadi dalam kurun waktu tertentu (dasawarsa sampai jutaan tahun) 

Memangnya seberapa parah perubahan iklim saat ini ? Menurut laporan IPCC (Intergovernmental Panel Climate Change), yang merupakan panel ilmiah dari seluruh ilmuwan di dunia dengan tujuan mengevaluasi risiko perubahan iklim akibat aktivitas manusia, terdapat enam penilaian yang mengukur perubahan iklim. 

Data menyebutkan konsentrasi gas karbondioksida (CO2) tertinggi selama dua juta tahun terakhir, kenaikan permukaan air laut dengan laju tercepat selama tiga ribu tahun terakhir, penurunan es pada laut arctic pada level terendah selama seribu tahun terakhir, dan cairnya lapisan es (glacier) dalam dua ribu tahun terakhir. Jujur, sederet data di atas jelas merupakan indikator yang nyata bahwa perubahan iklim sudah naik level, dan ini adalah keadaan yang sangat-sangat darurat. Bukan begitu ?

Bumi Kian Panas, Climate Anxiety Mengancam Kita

"Climate change is causing distress, anger, and other negative emotions in children and young people worldwide (16-25 years old)"- IPCC

Lho... memangnya apa hubungan antara memanasnya bumi dengan perasaan cemas  ? 

Awalnya aku juga sangsi saat mengetahui bahwa emosi negatif yang kerap menghinggapi perasaan manusia modern utamanya anak muda saat ini berkorelasi dengan kondisi bumi yang kian panas. 

Sebuah survei yang melibatkan 10.000 remaja membuktikan, secara ilmiah perasaan dan emosi negatif mengenai perubahan iklim dapat menyebabkan distress psikologi. Sebanyak 27% responden mengaku sangat cemas (extremely worried) akan perubahan iklim dan hanya 5% yang sama sekali tidak mengkhawatirkan perubahan iklim. Lebih lanjut, survei juga menemukan bahwa perubahan iklim membuat anak-anak muda sebanyak 68% merasa sedih dan takut, 58% merasa marah, serta 51% merasa bersalah. 

Hal ini terlihat sepele, namun jika dikaji lebih jauh ancaman emosi negatif anak-anak muda akibat perubahan iklim jelas akan mempengaruhi produktivitas dan pengembangan diri mereka di berbagai bidang. Anak muda yang merupakan penerus masa depan merupakan harta berharga. Maka dari itu,  Climate Anxiety adalah masalah darurat yang perlu segera diatasi, demi masa depan dan keberlanjutan umat manusia. 

Tunggu Dulu, Kenapa Perubahan Iklim Bisa Terjadi ? 

"It is indiputable that human activities are causing climate change, making extreme climate change events, including that waves, heavy rainfall. and droughts, more frequent and severe"- Adrian (2021)

Sebelum kita mencari solusi bersama untuk "menekan" suhu bumi, alangkah baiknya untuk mengidentifikasi dan mencari tahu terlebih dahulu faktor penyebab perubahan iklim. Secara sederhana, perubahan iklim terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida dan gas-gas lainnya di atmosfer bumi akibat dari aktivitas manusia. Kemudian gas-gas tersebut menyebabkan efek gas rumah kaca (GRK).

Apa saja Aktivitas Manusia yang Menyebabkan Efek Gas Rumah Kaca ? 

Menurut World Wild Fund (WWF), aktivitas manusia berupa deforestasi, pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi, serta pembangunan industri menjadi penyebab secara makro efek gas rumah kaca. Tak hanya itu, aktivitas-aktivitas sehari-hari manusia perseorangan juga berkontribusi secara mikro terhadap pemanasan bumi. Misalnya, mengendarai kendaraan bermotor menuju tempat kerja yang kita lakukan setiap hari. Bahan bakat bensin yang digunakan mengandung banyak polusi kimia termasuk karbon dioksida. 

Tak hanya itu, aktivitas lainnya seperti pembuangan sampah, penggunaan kulkas, hingga kegiatan pertanian dan peternakan juga menambah kadar gas rumah kaca di seluruh dunia. Menyedihkan ya ? Bisa jadi selama ini tanpa kita sadari, alih-alih melakukan perubahan positif sebaliknya kita justru tanpa sadar berkontribusi terhadap perubahan iklim setiap hari, setiap jam, setiap menit. 

3F (Food, Fuel, & Fashion) : Aksi Nyata Anak Muda Atasi Perubahan Iklim 

Kendati perubahan iklim sudah naik ke level selanjutnya, berita baiknya kita masih punya kesempatan terakhir untuk memperbaiki keadaan. Kita masih punya waktu untuk menurunkan suhu bumi 1,5 derajat Celcius pada 2100 mendatang. Dengan catatan, kita perlu berlari bersama melakukan aksi agresif dimulai hari, aksi yang digerakkan oleh anak muda melalui gerakan 3F (Food, Fuel, & Fashion). 

1.  Food : Bijak dalam Mengkonsumsi Produk Pertanian dan Peternakan

Dokumentasi Pribadi

Dilansir dari Lini Sehat, mengurangi sisa makanan atau food waste bisa menjadi cara mudah untuk mengurangi jejak karbon dari makanan. Sisa makanan yang dibuang menghasilkan gas metana saat tertimbun di tanah yang turut berkontribusi pada pemanasan global. Pembuangan makanan atau food waste secara global menghasilkan sekitar 4,4 giga ton karbondikosida (CO2) atau 8% dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia. 

Tak hanya itu, mengkonsumsi makanan lokal juga dapat mengurangi jejak karbon. Makanan lokal akan menghasilkan lebih sedikit jejak karbon karena perjalanan dari produsen ke konsumen yang lebih dekat. Berbeda dengan bahan makanan yang diperoleh dari luar daerah atau bahkan luar negeri yang tentu membutuhkan lebih banyak bahan bakar transportasi dalam pendistribusiannya. Nah, transportasi yang digunakan ini tentunya menghasilkan karbon. Oleh karena itu, makanan lokal menghasilkan lebih sedikit karbon karena jarak tempuhnya yang lebih dekat.

2. Fuel : Hemat Energi Bahan Bakar Fosil & Terapkan Green Commute

Dokumen Pribadi

Anak muda yang enerjik dapat berkontribusi mengurangi jejak karbon dengan menerapkan green commute. Misalnya dengan berjalan kaki atau naik sepeda untuk bepergian jarak dekat (kurang dari 2 km). Selain itu, Kita dapat menghemat penggunaan bahan bakar fosil dengan menggunakan alternatif kendaraan umum serta memilih kendaraan pribadi yang hemat bahan bakar. Last but not least, memilih BBM dengan oktan yang sesuai dengan mesin kendaraan agar lebih hemat energi dan emisi karbonnya terkendali. Mudah dan menyenangkan bukan ?

3. Fashion : Tren Thrifting Pilihan Keren dan Solutif Anak Muda 

Dokumen Pribadi
Hari gini siapa yang tidak mengenal tren thrifting yang sedang marak di kalangan muda-mudi ? Bagi yang doyan Thrift Shopping, berbanggalah karena telah berkontribusi mengurangi jejak karbon. Kok bisa ? Dilansir dari FimelaIndustri fashion bukan satu-satunya penyumbang gas emisi, tetapi mereka menyumbang setidaknya 10% dari emisi karbon dunia. Pabrik-pabrik tekstil di seluruh dunia memproduksi pakaian dengan kecepatan tinggi, sehingga peningkatan polusi udara dan emisi gas karbon yang terbuang akan sangat besar. Sehingga, memilih untuk berbelanja dengan metode thrifting adalah salah satu upaya dalam mengurangi penyalahgunaan lingkungan karena membantu mengurangi produksi pakaian.

Tak hanya itu Thrift Shopping, terutama untuk pakaian-pakaian bekas membantu mengurangi sampah tekstil yang terbuang karena artinya akan ada pemakaian baju-baju tak terpakai atau baju bekas tersebut secara berkelanjutan. 

Aku percaya, jika seluruh anak muda bergandeng tangan menerapkan dan menyuarakan gerakan 3F (Food, Fuel, & Fashion) di atas, harapan akan 1,5 derajat celcius pada 2100 mendatang kemungkinan besar akan tercapai. Semua ini demi bumi dan keberlanjutan hidup anak cucu kita nantinya.

Bagaimana tertarik turut serta ? Mari ambil bagian bersamaku !


No comments

Post a Comment