Minyak Jelantah, Dulu dibuang Kini disayang

Dokumen Pribadi

"Masak apa ya hari ini?" 

Pertanyaan tersebut sudah jadi makanan sehari-hari bersamaan dengan membuka tirai jendela di pagi hari. Sebagai Ibu rumah tangga dadakan, yang baru terjun ke tugas domestik setelah kepergian Ibu pada 2018 silam, Aku belum piawai menentukan kreasi menu harian untuk perut bapak dan adik. Beruntungnya Aku hidup di era teknologi, sehingga selalu ada pertolongan google yang siap membantu kapan saja. 

Membaca rekomendasi dari pencarian internet Aku menemukan beragam inspirasi, mulai dari tumis kangkung, oseng tahu tempe hingga ayam goreng. Aku kemudian menyadari bahwa menu harian ala emak-emak Indonesia memang tak pernah bisa lepas dari goreng-gorengan. 

Dokumen Pribadi

Bahkan jika terpaksa harus membeli sarapan atau makan malam di luar rumah, pilihannya tetap sama, mulai dari nasi goreng, pecel lele, lalapan ayam goreng, soto ayam, atau bakso. Semua menu tersebut juga tidak luput menggunakan minyak goreng.  

Dokumen Pribadi

Senada dengan hal tersebut, data Traction Energy mencatat konsumsi minyak goreng di Indonesia cukup fantastis. Misalnya, sebanyak 13 juta ton atau 16,2 juta kilo liter pada tahun 2019 lalu. Meski enggan, harus kita akui bahwa budaya mengonsumsi makanan berminyak sudah mendarah daging. Bukan begitu ?

Minyak Jelantah : Dilema Ibu Rumah Tangga 

Terlepas dari isu kesehatan, memasak makanan berminyak sehari-hari pasti menyisakan limbah berupa minyak sisa penggorengan atau yang familiar dengan sebutan minyak jelantah. Biasanya setiap rumah memiliki wadah khusus untuk menampung minyak jelantah.

Sayangnya, volume yang terus bertambah tiap hari menciptakan dilema tersendiri, harus dibuang kemana minyak sisa penggorengan tersebut. Dibuang ke sungai jelas bukanlah pilihan yang bijaksana, digunakan kembali dapat membahayakan kesehatan, sementara disimpan terus-terusan juga tidak mungkin dilakukan. 

Dokumen Pribadi

Kira-kira begitulah gambaran hubungan antara Ibu rumah tangga dan minyak jelantah, sangat dilematis bukan ?

Sebuah Online Gathering bulanan Eco Blogger Squad bersama Madani Berkelanjutan dan Traction Energy Asia membawaku menemukan solusi atas dilema yang selama ini diderita. Well, ternyata minyak jelantah yang terbuang, ternyata harus kita sayang-sayang karena ternyata memiliki manfaat yang menjanjikan. Bagaimana ceritanya, penasaran kan ? 

Minyak goreng bekas alias minyak jelantah (used cooking oil/UCO) berpeluang untuk diolah menjadi biodiesel yang dapat digunakan menjadi subtitusi minyak solar bagi mesin diesel untuk sektor transportasi maupun industri. 

Dokumen Pribadi

Usut punya usut, pemanfataan minyak jelantah untuk biodiesel bukanlah hal yang baru di dunia. Faktanya, beberapa negara lain sudah memanfaatkan minyak jelantah untuk energi yang lebih ramah lingkungan. Nah di Indonesia sendiri, Institur Pertanian Bogor telah memanfaatkan energi yang diolah dari minyak jelantah, keren banget ya ?

Secara sederhana, siklus pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel diawali dengan proses pemurnian, penyaringan, kemudian proses mencampur hasil filtrasi dengan arang aktif lalu dinetralkan. Setelah itu dilakukan transferivikasi yang menghasilkan biodiesel kasar, kemudian kembali dilakukan proses pemurnian untuk menghasilkan biodiesel. Serangkaian proses tersebut menggunakan prinsip zero process.

Potensi Manis Biodiesel dari Minyak Jelantah di Masa Depan

Meminjam data Traction Energy, pemanfaatan minyak jelantah guna biodiesel di Indonesia didukung oleh ketersediaan bahan baku. Data mencatat, sebanyak 3 juta kiloliter minyak jelantah dikumpulkan di Indonesia pada tahun 2019, dimana sebanyak 1,6 juta kilo liter berasal dari rumah tangga perkotaan besar. Hal ini mengindikasikan biodiesel dari minyak jelantah memiliki potensi yang manis di masa depan.  

Dilansir dari laman resmi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), jika minyak jelantah ini dikelola dengan baik dapat memenuhi 32% kebutuhan biodiesel nasional. Bahkan dikatakan lebih jauh, biodiesel dari minyak jelantah memiliki peluang untuk dipasarkan ke luar negeri. Selain itu, proses produksi biodiesel ini lebih hemat 35 % dibandingkan dengan biodisesel dari CPO (crude palm oil) serta mengurangi 91,7% emisi CO2 dibanding solar. Wah luar biasa ya !

Dokumen Pribadi

Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel merupakan jawaban dinanti-nanti. Solusi ini tidak hanya mengikis dilema ibu rumah tangga, namun sekaligus sumber pendapatan bagi masyarakat secara luas. Ya, selain berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan namun juga bisa cuan. Luar biasa ya ?

Aku kemudian menemukan sebuah kisah menarik nan inspiratif dari Tanah Borneo. Dilansir laman Kompas, Sardji Sarwan, seorang warga asal Tarakan Timur berhasil meraup omzet hingga 2 juta per hari dengan mengolah  mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel. Aduh bikin iri ya...

Di balik segudang kebaikan biodiesel dari Minyak jelantah, sayangnya Traction Energy Asia mencatat pemanfaatan minyak jelantah untuk biodiesel masih belum optimal. Dari sekitar 3 juta kiloliter minyak jelantah, hanya kurang dari 570 kiloliter yang dimanfaatkan sebagai biodiesel maupun untuk kebutuhan lainnya. Pemanfaatan minyak goreng bekas masih didominasi oleh penggunaan untuk tujuan daur ulang sebesar 1,95 juta ton atau setara dengan 2,43 juta kiloliter. Sedangkan, untuk ekspor sebanyak 148,38 ribu ton atau 184,09 ribu kiloliter. 

Tantangan dan Program Implementasi Biodiesel Berbasis Minyak Jelantah 

Dalam sebuah Webinar yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), diutarakan bahwa terdapat beberapa tantangan yang dihadapi dalam pemanfaatan biodiesel berbasis minyak jelantah diantaranya minyak jelantah mengandung asam lemak bebas dengan konsentrasi cukup tinggi sehingga membutuhkan katalis asam homogen dan diperlukan pengembangan teknologi yang efisien dan terjangkau. 

Lebih jauh, dijelaskan bahwa diperlukan pula pemetaan potensi bahan baku dan mekanisme pengumpulan dari restoran, hotel dan rumah tangga. Juga perlu penentuan zonapengembangan program karena sebaran lokasi dimana sumber yang tidak simetris dengan lokasi pengolahan biodiesel. Tantangan dan yang menjadi isu utama yaitu dibutuhkan mekanisme harga beli dan belum ada insentif untuk pengembangan biodiesel berbasis minyak jelantah karena saat ini berfokus insentif berbasis minyak sawit. Saat ini baru ada dua badan usaha biodiesel berbasis minyak jelantah, yaitu Alpha Global Cinergy dan PT. Bali Hijau Biodiesel.

Implementasi biodiesel berbasis minyak jelantah di Indonesia dapat dilakukan dengan beberapa program, diantaranya:

- Program mandatori biodiesel

Kontribusi biodiesel berbasis minyak jelantah sebesar 2.765 kL dari 2014-2018. Adapun produksi kemudian berhenti karena faktor keterbatasan bahan baku dan tingginya biaya produksi.

- Program pengembangan di Bali

PT. Bali Hijau Biodiesel telah mengembangkan biodiesel berbasis minyak jelantah yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar bus sekolah dan genset di beberapa hotel/resort di Bali. Kapasitas terpasang 360 liter/tahun.

- Program pengembangan di Kalimantan

Kelompok swadaya masyarakat di Tarakan Timur berhasil memproduksi biodiesel berbasis minyak jelantah dengan rat-rata produksi 180 L per hari dan dijual dengan harga Rp.11. 000/liter. Dari produksi ini mendapat keuntungan 2juta/hari.

Apa Kontribusi yang dapat Kita lakukan ? 

Well, tidak dapat dipungkiri bahwa  pengumpulan use cooking oil dari sektor rumah tangga akan sangat susah dilakukan, untuk itu peran serta kita sangat dibutuhkan. 

Kita dapat mengirimkan minyak jelantah  ke posko-posko penampungan terdekat untuk didaur ulang. Namun sebelum dikirim, Kita harus melakukan aksi 3T, yakni Tiris, Tuang, dan Tampung. Minyak jelantah yang dikirimkan sudah dalam kondisi bersih dari sisa-sisa bahan makanan. 

Mudah mudah ? Mari berkontribusi !









No comments

Post a Comment